PERKARA PERPELONCOAN PKKMB FIA UB, MABA DIIMBAU BERHATI-HATI DENGAN PERS

MALANG-KAV.10 Mahasiswa Baru (Maba) Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya (FIA UB) mendapat himbauan untuk tidak serta-merta menerima wawancara dari lembaga pers, terkait ramainya isu perpeloncoan dalam rangkaian Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB). Himbauan disampaikan oleh Mentor melalui aplikasi grup percakapan Line. Mentor dalam PKKMB FIA adalah panitia yang bertugas untuk membimbing dan mendampingi mahasiswa baru (maba) FIA.
Munculnya imbauan itu menyusul kemunculan banyak laporan di media sosial tentang kegiatan “Gama Time”, yang dinilai sejumlah maba sebagai bentuk perpeloncoan. Tagar #HapusPerploncoanMabaUB sempat ramai di platform media sosial X.
Seorang maba FIA UB, Gabriel (bukan nama sebenarnya), mengaku merasa curiga dengan himbauan tersebut. “Merasa aneh, karena hal tersebut menimbulkan kecurigaan. Kayak kenapa ketika ada yang ingin menyuarakan kebenaran [tentang rangkaian PKKMB] malah ditahan atau ditutupi?” Tuturnya dalam wawancara dengan Kavling10 pada Rabu (17/9).
Kavling10 mendapat tangkapan layar percakapan dari grup Line Maba FIA UB yang berisi imbauan dari seorang mentor. Dalam pesannya, mentor meminta maba yang dihubungi pers untuk melaporkannya.
“SIAPAPUN semisal ada yg dicontact oleh pers tolong HUBUNGI AKU YAA, untuk tindakan ini bukan kemudian untuk bertindak defensif, tetapi untuk meminimalisir narasi-narasi yang tidak sesuai dengan realita yang ada,” tulis Mentor dalam salah satu pesannya.
Dalam pesan lain, Mentor menyatakan bahwa panitia secara umum tidak merekomendasikan maba untuk diwawancarai. Tiga alasan utama yang disebutkan adalah: pertanyaan dari pers yang tidak dapat diprediksi dan berpotensi menimbulkan kesalahpahaman, jawaban maba yang berisiko diolah sehingga maknanya berbeda, serta kekhawatiran bahwa maba mudah terpancing atau terprovokasi oleh cara bertanya pers.
“Namun demikian, apabila teman-teman tetap ingin menerima wawancara, silakan saja. Kami tidak akan membatasi. Hanya saja, mohon berhati-hati dalam memberikan jawaban,” pesan Mentor tersebut, meminta maba menghindari pernyataan yang, menurut mereka, dapat digiring menjadi opini.
Meski tidak mengetahui persis siapa yang menyuruh para Mentor menyampaikan himbauan, Gabriel menduga itu berasal dari panitia yang merupakan atasan Mentor. Ia menambahkan, “Menurut saya jika memang tidak diperbolehkan untuk melakukan wawancara [dengan] pers, seharusnya panitia memberikan wadah untuk maba [agar bisa] menyuarakan pendapatnya atau [menyatakan] permohonan maaf dari pihak yang bersangkutan.”
Penulis: Mohammad Rafi Azzamy
Editor: Badra D. Ahmad
