DI BALIK KELANCARAN PERGELARAN RAJA BRAWIJAYA 2025

0

Satu bangunan kecil di sebelah gerbang Suhat tampak ramai siang itu. Derap langkah kaki bersepatu pantofel dan suara handy talky bersahut-sahutan memenuhi sekelilingnya. Aroma manis jeruk menguar di seluruh ruangan keamanan itu. 

Di dalamnya, pria paruh baya dengan janggut tipis tengah asik melahap buah jeruk. Kemeja putihnya tak lagi sepenuhnya rapi, sedikit kusut terlihat di bagian lekukan tubuh. Sambil memberi senyum lebar, ia memperkenalkan dirinya. “Nama saya Muhammad Bisri. Saya Kepala Subdivisi Keamanan dan Ketertiban di Universitas Brawijaya. Itu profil saya.”

Hari itu, Senin (11/8), adalah hari pertama RAJA Brawijaya 2025. Lebih dari 17.000 mahasiswa baru memadati UB. Selama tiga hari—11 hingga 13 Agustus 2025—UB akan menggelar hajat besar untuk menyambut mahasiswa baru. Dan Markas Komando (MAKO) UB menjadi yang paling sibuk untuk memastikan keamanan dan kelancaran jalannya acara. Tak terkecuali Bisri. Tanggung jawabnya sebagai Kepala Subdivisi Keamanan dan Ketertiban mengharuskan ia bolak-balik melakukan koordinasi dengan berbagai pihak.  

Dari yang di Dalam Hingga yang di Luar

Bisri tampak sumringah saat ditanya soal koordinasi yang telah ia lakukan. Ia tak butuh waktu lama untuk menjawab. “Kami sudah melakukan [koordinasi] dari jauh-jauh hari dengan menghubungi Polsek, Polres, Satpol PP, maupun dari Dishub,” ujarnya. 

Raut wajahnya tak bisa menutupi kepuasan Bisri pada skenario yang telah dirancang bersama berbagai pihak eksternal itu. Bisri menghela napas lega. “Alhamdulillah sudah kami koordinasi terus dengan beliau-beliaunya yang ada di sana.”

Tak cuma dengan mereka yang dari luar, Bisri mengatakan bahwa koordinasi juga intens dilakukan dengan para panitia RAJA Brawijaya 2025. “Jadi [panitia] berkoordinasi juga sama kami, hampir setiap hari kami koordinasi dengan pihak SPV dan Korlap-Korlap,” ucap Bisri mengingat dengan divisi apa saja ia melakukan koordinasi.

“Kami juga mengucapkan terima kasih ke pihak eksternal karena mereka cukup mau bantu juga,” ucap Bisri dengan tenang. Bisri merasa koordinasi dengan semua pihak berlangsung amat baik. Buktinya, lanjut Bisri, mobilisasi Maba dalam opening ceremony dapat berjalan tanpa kendala.

Angket dan Realisasinya

Lepas koordinasi antara MAKO dan pihak eksternal, keduanya lantas merumuskan skenario untuk menyiasati banyaknya jumlah mahasiswa baru yang diterima UB pada tahun ini. Skenario itu adalah pembuatan angket berisi pertanyaan terkait jalur kedatangan dan kepulangan untuk memudahkan mobilisasi mahasiswa baru nantinya. “Yang mau ke arah Selatan, lewat gerbang Veteran. Yang mau ke arah Utara, lewat gerbang Suhat,” kata Bisri menjelaskan skenario dan angket yang ia maksud. “Alhamdulillah yang keluar di sesi pertama, berjalan dengan lancar sesuai jadwal,” ujar Bisri yang tak pernah berhenti bersyukur.

Adanya peningkatan jumlah mahasiswa baru pada tahun ini, membuat MAKO berinisiasi membuka gerbang Watugong dan FAPET. Dua gerbang yang sebelumnya tidak pernah digunakan saat RAJA Brawijaya itu dibuka untuk antisipasi adanya kemacetan karena besarnya massa mahasiswa baru. “11.000 [mahasiswa baru] itu kita arahkan ke FAPET dan Watugong,” ujarnya. 

“Nanti, untuk sesi dua [kepulangan sore], kita akan mengalirkan juga ke veteran, BNI, dan Panjaitan juga ya, Mas ya? Yang sesi kedua ya?” ujarnya menjelaskan rencana kepulangan mahasiswa baru di sore hari sambil memastikan kepada dua anggota MAKO yang berada di dalam ruangan itu. Satu di antara dua anggota MAKO itu lantas menjawab, “Tiga gerbang itu BNI, Veteran, dan Suhat.” 

Seperti diceritakan Bisri, angket itu telah disebar dua minggu sebelum RAJA Brawijaya 2025 dimulai oleh divisi SPV dan Korlap. Realisasi di lapangan berjalan sesuai rencana: sesi pertama kepulangan Opening Ceremony mengalir ke FAPET dan Watugong, sementara sesi kepulangan sore diarahkan ke Veteran, BNI, dan Suhat. Drop zone penjemputan pun diposisikan jauh dari gerbang untuk mencegah penumpukkan massa.

Optimalisasi Tahun Ini

Bisri menilai tahun ini jauh lebih optimal dibanding sebelumnya. “Tahun lalu belum ada angket, jalur keluar hanya mengandalkan gerbang utama, dan prediksi arus lebih sulit dilakukan,” terang Bisri. Bisri menaruh kebanggaan sekaligus kepuasan pada alternatif pemanfaatan gerbang Watugong dan FAPET pada tahun ini.


“Kalau di dalam estimasi kemarin, mobilisasi ke venue kurang lebih 15 menit. Baik pulang maupun datang,” ucap Bisri menjelaskan bagaimana timnya melakukan proyeksi. Ia lantas melanjutkan bahwa evaluasi juga dilakukan pada aspek teknis, seperti waktu tempuh dari gerbang ke titik tujuan, jarak antar gerbang, hingga pembagian volume massa. “Sesuai schedule kita. Malah bisa dikatakan lebih maju daripada jadwal yang diperkirakan kemarin,” Bisri berujar bangga. Hemat Bisri, meski jumlah mahasiswa baru lebih banyak dari tahun sebelumnya, mobilisasi justru lebih cepat dari jadwal yang telah ditentukan. 

Namun Bisri tak berpuas diri sendirian. Baginya, keberhasilan ini adalah gabungan dari perencanaan matang, dukungan penuh pihak eksternal, dan koordinasi erat tim internal. “Optimalisasi ini bukan cuma untuk kelancaran di dalam kampus, tapi juga supaya masyarakat di luar tetap nyaman,” pungkasnya dengan senyum yang masih melekat di raut wajahnya.

Penulis: Nabila Riezkha Dewi
Editor: Dimas Candra Pradana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.