KERJA KERAS YANG DIBAYAR DENGAN KEKECEWAAN

Rumah kecil dan sederhana yang berada di Jalan Gajayana itu nampak sibuk. Aroma minyak goreng masih menggantung di udara, memenuhi tiap sekat dari ruang-ruang di rumah itu. Dari dalam rumah, seorang perempuan tampak sibuk menatap layar ponselnya, memastikan pesanan ojek onlinenya segera datang. Napasnya tersengal–baru saja perempuan itu menuntaskan ratusan pesanan dari pelanggannya.
Namun, usahanya menjadi vendor danusan yang telah digelutinya selama enam tahun terakhir ini tak selalu berjalan mulus. “Sudah dibuatkan, ternyata di-cancel,” ucapnya sambil tertawa miris.
Erin, begitu ia disapa, merasa bahwa berurusan dengan mahasiswa danusan tidak selalu menyenangkan. Pernah suatu kali ia harus menelan segala perasaan kecewa sekaligus menerima kerugiannya atas pesanannya yang tiba-tiba dibatalkan begitu saja tanpa kabar. Erin merasa rugi, bukan hanya secara materi tetapi juga secara fisik karena kerja keras mereka yang sia-sia.
Awal Mula Merintis
Erin memulai usaha makanan karena memiliki pengalaman bekerja di bidang F&B (Food & Beverage). Ia menjual empat macam jajanan yang diproduksi bersama dengan temannya. “Saya jual punya teman ada tahu bakso dan bakso goreng,” ucapnya sambil mengingat. Sedangkan jajanan yang diproduksi sendiri berupa risol dan piscok (pisang coklat) yang masing-masing memiliki beberapa varian. Sejak tahun 2019 hingga sekarang, Erin sudah memulai bisnis ini dengan membuka lapak di gapura dekat rumahnya. “Buka stand itu mulai dari jam dua siang sampai dagangan habis,” jelasnya.
Perempuan itu kemudian menatap langit-langit rumahnya, mencari dari sekian ingatannya bagaimana awal mula dirinya bisa menjadi vendor mahasiswa danusan. Semuanya dimulai ketika ada seorang mahasiswa FPIK yang pernah pesan di tempatnya. Mahasiswa itulah yang akhirnya menawarkan ke teman-temannya untuk pesan juga di tempat Erin. “Sejak saat itu, jadi mulai banyak mahasiswa yang pesan di saya.”
Ia mengakui bahwa menjadi vendor adalah bisnis yang menjanjikan untuknya. “Soalnya suami kerja jadi juru parkir,” ungkapnya. Upah yang terbilang cukup sedikit membuatnya ingin memiliki penghasilan lain sembari tetap bisa mengurus keluarga di rumah.
Di sisi lain, seorang perempuan dengan gelang dan cincin emas yang melingkar di tangannya tampak asyik mendengarkan lagu dengan headset. Sesekali ia tersenyum ramah, sambil melepas headsetnya dan duduk santai di kursinya. Dialah Anis, pemilik Warung Pojok Citra, warung makan yang berada di pojok jalan Kendalsari III Nomor 2 yang menjual berbagai macam lauk pauk.
Anis bercerita bahwa dulunya warung ini bukan warung makanan melainkan toko kelontong. Perubahan terjadi pada tahun 2010, saat perempuan itu memutuskan untuk mengubah usahanya menjadi warung makan. “Bisnis ini lebih menjanjikan,” ujar Anis sambil tertawa. “Karena banyak anak kos,” tambahnya.
Warung dijaga secara bergantian oleh Anis dan anaknya, dari pagi hingga siang hari. Sedangkan di sore hari, warung lauk pauk itu berganti wajah menjadi warung lalapan yang dijaga oleh karyawannya.
Mirip dengan Erin, Anis pun juga menjadi vendor danusan dari para mahasiswa. Hal ini bermula dari banyaknya mahasiswa yang datang memesan makanan. Dari situlah ia mulai dikenal dan akhirnya dipercaya menjadi vendor untuk acara-acara danusan mahasiswa. Sudah berjalan selama lima tahun ia menekuni usaha ini. Berbeda dengan Erin yang hanya menerima pesanan beberapa menu, Anis melayani hampir semua jenis pesanan–termasuk makanan berat–sesuai dengan permintaan pelanggan.
Aktivitas Malam bagi Si Pekerja Keras
Para mahasiswa danusan biasanya pesan di saat jam malam untuk kemudian diambil esok harinya. Untuk memudahkan pembuatan pesanan, Anis memiliki karyawan khusus memasak dan membuat kue sendiri. “Kue produksinya di rumah, nanti langsung dikirim.” Karyawan khusus produksi kue membuat sendiri kue di rumah mereka, lalu sekitar satu jam sebelum pengiriman, kue dikirim ke warung Pojok Citra.
Rutinitas pada malam hari ternyata juga dialami oleh Erin. Tak jauh beda dengan Anis, baginya malam telah menjadi siang, dan siang menjadi malam. “Kita rekap order jam sepuluh, jam sepuluh sampai pagi kita begadang,” ungkap Erin. Ia menetapkan pemesanan dilakukan maksimal pada pukul 9 malam, lebih dari itu, pemanasan dapat dilakukan hanya jika terdapat sisa slot. Awalnya, Erin hanya menerima maksimal 700 pesanan, tetapi dia sekarang tidak menggunakan patokan itu lagi. “Sekarang ya wis tak losno [saya bebaskan] mau pesan berapa, nanti bisa tambah karyawan,” ujarnya. Menurutnya, jumlah pesanan dapat dibuat tergantung pada kondisi fisik karyawan pada saat itu. Ia pun juga memikirkan opsi lain, yaitu menambah karyawan jika diperlukan.
