GERAKAN UB STUDENTS FOR JUSTICE IN PALESTINE LAHIR DARI PERCAKAPAN MAKAN SIANG

MALANG-KAV.10 Di bawah atap Gedung Widyaloka Universitas Brawijaya yang menaungi mereka dari teriknya panas, dua mahasiswa—Hilmy dan Ghaza—duduk berdampingan di sebuah meja kayu.
Mahasiswa Fakultas Hukum dan Fakultas Ilmu Komputer itu pada awalnya hanya menjalin pertemanan biasa. Namun pembicaraan mereka sewaktu makan siang di sebuah tongkrongan menyulut sesuatu yang tidak biasa—sebuah gerakan kemanusiaan.
Sering kali muncul perbedaan pendapat soal konflik Israel dan Palestina dari sisi politik, ideologi atau kepentingan global yang tidak kunjung menggapai titik temu. Perbedaan pendapat ini membuat mereka berdua berimajinasi, seharusnya ada satu visi yang menyatukan kita semua, yakni kemanusiaan itu sendiri.
Dari sana terbentuklah UB Students for Justice in Palestine (UB SJP) pada bulan April 2024 lalu—sebagai wadah solidaritas sosial yang bertujuan untuk menyuarakan isu dan hak-hak di Palestina hingga merdeka. Berdirinya UB SJP terinspirasi dari gerakan Students for Justice in Palestine (SJP) di Amerika pada tahun 1990-an yang berdiri di University of California, Berkeley pada tahun 1993.
“Awalnya kami terinspirasi dari gerakan SJP yang sudah lebih dulu berkembang di Amerika sejak tahun 90-an. Di sana, SJP hadir di berbagai kampus sebagai bentuk solidaritas terhadap Palestina,” terang Hilmy selaku humas dari UB SJP.
Setelah Intifada, tepat pada 23 Oktober 2023, Israel kembali meluncurkan agresi militer besar-besaran. Israel tidak hanya menghancurkan rumah-rumah saja, namun juga rasa aman, harapan, dan rasa kemanusiaan. Setelah itu pada awal tahun 2024 mulai tumbuh SJP di kampus-kampus besar Indonesia seperti UI, UGM, ITB, dan IPB—yang lebih dulu membentuk kelompok solidaritas pro-Palestine.
“Kita ketinggalan. Dan rasa-rasanya harus ada yang memulainya di UB.” Begitu kata Hilmy dengan berapi-api.

Lalu keduanya menggandeng Yasin, teman seangkatan Ghaza di FILKOM, serta Hanif dari FISIP. Keempatnya pun mulai menyusun langkah pertama untuk gerakan ini. Lewat media sosial, mereka membuka akun Instagram dan membentuk grup WhatsApp. Ghaza yang merupakan ketua SJP tahun ini—bersama ketiga kawannya—mulai menghimpun suara-suara yang peduli serta perlahan membangun jejaring solidaritas.
“Kita mulai [gerakan UB SJP ini] memang dari hal paling sederhana terlebih dahulu. Ya, kita aktifkan media sosial, kita himpun warga UB yang peduli Palestina di Instagram dan di grup WhatsApp. Setelah itu, baru kita susun rencana aksi yang lebih strategis seperti menyebar kampanye, membuat aksi di Ijen, dan turut ikut aksi di balai kota,” pungkas Hilmy.
MENYEMAI KEPEDULIAN DI TENGAH-TENGAH KAMPUS
Lebih dari setahun sejak UB SJP berdiri, gema perjuangan mereka meluas. Langkah kecil keempat teman itu, kini telah menjelma menjadi gerakan yang lebih besar. Ketika kali pertama kali dibentuk, UB SJP juga mengadakan berbagai konsolidasi untuk mengumpulkan seluruh elemen kampus.
“Jadi, pada 16 Mei 2024, semua warga Brawijaya yang peduli dengan Palestina kita undang di situ,” terang Hilmy.
