Siti, penjual kue keliling, sedang beristirahat di selasar gedung A Fakultas Ilmu Budaya pada tanggal 29 September 2025. Fotografer: Naufal Rizqi

Puluhan mahasiswa bertoga menyelimuti lapangan rektorat Sabtu (27/9) siang. Senyum dan tawa terlepas di setiap kerumunan: mereka tengah merayakan wisuda. Namun jauh di luar hingar-bingar itu, seorang perempuan tua masih setia bersama kotak jajanannya dan berkeliling untuk menjemput rezeki.

Selasar perpustakaan—depan kantin Halalan Toyyiban—lenggang kala itu. Di atas meja di ujung deret, ada satu kotak kardus berisi beberapa botol air mineral. Dengan langkah tertatih, seorang perempuan paruh baya menghampiri meja itu. “Karena saya punya tanggungan [wawancara], akhirnya saya ke sini,” ujarnya ramah. Di sampingnya, ia letakkan kotak jajanan yang telah kosong tanpa sisa. “Kue saya habis di sana, [di] Fakultas Ilmu Budaya yang gedung B.”

Siti—begitu ia memperkenalkan namanya—baru selesai berdagang siang itu. Matanya sayu dan wajahnya telah dipenuhi garis-garis keriput. Ia lantas mengulurkan sebungkus permen penyegar mulut dari tas kecilnya sebelum bercerita lebih jauh. Sesekali, Siti juga melepas masker hijaunya saat berbicara. Di balik masker itu, tampak barisan giginya yang tak lagi utuh.

Siti kini telah berusia 57 tahun. Namun, usia senja tak menghalangi semangatnya untuk mencari nafkah. Alasannya, karena Siti punya prinsip: tak mau bergantung kepada orang lain selagi masih kuat untuk berusaha sendiri.  

Palugada: Makanan, Parfum, sampai Obat-obatan

Sepak terjang Siti dalam berdagang bermula sejak tahun 2005 silam. Menggunakan sepeda motor, Siti mulai berjualan dengan berkeliling di tempat asalnya, Desa Warung Dowo, Kabupaten Pasuruan. Barang dagangannya pun beraneka ragam. Mulai dari bahan pokok, parfum, hingga obat-obatan sudah khatam Siti jajakan. “Saya campur-campur loh [jualannya]. Jadi [kalau] orang cari obat, nggak [cuma] obat saja, lain-lainnya sudah ada,” ujar Siti penuh antusias.

Sebagai penjual obat, Siti berperan menjadi reseller. Kala itu, ia dibantu orang tuanya untuk mengambil obat-obatan yang akan dijajakan. Namun, melihat usia orang tua yang makin berumur, Siti menaruh iba. “Kasihan orang tua. Orang tua sudah tua [masih] harus ambil kulakan,” ucapnya. Ia pun lantas memilih berhenti berjualan obat dan berfokus pada barang dagangan yang lain. 

Keputusan Siti untuk berhenti berdagang obat sempat ditolak oleh bosnya. “Bos saya [bilang] nggak boleh, nggak boleh berhenti,” kata Siti. Tapi, rasa sayang Siti pada orang tuanya jauh lebih besar. “Uang bisa saya cari, keselamatan orang tua [lebih] penting.”

Usaha Siti tak sia-sia. Seluruh hasil jerih payahnya menjelma satu buah rumah di desanya. “Habis buat [beli] rumah. Akhirnya, [saya] jualan tahu asin sama kacang-kacangan.”

Dari Kesialan Satu ke Kesialan Lain

Di tahun 2012, Siti mengundi peruntungan di Kota Malang. Bermodalkan uang dari menggadaikan sepeda motor, Siti menjual bermacam jajanan, seperti gorengan, pisang coklat, dan sari kedelai. Metode baru dalam berjualan turut ia coba. Tak lagi berkeliling, Siti kini meletakkan barang dagangannya di sejumlah titik di Fakultas Teknik Universitas Brawijaya dan berpasrah pada kejujuran konsumen untuk membayar pada kotak yang telah ia sediakan. Dengan cara yang sama, Siti juga menjajakan nasi bungkus, air mineral, serta donat di area Teknik Mesin.

