JURNALISME DALAM ILUSI PILIHAN EPISTEMIK: BELENGGU DIKOTOMI PALSU

Setelah kita sepakat (atau setidaknya, saya telah memutuskan untuk kita) bahwa dasar keberadaan jurnalisme lebih mirip neraca keuangan daripada panggilan ilahi, mari kita periksa klaimnya yang paling berani: klaim atas Pengetahuan. Bung Ahnaf, dalam pemetaannya yang rapi, menyajikan sebuah arena gladiator intelektual. Di satu sudut, berdiri sang Objektivis Naif, seorang petarung berkilauan berlapis krom, dengan kamera alih-alih kepala, yang percaya bahwa ia dapat merekam realitas tanpa distorsi sedikit pun. Di sudut lain, meringkuk sang Relativis Absolut, seorang pujangga tragis berjubah hitam, yang berbisik bahwa semua hanyalah bayangan di dinding gua, dan setiap laporan berita tak lebih dari puisi subjektif.
Ini adalah pertarungan yang dramatis, klasik, dan sepenuhnya menyesatkan. Pertunjukan ini adalah sebuah false dichotomy, sebuah ilusi pilihan yang dirancang untuk membuat kita berpikir bahwa satu-satunya alternatif dari kenaifan absolut adalah keputusasaan absolut. Realitas epistemik di sebuah ruang redaksi jauh lebih kotor, lebih kacau, dan jauh lebih menarik daripada duel dua dimensi ini. Mari kita temui kedua petarung karikatural ini dan tunjukkan mengapa mereka tidak akan bertahan bahkan satu ronde pun di dunia nyata.
Bagian I: Autopsi Sang Jurnalis-Robot dan Mitos Cermin Sempurna
Sang Objektivis Naif adalah cita-cita yang indah. Ia adalah jurnalis sebagai mesin—sebuah cermin sempurna yang memantulkan dunia persis sebagaimana adanya. Ia tidak memiliki latar belakang, tidak punya emosi, tidak punya tagihan cicilan, tidak punya tim sepak bola favorit, dan tidak punya opini tentang nanas di atas pizza. Tugasnya adalah menyerap data mentah dari suatu peristiwa dan mentransmisikannya secara murni ke dalam kesadaran publik. Ini adalah idealisme yang begitu ekstrem, hingga ia menjadi lucu.
Kenyataannya, impian tentang jurnalis-robot ini dihancurkan setiap hari oleh apa yang bisa kita sebut sebagai “Empat Penunggang Kuda Apokalips Ruang Redaksi”. Mereka adalah kekuatan-kekuatan duniawi yang mengubah pencarian kebenaran menjadi negosiasi yang penuh kompromi.
Penunggang Kuda #1: Tiran Bernama Tenggat Waktu (The Tyrant Named Deadline)
Di dunia akademis, kebenaran adalah sesuatu yang dicari tanpa batas waktu. Di dunia jurnalisme, kebenaran adalah apa pun yang bisa Anda verifikasi dan tulis sebelum jam 5 sore. Tenggat waktu adalah tiran yang paling kejam. Ia tidak peduli pada nuansa. Ia menuntut kesederhanaan. Di bawah tekanannya, seorang jurnalis tidak punya kemewahan untuk mewawancarai dua puluh narasumber; ia akan mewawancarai tiga narasumber pertama yang mengangkat telepon. Ia tidak bisa membaca laporan setebal 500 halaman; ia akan membaca ringkasan eksekutifnya. Slogan tak terucapkan di setiap ruang redaksi bukanlah “Kebenaran akan membebaskanmu,” melainkan “Cukup baik untuk naik cetak.” Kebenaran absolut menjadi kemewahan yang tidak terjangkau; kebenaran yang “memadai” menjadi standar operasional.
Penungang Kuda #2: Penjara Bernama Jumlah Kata (The Prison Named Word Count)
Bayangkan Anda diminta untuk menjelaskan teori relativitas umum Einstein, termasuk semua implikasi filosofisnya, dalam 280 karakter. Itulah yang dihadapi jurnalis setiap hari. Sebuah konflik geopolitik yang telah berlangsung selama berabad-abad harus diringkas dalam 700 kata. Sebuah skandal keuangan yang melibatkan instrumen derivatif yang rumit harus dijelaskan dalam segmen TV berdurasi 90 detik. Dalam proses kompresi yang brutal ini, nuansa adalah korban pertama. Kompleksitas dipenggal. Ambiguitas dihaluskan. Apa yang tersisa bukanlah kebenaran dalam kekayaannya yang berantakan, melainkan versi mini yang sudah disanitasi, mudah dicerna, dan hampir selalu menyesatkan. Jurnalisme tidak memberi kita realitas; ia memberi kita nugget realitas.