Kemudian tak lama setelah itu, pada 22 Mei 2024 digelar aksi Run for Palestine dengan memakai atribut Palestina untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang situasi yang dihadapi oleh rakyat Palestina. Sore itu, dengan syal keffiyeh melingkar di leher, dan bendera Palestina tergenggam erat, mereka berlari sambil melakukan long-march mulai dari lapangan rektorat, dan melintasi berbagai fakultas yang ada di Universitas Brawijaya.
“Mengasyikkan,” kata Hilmy mengenang aksi Run for Palestine dengan senyuman kecil.
Gerakan solidaritas SJP UB tak terhenti di situ. Beberapa waktu setelahnya, mereka kembali turun ke ruang publik lewat aksi Brawijaya Solidarity Camp Palestine yang digelar selepas shalat Jumat. Biasanya, kawasan rektorat mulai sepi pada Jumat siang—aktivitas perkuliahan mereda, dan mahasiswa pun berangsur meninggalkan kampus.
Namun hari itu pada 31 Mei 2024 di tengah teriknya matahari siang hari, sekitar pukul 13.30, massa aksi yang diperkirakan mencapai 250 orang mulai berkumpul untuk menyuarakan kembali isu tentang Palestina.
“Kalau yang paling berkesan buat aku, Brawijaya Solidarity Camp, sih. Wah, nggak nyangka bakal serame itu,” jelas Hilmy antusias. “Sayangnya acaranya pas hari Jumat sore, cuma segelintir mahasiswa yang masih ada kelas. Tapi untungnya kita sempat dapat momen ramainya sekitar jam satu siang,” tambahnya dengan berseri-seri.
Dari Bundaran UB, mereka melakukan long march menuju Jalan Veteran. Aksi ini diisi dengan membagikan flyer yang berisi ajakan untuk memboikot produk-produk terafiliasi dengan zionis Israel, dan menyuarakan pesan-pesan kepedulian terhadap Palestina.
Sekembalinya ke bundaran, mereka menggelar aksi drama teatrikal, dan juga orasi. Bendera Israel dibentangkan di jalan agar setiap orang yang melintas, tanpa sadar atau sengaja, menginjaknya—sebuah bentuk simbolik penolakan atas penindasan.
“Aksi ini paling berkesan karena rapi dan cukup menguras tenaga. Persiapannya panjang dan kebetulan menjelang UAS, tapi animonya tetap besar. Alhamdulillah,” ujar Hilmy.
Lima tenda juga didirikan di halaman rektorat sebagai pengingat penindasan warga Palestina selama ini.
“Sejak lahir sampai dewasa mereka tinggal di kamp pengungsian. Bahkan Ismail Haniyeh–pemimpin Ghaza waktu itu juga lahir dan besar di sana. Hidup di kamp menjadi bagian dari keseharian mereka–dari kecil, kuliah hingga bekerja.
Itu yang ingin kami tunjukkan ke warga Brawijaya, bahwa inilah realitas dan perjuangan mereka,” tutur Hilmy panjang lebar.
Hingga pukul setengah empat sore, aksi ditutup dengan damai–meninggalkan jejak semangat solidaritas yang membekas.
Aksi ini nyaris dialihkan ke lapangan belakang Fakultas Ilmu Komputer karena Bundaran UB hendak digunakan untuk gladi upacara. Namun mendekati hari H, kabar datang bahwa acara gladi dibatalkan karena rektor sedang berpergian ke luar kota. Kesempatan itu tak disia-siakan—pihak UB SJP langsung mengamankan lokasi aksi di Bundaran.
“Awalnya surat izin kami diragukan karena bukan lembaga resmi. Tapi begitu kami lampirkan tanda tangan Prof. Dr. Setyo Widagdo S.H.,M.Hum, semuanya jadi lancar,” papar Hilmy.
Kala itu, UB SJP mendapat dukungan moral dan administratif dari tim UB Solidarity For Palestine—sebuah tim program yang sempat aktif di bawah direktorat. Lembaga ini dipimpin oleh Prof. Setyo Widagdo, Guru Besar Hukum Internasional.
“Nah, sekarang sudah enggak ada lembaganya, sudah habis SK-nya. Dulu, kita itu didukung sama beliau,” terangnya.