Nahas, nasib sial menimpa Siti. Belum genap setahun berjualan di UB, satu kotak donat yang ia letakkan di area Teknik Mesin raib begitu saja. Saat itu, Siti yakin donatnya tak benar-benar hilang, melainkan disita oleh satpam yang bertugas. Berdasarkan keyakinan itu, Siti lantas mendatangi satpam yang tengah berjaga. “Pak, maaf ya, pak. Kemarin kue saya hilang. Kue itu jangan dibuang ya, pak, dimakan saja,” ujar Siti mengulangi perkataannya tiga belas tahun yang lalu.

Bukan tanpa alasan Siti bilang begitu. Ketimbang soal rugi, ia jauh merasa sayang bila donat itu dibuang begitu saja. “Mubazir,” kata Siti. 

Tak cuma donat, lima bungkus nasi yang Siti jual juga pernah hilang di tempat yang sama. Namun, sama seperti saat donat-donatnya hilang, Siti hanya merelakannya saja. Siti tak mau masalahnya jadi ramai dan berlarut-larut. “Saya nggak ramai-ramai [protes]. Buat apa ramai-ramai? [Anggap saja] berarti bukan rezeki kita,” ujarnya. Usai dua kejadian itu, Siti kembali berjualan dengan cara berkeliling. Baginya, bila ia berkeliling, ia tak mungkin kehilangan dagangan sehingga tak perlu berurusan dengan satpam. “Kayaknya rezeki kita keliling terus sampe sekarang,” tutur Siti pasrah.

Sayang, kesialan tak hanya datang sekali. Di peralihan tahun 2013 dan 2014, pedagang kue itu kembali ditimpa musibah. Ia mengalami kecelakaan saat mengendarai sepeda motor seusai berjualan di UB. Kecelakaan itu membuatnya harus menjalani operasi di kaki kirinya. Selepas sembuh dari operasi, kondisi kaki Siti tak sebaik semula. Ia tak boleh duduk terlalu lama atau kakinya akan menjadi kaku dan pincang. Alhasil, Siti tak lagi berkeliling sejauh sebelumnya. 

Setelah bertahun-tahun menjajakan makanan di UB, pandemi korona memaksa Siti kembali ke kampung halamannya. Ia lantas memilih menjual tahu bakso, jemblem, dan klanting bikinannya di tepi pantai di desa Mayangan serta di pasar desa Warung Dowo. Usai pandemi mereda, penjaja tekun tersebut masih berjualan makanan buatannya. Namun, ternyata Siti kewalahan. Memasak sendiri membutuhkan waktu yang lama dan tenaga yang tak sedikit. Imbasnya, Siti kembali mengalami kecelakaan saat mengendarai sepeda motor karena mengantuk dan kelelahan. 

Siti baru benar-benar kembali berdagang di UB saat perkuliahan tatap muka telah dilakukan. Supaya tak lagi kelelahan, kini Siti juga dibantu oleh anak-anaknya untuk menyiapkan barang dagangan.

Mumpung Saya Masih Kuat

Anak-anak. Alasan Siti bertahun-tahun berdagang tak sekadar untuk membantu orang tuanya yang berusia senja, tetapi juga mencari nafkah untuk menyekolahkan ketiga anaknya: Zuber, Nur, dan Sholeh. “Yang pertama kuliah di UB, yang kedua kuliah di Widyagama, yang ketiga mondok sama sekolah,” kisah Siti penuh rasa bangga. Kata Siti, Zuber juga pernah mendapatkan medali emas PIMNAS semasa berkuliah dulu.

Tak cuma itu, Zuber jugalah yang memberikan ide kepada Siti untuk berjualan di UB. Mahasiswa Antropologi UB angkatan 2011 itu jugalah yang memperkenalkan Siti dengan sales air mineral. “Anak saya itu menemukan salesnya air Club yang biasanya ngirim di sini [kantin Halalan Toyyiban]. Akhirnya saya dikasih nomornya,” kata Siti. Tak lama setelah itu, barulah Siti menitipkan air mineral di area Teknik Mesin.

Kini, semua anak Siti telah lulus dan Siti telah menjadi nenek. Namun, ia tetap bersikeras untuk mandiri dalam mencari nafkah. Katanya, “Jadi orang jangan selalu menadah orang lain, jangan menggantungkan orang lain. Mumpung masih kuat, saya berusaha [sendiri].”