Penunggang Kuda #3: Bisikan Sang Pemilik (The Owner’s Whisper)
Objektivitas naif mengasumsikan jurnalis sebagai agen independen. Ini adalah fantasi yang paling menggelikan. Setiap jurnalis bekerja dalam sebuah institusi dengan kepentingan, ideologi, dan—yang terpenting—pemilik. Bias seringkali tidak datang dalam bentuk memo dari atasan yang memerintahkan, “Tulislah berita yang menyerang politisi X!” Ia datang dalam bentuk yang jauh lebih halus: budaya ruang redaksi. Jurnalis belajar dengan cepat topik mana yang membuat editor bersemangat dan topik mana yang membuat mereka menghela napas. Mereka tahu “gaya bahasa” institusi mereka. Mereka tahu batas-batas tak terlihat dari apa yang boleh dan tidak boleh dipertanyakan. Ini bukanlah konspirasi; ini adalah sosialisasi profesional. Seiring waktu, kacamata institusi menjadi begitu menyatu dengan mata sang jurnalis, sehingga ia tidak lagi merasa sedang memakai kacamata.
Penunggang Kuda #4: Dewa Bernama Akses (The God Named Access)
Di dunia jurnalisme politik dan bisnis, “akses” adalah segalanya. Anda memerlukan narasumber di dalam lingkaran kekuasaan untuk mendapatkan informasi eksklusif. Namun, akses datang dengan harga yang tak terucap: kesetiaan. Jika laporan Anda terlalu kritis, terlalu tajam, atau terlalu jujur, pintu akses itu akan tertutup. Telepon Anda tidak akan diangkat lagi. Email Anda tidak akan dibalas. Anda akan “dibekukan”. Fenomena yang dikenal sebagai “access journalism” ini mengubah jurnalis dari pengawas menjadi stenografer. Mereka menjadi saluran bagi narasi resmi narasumber mereka. Objektivitas dikorbankan di altar pragmatisme agar mereka bisa tetap “berada di dalam lingkaran”.
Melihat keempat penunggang kuda ini, apakah cita-cita jurnalis-robot masih tampak masuk akal? Tentu saja tidak. Lalu, bagaimana institusi media mempertahankan ilusi objektivitas? Di sinilah kita beralih ke sosiologi. Sosiolog Gaye Tuchman, dalam studinya yang menjadi klasik, berargumen bahwa objektivitas dalam praktik jurnalistik bukanlah sebuah komitmen filosofis, melainkan sebuah “ritual strategis” (Tuchman, 1972).
Menurut Tuchman, jurnalis menggunakan serangkaian prosedur rutin—seperti mengutip “kedua belah pihak” (bahkan jika satu pihak jelas berbohong), sangat bergantung pada kutipan langsung (untuk memindahkan tanggung jawab atas pernyataan ke narasumber), dan menyajikan data statistik (terlepas dari konteksnya)—bukan untuk mencapai kebenaran, tetapi untuk mempertahankan diri dari kritik. Ini adalah perisai profesional. Dengan mengikuti ritual-ritual ini, seorang jurnalis dan institusinya dapat berkata, “Lihat, kami objektif! Kami hanya melaporkan apa yang mereka katakan.” Ini adalah cara untuk mencuci tangan dari tanggung jawab interpretasi. Objektivitas, dalam pengertian ini, bukanlah sebuah metode penemuan, melainkan sebuah strategi perlindungan birokrasi.
Bagian II: Sang Jurnalis-Pujangga dan Drama Keputusasaan yang Tidak Produktif
Jika sang Jurnalis-Robot adalah sebuah fantasi mekanis, maka sang Relativis Absolut adalah sebuah fantasi puitis. Ini adalah jurnalis yang, setelah membaca sedikit Foucault dan Derrida di universitas, memutuskan bahwa kebenaran itu tidak ada, semua teks adalah permainan kekuasaan, dan setiap laporan berita hanyalah satu narasi di antara narasi-narasi lain yang tak terbatas, tanpa ada yang lebih unggul.
Ini adalah pose intelektual yang sangat menarik di sebuah seminar atau kedai kopi. Namun, sebagai prinsip kerja di ruang redaksi, ia sama sekali tidak berguna dan munafik. Jika semua kebenaran itu relatif, mengapa repot-repot melakukan verifikasi fakta? Mengapa seorang editor harus memeriksa sumber Anda? Mengapa ada koreksi dan permintaan maaf jika sebuah berita terbukti salah? Jika semua hanyalah interpretasi subjektif, maka tidak ada yang namanya “kesalahan faktual”, yang ada hanyalah “interpretasi yang berbeda”. Jika demikian, maka jurnalisme investigatif yang mengungkap korupsi tidak ada bedanya dengan teori konspirasi bumi datar yang ditulis dengan baik; keduanya hanyalah “narasi”.