Sebulan setelahnya, tepatnya pada 21 Juni 2024 mereka kembali menggelar aksi bertajuk Sejuta Cinta dari Malang untuk Palestina–hasil kolaborasi dari SJP seluruh Malang. Gerakan solidaritas untuk Palestina ini, bukan hanya terjadi di lingkup Universitas Brawijaya saja, tetapi juga menjadi gerakan kolektif lintas kampus.
Para penggerak dari berbagai kampus ini juga baru saling mengenal setelah masing-masing unit SJP berdiri sendiri-sendiri. Dari sanalah kemudian mereka membangun koneksi lintas kampus dan berjejaring menjadi satu gerakan besar yang mengusung semangat kemanusiaan.
“Kita enggak turun lapangan, enggak berkeringat aksi. Tapi kampanyenya naik banget. Keterlibatannya luar biasa. Kita cuma siapkan bendera, tapi dampaknya sangat besar,” tambah Hilmy dengan antusias, matanya berbinar semangat.
Meskipun UB SJP bukan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) resmi, panitia Raja Brawijaya membuka ruang kolaborasi dan memberikan satu stand di antara barisan UKM.
“Waktu itu kami ditelepon panitia Raja Brawijaya karena ada satu stand yang awalnya akan diisi oleh pihak eksternal, tapi kemudian dibatalkan karena ada masalah internal. Katanya, kontennya dianggap kurang cocok. Akhirnya stand itu diberi ke kami.
Dari situ, kami bisa hadir di antara stand UKM lain, padahal kami bukan UKM resmi. Tapi momen itu jadi titik balik, karena stand kami justru menarik perhatian banyak maba dengan atribut Palestina yang kami tampilkan,” terang Hilmy dengan panjang lebar.
Menurut Ghaza sendiri, salah satu momen paling berkesan datang dari kegiatan RAJA BRAWIJAYA melalui pengibaran bendera Indonesia dan Palestina secara bersamaan. Lewat aksi ini, mahasiswa baru diajak untuk menyuarakan kepedulian dan ikut merasakan atmosfer perlawanan terhadap ketidakadilan terhadap apa yang terjadi di Palestina.
Tahun ini, tim UB SJP ingin dan berupaya agar bisa berkerja sama dengan RAJA BRAWIJAYA dengan mengusung konsep-konsep yang baru dalam rangkaian acara orientasi mahasiswa.
“Kami sedang mendiskusikan apakah pola yang sama masih efektif atau tidak. Kalau tetap memakai konsep yang sama, dampaknya pasti menurun. Jadi sekarang kami sedang berdiskusi untuk mencari konsep yang lebih segar dan bisa diakomodasi oleh kepanitiaan Raja Brawijaya,” ungkap Hilmy dengan menggebu-gebu.
TANTANGAN SELAMA INI

Seperti halnya gelombang, perhatian publik terhadap Palestina kerap naik dan turun tergantung momentum. Ketika serangan besar terjadi di Ghaza atau tragedi seperti Rafah menjadi sorotan dunia, suara-suara solidaritas menguat. Tapi ketika situasi ‘tenang’ secara pemberitaan, perhatian dari masyarakat sendiri kian meredup.
“Misalnya kemarin ketika wafatnya pimpinan pejuang di Gaza, Ismail Haniya dan Yahya Sinwar. Nah, itu kan momentum naik. UB SJP sebetulnya mengupayakan supaya isu ini terus naik, tapi kan memang agak mustahil dan susah. Kita enggak bisa bilang turun karena kita merasa bahwa warga UB tetap peduli. Cuman memang belum ada momentum yang pas untuk mereka ikut bersuara. Itu aja,” terang Hilmy.
Mereka menyatakan bahwa akan tetap konsisten menyuarakan isu Palestine terlepas dari ada atau tidaknya momentum besar. Mereka terus berkomitmen untuk menjaga semangat perjuangan hingga Palestina merdeka sepenuhnya.
Karena itu, UB SJP terus menciptakan ‘momentum-momentum kecil’ tersebut. Misalnya saja membuat Zone Palestine—di mana saat wisuda, mereka mendorong wisudawan yang dikenal untuk membawa bendera Palestina.