Pagi-pagi Buta sampai Larut-larut Malam

Hari-hari Siti dimulai sejak subuh. “[Mulai] aktivitas itu kadang-kadang jam empat [pagi], kadang-kadang jam setengah empat [pagi], kadang-kadang jam tiga [pagi].” Di waktu itu, anak-anak dan keponakannya akan membantu untuk menyiapkan barang dagangan sementara Siti dilarang ikut memasak. Siti lantas pergi ke musala dekat rumahnya untuk menunaikan salat subuh berjamaah. “Di musala itu wiridan-nya panjang. Jadi, saya jam lima keluar dari musala,” ucap Siti.

Pukul 05.20 Siti berangkat dengan berjalan kaki dari rumahnya menuju salah satu lampu merah di desa Warung Dowo. Di situlah Siti setia menunggu mobil bak terbuka langganannya yang akan tiba persis pukul 05.35. “Lebih baik menunggu daripada ketinggalan,” kata Siti. Selanjutnya, Siti akan menempuh perjalanan dari Pasuruan hingga terminal di Masjid Sabilillah, Blimbing selama satu setengah jam. Kemudian dilanjutkan perjalanan ke UB menggunakan angkot jalur ADL selama 45 menit. Sebelum pukul delapan pagi, Siti pasti sudah sampai di UB.

Rute dagang Siti selanjutnya dimulai dari Fakultas Ilmu Administrasi menuju area Teknik Mesin dan berlanjut ke fakultas-fakultas lain. “Dari Mesin ke Hukum. Dari Hukum ke FIB B, terus FIB A, Perpus, Filkom, FTP, Kopi Jaya, Ekonomi, [lalu kembali ke] Hukum.” ujar Siti menjelaskan rutenya dengan singkat. Dahulu, rute berjualan Siti melingkupi seluruh fakultas di kampus Veteran, termasuk Fakultas Pertanian, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, serta Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Namun, karena kakinya yang tak lagi prima, Siti hanya mendatangi fakultas-fakultas itu bila terpaksa sebab dagangan yang masih tersisa banyak.

Siti baru mengakhiri jualan ketika dagangannya sudah habis. Biasanya, pada pukul lima sore atau ketika langit sudah menunjukkan waktu magrib. “Saya nggak kos, jadi pulang setiap hari. Pulang jam lima. Jam lima nge-Grab, sampai flyover itu magrib,” cerita Siti. Setelahnya, Siti melanjutkan perjalanan pulang dengan mobil bak terbuka atau bis apa pun yang melintasi jalanan itu. Sekitar pukul delapan malam, Siti sampai di rumah. 

Hari-hari Siti tak cuma soal berjualan. Ia juga masih mengerjakan pekerjaan rumah tangga. “Kadang-kadang ngemong cucu, kadang-kadang cuci pakaian,” ujarnya. Ia juga aktif menghadiri pengajian rutin hari Seni, acara tahlil dan sholawat, serta ikut melayat bila ada tetangga yang meninggal dunia. Namun, ada saatnya Siti tak bisa mengikuti kegiatan-kegiatan itu karena dagangan yang belum habis. Bila sudah begitu, Siti pasti akan mengirimkan pesan singkat kepada si pemilik acara. “Saya SMS, ‘Bu, maaf ya, yang datang anak saya aja, saya nggak bisa, [karena] kue saya masih ada’,” kata Siti dengan nada penuh sesal. 

Sebab Untung Bukan Segalanya

Jadwal Siti berjualan adalah hari Senin hingga Sabtu. Kadang kala, ia juga berjualan di hari Minggu bila perayaan wisuda tengah berlangsung. Setiap makanan yang ia jajakan tersusun rapi di dalam kotak yang selalu ia bawa. “Dari depan ada dadar gulung kelapa, kelapa pisang, terus lemper, kue sus, putu ayu, dan pastel. [Di belakangnya] ada lemper, tahu bakso, risol mayo, dan sosis solo. [Di belakangnya] lagi, ada onde-onde, bolu kukus. [Di paling] belakangnya ada martabak telur, lumpia, dani donat,” sebut perempuan itu sembari menunjuk posisi setiap makanan dalam wadah dagangannya. Setiap harinya Siti mampu menjual 125 sampai 150 buah jajanan.

