REKTOR TANGGAPI KADEP ANTROPOLOGI DAN SENI UB YANG TINGGALKAN KELAS KARENA SIBUK

0

MALANG-KAV.10 Melalui survei yang telah dilakukan oleh Kavling10, terdapat informasi mengenai salah satu dosen Antropologi yaitu Hipolitus Kristoforus Kewuel yang meninggalkan kelas ketika pemilihan dekan berlangsung. Salah satu kelas yang ditinggalkan adalah mata kuliah Antropologi Filsafat. Hipo sendiri menjabat sebagai Ketua Pelaksana Pemilihan Dekan di Fakultas Ilmu Budaya (FIB). Ia kerap tidak masuk kelas sebab sibuk dengan rapat. Selain menjadi Ketua Pelaksana pildek, ia juga menjabat sebagai Kepala Departemen (Kadep) Antropologi dan Seni Universitas Brawijaya (UB).

Miska (*), mahasiswi Antropologi angkatan 2023, mengeluhkan adanya kelas yang jarang masuk. “Biasanya pengumuman di grup kelas [saat] paginya, soalnya aku kelasnya itu jam satu siang. Beliau cuma bilang saya ada urusan rapat seperti itu,” keluh Miska. Ia juga bercerita bahwa saat rentang waktu pemilihan dekan dilaksanakan, dosen tersebut tidak dapat hadir dua sampai tiga kali. “Tidak ada kelas pengganti, lebih sering dikasih tugas asinkron gitu,” tambah Miska.

Miska berpendapat bahwa tanggung jawab utama dosen adalah mengajar mahasiswa. Adanya kejadian tersebut, membuatnya merasa rugi karena ia telah membayar untuk dapat kuliah di UB. Ia juga bercerita mengenai realitas yang ada di kampus tidak sesuai dengan ekspektasi awalnya mengenai UB terutama terkait dengan dosen yang ada. “Branding UB itu susah, masuknya susah terus gayanya mahal. Jadi, aku berpikir dosennya bakal ketat. Ternyata, dosen lebih memilih rapat dibandingkan kelas.”

Menanggapi isu tersebut, Widodo selaku Rektor UB berpendapat bahwa dosen disebut sebagai pemimpin akademik karena memberikan teladan dan pengajaran. “Saya saja juga masih mengajar. Wakil Rektor juga masih mengajar, cuma porsinya dikecilkan. Karena walaupun menjabat, tetapi masih memiliki beban administrasi kewajiban ngajar kita.” 

Widodo juga menceritakan waktu masih aktif sebagai mahasiswa di himpunan, dia dan teman-temannya berpikir jika mahasiswa dinilai, dosen juga harus dinilai. Setiap tahun, himpunannya mengeluarkan nilai rapor untuk dosen. “Kalau sekarang, himpunan di setiap fakultas juga mengadakan seperti open talk. Itu bagian penting. Kita bukan mengkritisi tetapi kita sama-sama ingin belajar menjadi lebih baik,” tuturnya.

Hingga berita ini diterbitkan, Hipo telah dihubungi untuk memberikan konfirmasi atas kelas yang ditinggalkan selama pemilihan dekan berlangsung. Namun, kadep Antropologi dan Seni itu belum memberikan tanggapan.

(*) Bukan nama sebenarnya. Tim redaksi Kavling10 menggunakan nama samaran guna keamanan narasumber terkait.

Penulis: Nabila Riezkha Dewi
Editor: Hanin Amalia Najahah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.