Ironi terbesar adalah bahwa sang relativis paling absolut pun akan segera menjadi seorang realis yang paling keras kepala begitu kepentingan pribadinya terusik. Ia mungkin berargumen bahwa “kebenaran tentang defisit anggaran itu relatif”, tetapi ia akan menuntut gajinya dibayar dalam mata uang yang nilainya objektif, bukan dalam “Rupiah subjektif”. Ia mungkin mengklaim bahwa “narasi tentang kejahatan itu cair”, tetapi jika ia sendiri yang menjadi korban pencurian, ia akan melaporkannya kepada polisi dengan harapan bahwa “fakta” pencurian itu akan ditindaklanjuti secara objektif.
Relativisme absolut adalah kemewahan filosofis yang hanya bisa dinikmati oleh mereka yang tidak menghadapi konsekuensi nyata dari ketiadaan kebenaran. Bagi seorang jurnalis, mengadopsi posisi ini secara konsisten berarti melakukan bunuh diri profesional.
Bagian III: Pertarungan Sebenarnya yang Diabaikan
Dengan menyingkirkan kedua karikatur ini, kita bisa melihat bahwa perdebatan epistemologis yang sebenarnya dalam jurnalisme jauh lebih subtil dan jauh lebih politis. Pertanyaannya bukanlah “Bisakah kita mencapai objektivitas?” atau “Apakah kebenaran itu ada?”. Pertanyaan yang sesungguhnya adalah: “Kebenaran versi siapa yang dianggap layak untuk diberitakan, dan mengapa?”
Di sinilah konsep-konsep seperti agenda-setting dan framing menjadi krusial. Teori agenda-setting menyatakan bahwa media mungkin tidak berhasil memberitahu orang apa yang harus dipikirkan, tetapi mereka sangat berhasil memberitahu orang tentang apa mereka harus berpikir (McCombs & Shaw, 1972). Media secara efektif menciptakan peta realitas sosial bagi kita dengan memilih isu mana yang akan diberi sorotan dan isu mana yang akan dibiarkan dalam kegelapan. Keputusan untuk secara intensif meliput skandal seorang selebriti sementara mengabaikan laporan tentang krisis air bersih di sebuah daerah adalah sebuah keputusan epistemik yang dahsyat. Itu adalah pernyataan tentang apa yang “penting” untuk diketahui.
Selanjutnya, framing (pembingkaian) adalah tentang bagaimana isu yang telah dipilih itu disajikan. Apakah para pengunjuk rasa dibingkai sebagai “pejuang kebebasan” atau “perusuh anarkis”? Apakah kenaikan pajak dibingkai sebagai “beban bagi rakyat” atau “investasi untuk masa depan”? Pilihan kata, gambar, dan narasumber yang dikutip secara fundamental membentuk pemahaman audiens, bahkan jika semua “fakta” yang disajikan secara teknis akurat.
Oleh karena itu, solusi yang ditawarkan oleh Bung Ahnaf—sebuah “objektivitas bertingkat” yang dibalut dengan “kejujuran”—meskipun niatnya baik, terasa seperti menempelkan plester luka pada sebuah patah tulang yang kompleks. Menasihati seorang jurnalis untuk “berusaha lebih jujur” dan “meminimalkan bias” tanpa mengatasi tekanan struktural dari tenggat waktu, kepentingan ekonomi, budaya ruang redaksi, dan kebutuhan akan akses adalah resep untuk frustrasi. Itu sama seperti menasihati seorang pekerja pabrik untuk lebih “sadar lingkungan” tanpa mengubah mesin-mesin polutif yang harus ia operasikan setiap hari.
Pada akhirnya, ilusi pilihan antara objektivisme dan relativisme mengalihkan kita dari pertempuran yang sesungguhnya. Krisis epistemologi jurnalisme bukanlah krisis filosofis di menara gading. Ia adalah krisis politis dan ekonomis di dunia nyata. Ia bukan tentang apakah cermin itu bisa sempurna, tetapi tentang siapa yang memegang cermin itu, ke arah mana ia diarahkan, dan siapa yang membayar untuk pembuatannya.
Referensi:
McCombs, M. E., & Shaw, D. L. (1972). The Agenda-Setting Function of Mass Media. Public Opinion Quarterly, 36(2), 176–187. https://doi.org/10.1086/267990
Tuchman, G. (1972). Objectivity as Strategic Ritual: An Examination of Newsmen’s Notions of Objectivity. American Journal of Sociology, 77(4), 660–679.
Penulis: Antonius Harya Febru Widodo (kontributor)
*penulis merupakan lulusan S2 Fakultas Filsafat UGM, berpengalaman sebagai staf ahli legislatif Komisi D DPRD Kabupaten Sleman. Latar belakang beragam: manajemen, penulisan, & kepemimpinan.
