RAJA BRAWIJAYA DALAM “DIAM YANG RAMAI”

Sebuah restoran kecil berdiri dengan gagah di antara deretan rumah dan rimbunnya pepohonan. Tersembunyi, namun keadaannya dapat disadari. Papan tanda berwarna putih bertuliskan Naoki menangkap mata orang yang memandangnya. Dari luar, tempat tersebut tampak biasa.
Bangunan itu sederhana, ada deretan tanaman pot di teras dan pintu kaca yang memantulkan cahaya sore. Namun, pelanggan yang melangkah masuk ke dalamnya akan disambut oleh suasana hangat, denting sendok yang beradu di atas mangkuk, dan percakapan samar-samar pengunjung yang dapat terdengar sekilas.
Cahaya sore menembus jendela, memantulkan kehangatan di wajah dua insan yang memilih untuk duduk di pojok ruangan, tak jauh dari sana. Di antara obrolan hangat dan makanan yang tak tersisa, terselip beberapa celetukan
mengenai Raja Brawijaya. Celetukan tersebut menjadi awal dari sebuah cerita panjang tentang bagaimana komunikasi internal bekerja (atau tidak bekerja) di balik gegap gempita acara tahunan terbesar di Universitas Brawijaya.
Antara yang Merapat dan yang Ditinggal
“Divisi Perlengkapan sendiri dibagi jadi 6 divisi kecil lagi. Setiap divisi ada penanggung jawab dan wakilnya, nah
mereka ini yang sering rapat.” Tutur Mawar (nama samaran) seraya meneguk minumannya.
Sebagai salah satu anggota dalam sub-divisi perlengkapan, Mawar bercerita bahwa ia sering kali tidak tahu-menahu mengenai hasil rapat yang sudah terjadi. Berbagai rapat memang acap kali dilakukan, namun hanya melibatkan struktur atas— penanggung jawab dan wakil saja sementara para anggota lain seperti dirinya kerap diabaikan.
“Aku sebenarnya juga heran, karena setiap rapat nggak pernah diberitahu hasilnya seperti apa, padahal kan aku sebagai anggota juga butuh informasinya. Sudah seharusnya penanggung jawabku itu punya kesadaran sendiri untuk beritahukan hasil rapatnya seperti apa kepada para anggotanya,” pungkas Mawar dengan frustasi.
Komunikasi mereka tidak optimal. Mawar juga sempat mencoba mencari tahu hasil dari rapat-rapat yang dilakukan atasannya, namun nihil. Ketika mencoba menelusuri grup besar atau grup internal divisi perlengkapan, tidak ditemukan satupun notulensi atau rekap informasi pasca rapat.
“Aku sampai ngecek grup perkap dan divisi sendiri. Tapi nggak ada. Sama sekali nggak ada notulensinya. Kita jadi nggak tahu, sebenarnya mereka itu rapat apa nggak sih? Bahas apa aja? Keputusan apa yang diambil?” jelas Mawar.
“Aku bukan bagian dari omek [organisasi mahasiswa ekstra kampus], tapi aku nggak pernah diperlakukan beda. Cuma ya itu, kalau sistemnya tertutup, kita susah dapat akses informasi,” tegas Mawar bahwa ini bukan soal latar belakang organisasi.
Baginya, ini soal bagaimana komunikasi dibangun, apakah terbuka untuk semua, atau hanya untuk mereka yang merasa paling aktif.
Sisi Lain: Cerita dari Divisi SPV
Berbeda dengan Mawar, Yohan (nama samaran) salah satu panitia Raja Brawijaya dari divisi SPV, mengaku cukup nyaman dengan sistem komunikasi di divisinya. Ia juga bukan bagian dari Omek, tapi juga merasa diterima. “Biasanya kalau ada info dari penanggung jawab langsung dibagikan ke grup. Nggak ada notulensi sih, tapi komunikasinya jalan aja,” jelasnya.
Namun, ia juga mengakui bahwa ada kalanya miskomunikasi tetap terjadi, terutama saat perubahan mendadak di lapangan, seperti masalah teknis ketika kelas khusus untuk divisi SPV batal digelar di venue. Meski begitu, pihak struktur atas seperti CO dan penanggung jawab dinilai responsif, langsung menyampaikan penyesuaian ke seluruh anggota.
“Yang penting itu disampaikan secepat mungkin. Dan sejauh ini sih, setiap aku tanya juga langsung dijawab,” tambahnya.
Komunikasi Bukan Sekadar Memberi Tahu
Rangkaian cerita dari Mawar dan Yohan menggambarkan satu hal yang sama: bahwa komunikasi bukan hanya soal
menyampaikan informasi. Komunikasi adalah pengakuan.
Ia menyatakan bahwa seseorang adalah bagian dari proses, bahwa pendapat dan keberadaannya penting. Ketika komunikasi itu berhenti di tengah jalan, yang tersisa adalah pekerjaan yang dilakukan dengan setengah paham, koordinasi yang penuh tebak-tebakan, dan staf-staf yang tak merasa punya tempat.
“Kalau rapat terus tapi hasilnya nggak dikasih tahu, ya sama aja rapatnya nggak efektif,” kata Mawar.
Baik Mawar maupun Yohan sama-sama berharap agar komunikasi dalam struktur panitia bisa lebih terbuka dan terarah. Tidak harus formal, tidak perlu bertele-tele. Cukup ada niat untuk melibatkan semua pihak dan menyampaikan informasi dengan jujur dan merata.
“Komunikasi itu harus dibangun. Jangan nunggu orang lain tanya dulu baru dijelasin. Harus sadar dari diri sendiri,” pungkas Mawar dengan tegas.
Di balik Raja Brawijaya, ada staf-staf seperti Mawar yang diterpa kesunyian koordinasi. Tanpa banyak tahu tentang tugasnya, tanpa banyak bicara dengan para atasannya. Tapi ia tetap datang, tetap bekerja, tetap berusaha sebaik mungkin. Hanya saja mereka kerap diabaikan.
Penulis: R. AJ. Afra Aurelia Luqyandysa