Salah satu upaya lain untuk menjaga isu ini agar tetap disuarakan adalah dengan program IAP – Individual Action for Palestine. Lewat program yang baru digaungkan baru-baru ini, UB SJP mendorong tiap fakultas untuk punya perwakilan yang aktif meng-kampanyekan isu Palestina meski dalam skala kecil. Di sini, media sosial menjadi wadah utama, namun aksi-aksi nyata tetap dihadirkan.
Tak berhenti di situ, UB SJP juga tengah bersiap menggelar aksi besar memperingati Hari Nakbah. Direncanakan pada 17 Mei mendatang, aksi ini akan dilangsungkan di Malang Kota dengan harapan dapat menghadirkan tokoh-tokoh penting, termasuk walikota.
Sedangkan itu, salah satu tantangan UB SJP adalah keterbatasan sumber daya manusia. Minimnya tim di awal pergerakan membuat pengelolaan media sosial dan kampanye terasa berat.
“Waktu itu kami open recruitment, tapi ternyata peminatnya sedikit. Kurang dari yang kami harapkan,” ujar Hilmy mengenang awal mula perjalanannya.
Namun bukannya menyerah, mereka memilih untuk mengubah strategi. Open recruitment dialihkan menjadi close recruitment—mereka mulai menghubungi langsung mahasiswa-mahasiswa yang dinilai punya potensi, kualitas, dan semangat. Tak asal ambil, mereka benar-benar menyaring orang-orang yang punya kepedulian terhadap isu Palestina.
UB SJP juga mulai memetakan kembali relawan-relawan lama. Para volunteer yang sempat ‘mati suri’ kini coba digandeng kembali. Kini, mereka sudah menghimpun strukturisasi dan membentuk tim untuk mengelola media sosial.
“Close recruitment ini terjadi di awal pembentukan. Ke depannya, kami akan buka program recruitment yang terbuka,” ungkap Hilmy.
UB SJP juga menyampaikan bahwa sejak awal mereka melakukan fundraising secara internal, tidak hanya untuk mendukung aksi, tetapi juga untuk menyisihkan sebagian dana guna membeli perlengkapan. Mereka menjelaskan bahwa program-program yang dijalankan umumnya minim anggaran, bahkan ada yang tanpa dana sama sekali, sehingga beberapa kebutuhan perlengkapan dicukupi melalui hasil fundraising internal tersebut.
Namun barangkali tantangan utama mereka adalah mengubah kepedulian menjadi kesadaran, dan kesadaran menjadi keberanian untuk bersuara. Mengubah stigma negatif terhadap Palestina yang kerap dikaitkan dengan isu terorisme menjadi pemahaman bahwa ini adalah isu kemanusiaan adalah pekerjaan berat.
“Pesan-pesan kita sebenarnya sudah terhimpun di UB SJP. Tapi kesimpulannya satu, tetap bersuara sampai Palestina merdeka,” kata Hilmy dengan berapi-api. Baginya, perjuangan membela Palestina bukan soal kedekatan identitas, melainkan soal nilai kemanusiaan. “Kalau kita tidak saudara dalam satu agama, maka kita adalah saudara satu bangsa. Kalau kita tidak saudara satu bangsa, maka kita adalah saudara sesama makhluk sebagai manusia,” tambahnya.
Dengan nada serius, ia mengajak mahasiswa lain untuk membuka mata. “Sadarlah, teman-teman sekalian. Yang terjadi di Palestina sekarang adalah genosida. Pemusnahan etnis. Kalau pun mereka tidak dicabut nyawanya, mereka diupayakan untuk hidup dalam kesengsaraan.”
Bagi UB SJP, kemerdekaan Palestina adalah hak dasar yang harus diperjuangkan oleh semua pihak yang masih memiliki nurani. Rakyat Palestina butuh pendidikan, kesehatan, dan kemerdekaan politik. Dan selama itu belum mereka miliki, kita tidak boleh berhenti bersuara.
Penulis: Fenita Salsabila
Kontributor: Sofidhatul Khasana
Editor: Mohammad Rafi Azzamy
