SOAL KELUHAN MAHASISWA, DIREKTUR UB PSDKU KEDIRI: SARANA DAN PRASARANA PERKULIAHAN SUDAH SANGAT MUMPUNI

MALANG-KAV.10 Dika (bukan nama sebenarnya) datang ke Universitas Brawijaya (UB) kampus utama karena suatu keperluan. Bersama seorang kawan, Gio (bukan nama sebenarnya), dua mahasiswa UB Program Studi di Luar Kampus Utama (PSDKU) Kediri itu harus menempuh jarak sekitar 100 km. Namun, kunjungan mereka berdua ke kampus di Jalan Veteran itu justru menyisakan perasaan ganjil. Musababnya satu: sarana dan prasarana perkuliahan di PSDKU Kediri yang mereka rasa begitu timpang dengan apa yang ada di kampus utama.
Di dalam perpustakaan, Dika dan Gio bercerita bagaimana gedung perkuliahan bersama yang kerap bocor saat hujan turun. “Atapnya bocor, plafonnya bocor,” keluh Dika pada Senin (19/5) lalu. Menurut mereka, dari ketiga gedung perkuliahan yang ada di PSDKU Kediri, tak ada satu pun gedung yang tak pernah bocor. “Bahkan di gedung tiga yang baru saja dibangun, juga bocor,” sambung Gio.
Tak cuma gedung perkuliahan, kondisi jalan dan parkiran di PSDKU Kediri juga mereka keluhkan. Jalanan yang berbatu, ujar Dika, menyulitkan mahasiswa yang mengendarai sepeda motor untuk keluar dan masuk lingkungan PSDKU Kediri. “Bahkan ada mahasiswa itu sampai jatuh gara-gara jalan [berbatu],” tutur Dika. Sementara itu, lahan parkir yang berpasir turut dirasa Gio membuat parkiran menjadi licin dan berdebu.
Lebih jauh, Dika dan Gio mengatakan bahwa mahasiswa UB PSDKU Kediri bukannya tak pernah menyampaikan protes terkait keluhan mereka. Melalui Eksekutif Keluarga Mahasiswa (EKM) dan EKM Fakultas (EKMF), beberapa protes soal fasilitas sudah pernah dilayangkan kepada jajaran direktur UB PSDKU Kediri. Namun, ujar Dika, sering kali protes berakhir tanpa jawaban pasti. “Katanya akan ditindaklanjuti, tapi belum tahu [solusi] pastinya gimana,” jelas Dika.
Menurut Dika, salah satu alasan protes sering berakhir tanpa kejelasan adalah karena Direktur UB PSDKU Kediri lebih sering berada di UB kampus utama. “Direkturnya sering ke Malang [UB kampus utama]. Bahkan dimintain konsultasi, dimintain koordinasi, itu sangat sulit sekali,” imbuh Dika.
Di sisi lain, Direktur UB PSDKU Kediri Sholeh Hadi Pramono menampik bahwa dirinya sulit diajak koordinasi bersama mahasiswa. Menurutnya, meskipun memiliki kesibukan di Malang karena masih berstatus sebagai dosen di Fakultas Teknik (FT), ia tetap menjalankan kewajibannya sebagai Direktur UB PSDKU Kediri sebagaimana semestinya. “Saya biasanya tiga hari di Kediri, dua hari di Malang,” kata Sholeh saat diwawancara pada Selasa (27/5) kemarin.
Bagi Sholeh, dirinya selalu terbuka pada setiap aspirasi mahasiswa. “Saya menyerap semua [aspirasi mahasiswa]. Saya selalu terbuka dengan mahasiswa,” tegasnya. Ia pun menjelaskan bahwa semua koordinasi tetap bisa berlangsung meskipun dirinya sedang tidak berada di PSDKU Kediri. “Saya bisa melakukan Zoom, saya bisa kontak [melalui WhatsApp]. Kalau ada masalah, [mahasiswa] bisa langsung kontak saya, langsung persuratan. Misal Wakil Direktur III tidak ada, tidak usah menunggu Wakil Direktur III, langsung saya yang mengambil alih,” jelas Sholeh sembari menunjukkan komunikasinya dengan Presiden EKM 2025 Ghiffari Ernan Ramadhan melalui aplikasi WhatsApp.
Lebih lanjut, Sholeh juga beranggapan bahwa persoalan sarana dan prasarana perkuliahan perlu dilihat secara substansial. Baginya, dengan melihat dari segi substansi studi dan keilmuan, maka fasilitas yang ada di PSDKU Kediri saat ini sudah sangat mampu mengakomodasi kebutuhan 1.900 mahasiswa di sana. “[Sarana dan prasarana perkuliahan di PSDKU Kediri] sangat mumpuni. Kalau orang katakan nggak mumpuni, terus kayak apa sih ‘mumpuni’ itu?” ujar Sholeh.
Sholeh lantas menunjukkan enam laboratorium baru yang dibangun selama dirinya menduduki kursi direktur. Menurutnya, sebelum adanya pembangunan enam laboratorium itu, mahasiswa PSDKU Kediri harus melakukan praktikum di luar Kota Kediri. Sehingga, imbuh Sholeh, kehadiran laboratorium-laboratorium itu sangat menunjang kebutuhan riset mahasiswa hingga dosen di PSDKU Kediri. “Yang penting, semangat belajarnya harus kuat,” ucapnya. Sholeh pun menambahkan bahwa sebagai kampus yang baru berdiri sejak tahun 2018, maka membangun PSDKU Kediri menjadi layaknya kampus utama membutuhkan waktu dan dana yang tidak sedikit.
Adapun Sholeh juga memberikan tanggapan soal terpilihnya ia sebagai Direktur UB PSDKU Kediri dua tahun lalu. Menurutnya, hal ini mutlak keputusan Rektor UB sesuai Peraturan Rektor (Pertor) yang berlandaskan asas meritokrasi. Bagi Sholeh, dirinya hanya berfokus pada pengembangan mutu pendidikan di PSDKU Kediri. “Saya bukan cari jabatan. Saya betul-betul ingin menjadikan mahasiswa saya itu punya kompetensi,” pungkas Sholeh.
Penulis: Dimas Candra Pradana
Kontributor: Mohammad Rafi Azzamy
Editor: Badra D. Ahmad