Memiliki prinsip pelayanan bahwa setiap makanan yang disajikan harus sampai ke tangan pelanggan dengan keadaan masih hangat, Erin selalu mulai menggoreng pesanan setelah subuh. Dua wajan besar menyala di atas kompor besar secara bersamaan, masing-masing menampung dua puluh biji gorengan dalam sekali masak. Dengan ritme yang sudah terbentuk, ia dapat menyelesaikan ratusan pesanan secara tepat waktu.
Berkutat dengan dapur dari malam hingga pagi hari membuat perempuan itu baru bisa bernapas sejenak pada sore hari–waktu yang ia gunakan untuk menemani anaknya yang masih kecil. Jika ada karyawan yang datang untuk membantu menyelesaikan pesanan, Erin bisa mengantar si kecil berangkat ke Sekolah Dasar. Waktu istirahat pun baginya sederhana saja–sekadar menemani anaknya yang tidur siang, itu pun tak secara rutin ia lakukan, sebab dua hari sekali ia harus ke pasar untuk belanja bahan baku.
Rezeki yang Menular
Enam tahun sudah Erin menekuni bisnisnya. Dalam perjalanan itu, ia berhasil membangun kepercayaan pelanggan tetap yang terus kembali membeli padanya. Pernah suatu kali, ia menerima pesanan hingga 1.400 biji. Itu pun belum termasuk lapak kecil di dekat rumahnya yang setiap harinya bisa menjual 200 hingga 500 biji jajanan.
“Anak-anak (mahasiswa danusan) saya kasih harga grosir,” ujarnya. “Meskipun untungnya sedikit, tapi kalau jumlah pemesanan mencapai seribu biji akan sangat menguntungkan. Sebulan pendapatan kotor bisa mencapai 30 hingga 50 juta rupiah, pemasukan dari mahasiswa yang danusan sehari saja bisa mencapai 700 ribu rupiah.”
Hasil kerja keras itu ia gunakan untuk membiayai sekolah anaknya yang menyandang autisme di SLB Bhakti Luhur. “SPP-nya lima ratus ribu per bulan, sudah termasuk sama terapi,” ujar Erin. Dengan penghasilan suami yang hanya sekitar lima puluh ribu per hari dari pekerjaannya sebagai juru parkir, usaha ini menjadi penopang terbesar ekonomi keluarga.
Tak hanya untuk keluarganya sendiri, rezeki yang didapat Erin juga mengalir ke orang-orang di sekitarnya. Ia mempekerjakan tetangganya untuk membantu produksi. Sejak tak lagi membatasi jumlah pesanan, perempuan itu merasa lebih tenang ketika menerima pesanan dalam jumlah banyak karena tahu ada tangan-tangan lain yang siap membantunya. Para karyawan menerima upah harian sekitar dua hingga tiga puluh ribu rupiah.
“Gaji segitu lumayan mbak buat orang sekitar sini,” ujar Erin sambil tertawa. “Kalau mereka datang, saya jadi bisa fokus jaga anak.” Kehadiran para karyawan itu membuatnya memiliki waktu untuk menghabiskan waktu bersama sang anak dari pagi hingga sore.
Sementara itu, Anis juga memiliki kisah serupa. Ia juga membuka lapangan pekerjaan untuk tetangganya. Tak hanya ibu-ibu, tetapi ia juga membuka lapangan pekerjaan bagi bapak-bapak untuk mengantarkan pesanan dalam jumlah besar. Sedangkan untuk menjaga warung, ia bergantian dengan anaknya dan satu orang karyawan.
Pesanan yang Dibatalkan
Untuk menghindari pelanggan yang nakal, Anis menerapkan sistem pembayaran di muka (DP). Cara itu membuatnya tidak pernah mengalami kerugian atas pesanan fiktif. Meski begitu, bukan berarti usahanya bebas dari tantangan. Ada kalanya pesanan sudah selesai dibuat, tetapi mahasiswa danusan tak sempat mengambil karena kesibukan lain. “Besoknya tak jawab ‘mbak jangan gitu ya, kasihan yang bikin.’ Akhirnya diambil,” ungkapnya. Ia merasa kasihan karena kerja kerasnya dan karyawannya terasa sia-sia jika pesanan tidak diambil. Biasanya, ia akan mengirim pesan ke pelanggan untuk mengambil pesanannya.
Berbeda dengan Anis, Erin menjalankan bisnisnya dengan sistem kepercayaan. Dia tak pernah mewajibkan pelanggan membayar di awal. Hal itulah yang pernah membuatnya mengalami kerugian. “Pesannya malem, paginya sudah dibuatkan, ditunggu sampai siang gak datang,” ujar perempuan itu lesu. Waktu itu, dengan tumpukan pesanan yang tak jadi diambil, ia tetap menghubungi pelanggan dan menyampaikan kekecewaannya, sekaligus minta ganti rugi sebesar 50% dari total pesanan.
Alih-alih membuang hasil kerja kerasnya dan karyawannya, perempuan itu memutuskan untuk membagikan pesanan tersebut kepada para tetangga. “Kalau mau dijual lagi di lapak juga ga bisa, soalnya saya jualnya itu fresh, harus anget,” ia berkata.
Meski mengalami kerugian, ia lebih memilih untuk mengikhlaskan–perempuan itu tidak menuntut penuh, hanya separuh dari total pesanan yang sudah dibuat.
Penulis: Nabila Riezkha Dewi
Kontributor: Sofidhatul Khasana
Editor: Florantina Agustin