Namun, tak saban hari dagangan siti ludes terjual. Ada kalanya barang jualan Siti masih tersisa banyak hingga petang menjelang. Bila demikian, Siti akan mengobral dagangannya.”Kalau nggak laku, saya obral. Lima ribu [dapat] dua,” jelas Siti. Bahkan, Siti mengaku pernah memberikan dagangannya yang masih banyak secara cuma-cuma ke pondok pesantren di Kota Batu dan panti asuhan di daerah Dinoyo. “Itu sifat saya, selalu gotong royong. Jadi orang jangan tamak, jangan sampai serakah.” 

Pedagang berusia senja itu juga tak pernah memiliki target soal hasil jualannya setiap hari. “Saya nggak mau menargetkan [penghasilan], saya takut sombong. Kalau sombong kita harus mengejar,” ujarnya tegas. Meski begitu, bila seluruh dagangan Siti ludes tanpa melakukan obral, ia mampu membawa pulang uang sejumlah Rp 400.000 hingga Rp 500.000 setiap harinya. Angka itu belum termasuk ongkos pulang-pergi yang biasanya membuat Siti merogoh kocek sebesar Rp 73.000. 

Ditegur Kantin, Dirazia Satpam

Namun, jalan Siti dalam berdagang tak sepenuhnya mulus. Ia sebenarnya mengetahui soal larangan berjualan bagi para pedagang yang tak terdata. Siti bahkan juga sempat berkonflik dengan pihak kantin di UB. “Sebenarnya di sini nggak boleh [jualan], sih. Saya dulu menangis [saat] ditanyain sama kepala kantin di sini,” kata Siti mengingat apa yang pernah ia alami. Kala itu, Siti ditegur dan dilarang berjualan di dalam area kampus. “Kak maaf, ya. Anak saya masuk sekolah semuanya, anak saya butuh pendidikan. Biayanya besar,” ucap Siti mempraktikkan ulang apa yang ia katakan kepada pihak kantin waktu itu.

“Saya difoto-foto. [Kemudian] saya menangis. Akhirnya dia kasihan dan beli kue saya,” cerita Siti dengan sedikit senyum terukir di wajahnya. Tak cuma itu, Siti juga bercerita bahwa razia juga sempat dilakukan saat ia masih menjual air mineral dengan model “kantin kejujuran”.

Fotografer: Muhammad Zaki

Semua itu dibenarkan oleh Nirmawan. Koordinator keamanan dan ketertiban UB itu sedang bersama tiga petugas lain saat ditemui terpisah di Mako Suhat pada Selasa (30/9) siang lalu. Mengenakan kemeja berwarna biru kelasi, Nirmawan menyalakan rokok sebelum angkat bicara. “Itu [berjualan tanpa terdata] memang tidak boleh. Yang pertama, itu akan mengganggu kenyamanan. Kedua, [mengganggu] ketertiban,” ujar Nirmawan seraya menghembuskan asap rokok dari mulutnya. Meski begitu, ia tidak tahu persis awal mula adanya peraturan itu.

Nirmawan juga mengatakan bahwa bila peraturan ini tidak ada, maka kampus akan menjadi seperti pasar. “Kampus ada aturannya. Betul mereka mencari nafkah, tapi tidak harus di dalam kampus. di luar gerbang juga bisa.”

Di satu sisi, Allya, seorang mahasiswa yang pernah membeli dagangan Siti, tidak sedikit pun merasa terganggu. “Ibunya baik. Nggak maksa juga. Kalau misalnya kita nolak, ya udah biasa aja,” jelas Allya.

Allya juga mengagumi kegigihan Siti yang tidak terlihat lelah meski seharian mengelilingi kampus. “Selama aku lihat, nggak kelihatan capek banget. Kalau nawarin tetap ramah, keren sih,” ujar Allya penuh kagum. Namun Allya tidak memungkiri bahwa kampus pasti memiliki peraturan tersendiri. “Mau sekasihan apa pun, di sini kan lingkungan kampus. Jadi, nggak bisa dipungkiri kalau peraturan harus dipatuhi.” 

Penulis: Muhammad Zaki
Kontributor: Naufal Rizqi Hermawan
Editor: Dimas Candra Pradana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.