1000 HARI KANJURUHAN: AREK MALANG BAGIKAN MAKANAN SERTA DOA BERSAMA

MALANG-KAV.10 Halaman sekitar Stadion Gajayana dipenuhi motor pada Kamis (26/7) malam kemarin. Menjelang pukul delapan, motor semakin ramai dan beberapa orang memasang baliho bertuliskan “1000 Hari Kanjuruhan, 1000 Hari Tanpa Keadilan”. Mereka berkumpul di sana untuk pergi bersama menuju Stadion Kanjuruhan. Malam itu, bertepatan dengan satu Suro, arek-arek Malang akan melaksanakan doa bersama di depan Gate 13 dan membagikan makanan di sepanjang perjalanan.
Sebelum berangkat, mereka berkumpul terlebih dahulu ketika Ambon Fanda—salah satu peserta—mengajak untuk berangkat dengan tertib. Sekitar 200 motor meninggalkan Stadion Gajayana dan menyanyikan chant untuk mengingat Tragedi Kanjuruhan. Bendera bertuliskan “Don’t stop talking about Kanjuruhan” dan semacamnya mereka bentangkan di tengah angin malam. Motor-motor yang membawa bungkusan makanan kemudian menghampiri penjaga parkir, penyebrang jalan, dan pengguna jalan lain.
Sekitar pukul setengah sepuluh, mereka tiba di Stadion Kanjuruhan. Tak lama kemudian, arek-arek Malang telah menduduki sekitaran Gate 13. Menyalakan lilin—sebagai simbol kesedihan—dan membacakan tahlil setelahnya.
Selepasnya, Devi Athok—salah satu keluarga korban—mengingatkan bahwa Tragedi Kanjuruhan belum tuntas. Ia menceritakan bahwa persoalan sengketa Museum Gate 13 tak juga menemui titik terangnya.
Pasalnya, hingga detik ini, Pemerintah Kabupaten Malang belum memberikan nota kesepahaman pengelolaan museum kepada keluarga korban. “[Museum] ini nanti pengelolaannya juga nggak tahu. Kita ya dizalimi. Terus terang adik-adik, rencananya ini melibatkan semua [pihak keluarga korban] lek iso,” ujarnya kepada arek-arek Malang.
Devi Athok lalu berpesan bahwa perjuangan usut tuntas Tragedi Kanjuruhan tak hanya untuk korban-korban yang telah gugur. Perjuangan ini, lanjut Devi, adalah untuk arek-arek Malang agar tak terulang kembali tragedi serupa. Dalam sambutannya ia menutup, “Wis matur nuwun. Aku akan tetep berjuang. Sampai kapan kuwi sama Bu Juwariah akan tetep berjuang.”
Penulis: Badra D. Ahmad
Editor: Dimas Candra Pradana
