LIKA-LIKU PENDIDIKAN INDONESIA DALAM LIMA JAM

0
Fotografer: Tajul Asrori

Topi hitam, kaos biru, dan celana krem dikenakan oleh tubuh gempal itu. Perawakannya agak pendek untuk ukuran laki-laki—sekitar 160 cm, tetapi hal itu berbanding terbalik dengan tingginya jumlah followers akun instagram miliknya yang berjumlah lebih dari  109.000. Kulitnya yang agak gelap memberikan corak khas orang Jawa, dan memang ia berasal dari Jawa, tepatnya di daerah yang dijuluki Kota Pahlawan.

Pukul 18.20, Alfian bersandar di kursi bersama tiga orang berbincang ringan menunggu acara dimulai. Saat itu, kafe pustaka menjadi tempat diskusi yang memiliki hawa teduh. Suasana kafe masih sepi karena belum banyak peserta yang datang. Tak heran, sebab pada poster yang beredar, acara diskusi masih dimulai pukul 19.20. Alfian beranjak menghampiri toko buku pelangi sastra yang ada di pintu masuk kafe. Cukup lama guru Bahasa Indonesia itu memandangi buku-buku yang disediakan di sana. 

Tak lama kemudian, pukul 19.40, terdengar suara motor supra tahun terbaru mendekat ke kafe. Nampak seorang mahasiswa rebel nan gondrong mengarahkan motornya masuk ke dalam. Sweater hijau yang ia kenakan terlihat kontras dengan bawahannya yang krem. Namun, itulah yang dikenakan Rafi saat bertemu karib lamanya, Alfian, yang mana keduanya hadir sebagai pembicara pada diskusi kali ini.

Rafi beranjak dari motornya, dan di pintu masuk, ia mengulurkan pelukan pada kawan dari Surabaya itu. Rafi yang berperawakan lebih tinggi lebih dulu mengucapkan salam hangat untuk Alfian. Selayaknya sahabat jauh, Alfian membalas salam dengan serupa. “Sudah lama kita tidak bertemu. Kapan terakhir kamu ke Surabaya?” kekeh Alfian. Rafi membalas sambil mengumumkan pujian untuk Alfian, “Sudah lama ya, pak. Saya jadi kangen martabak enak dari sampean.” Keduanya lanjut duduk berdua untuk bernostalgia cerita-cerita lama. 

Acara diskusi dimulai sekitar pukul 19.40. Sekitar 15 orang hadir sebagai peserta di awal acara, tetapi jumlah itu berangsur-angsur meningkat hingga sekitar 20 orang hadir saat acara berakhir. Moderator, yang juga menjadi teman Rafi, membuka acara dengan menyapa peserta. Kemudian, ia mempersilahkan Alfian dan Rafi untuk duduk di depan agar diskusi bisa segera dimulai. Yasmin, moderator diskusi, memulai diskusi dengan mengajukan pertanyaan yang telah disiapkannya. 

Permasalahan Pendidikan di Indonesia

“Sebenarnya, apa sih permasalahan pendidikan di Indonesia?” pantik Yasmin yang berbaju hitam dengan bawahan semacam jeans. Menanggapi itu, Alfian segera menyahut melalui mic di atas meja dan memberi salam antusias karena merasa senang diundang dalam acara berbasis komunitas tersebut. “Kalau di universitas, biasanya sogokan sertifikatnya kuat gitu,” guyon Alfian sambil bersiap menjawab pertanyaan.

“Sebenarnya pertanyaan ini cukup klise dan mendasar. Banyak permasalahan dalam pendidikan saat ini, tapi saya akan membagi fokus dalam dua sektor: human dan non-human,” jawab Alfian dengan kening mengkerut. Ia melanjutkan penjelasan dengan menjabarkan analisisnya bahwa pemerintah haruslah mendahulukan faktor non-human untuk perbaikan pendidikan, seperti sarana dan prasarana, gaji guru, juga fasilitas. Dengan bersungut-sungut, Alfian menjelaskan bahwa sistem semacam itu akan lebih efektif dalam menangani masalah pendidikan.

Selanjutnya, sebagai analogi, Alfian meraih gelas teh hangat di depannya yang masih terisi setengah. “Gelas ini kan benda mati. Oleh karena itu, saya bisa menggerakkan sesuka saya, karena dia non-human,” bunyi klutik terdengar saat Alfian menaruh kembali gelasnya. Penjual martabak itu, dengan semangat yang sama, melanjutkan penjelasan bahwa perbaikan pada sektor non-human bukan berarti mereduksi fungsi human. Justru dengan baiknya kualitas sektor non-human, kinerja human akan menjadi lebih baik, terang Alfian.

Tidak cukup dengan analogi, Alfian dengan mulut yang berkobar menceritakan pengalamannya sebagai guru. Dengan agak sedih, ia bercerita tentang satu pertanyaan yang diajukan oleh muridnya. “Pak, kenapa sekolah kita tidak punya lapangan sebagus sekolah sebelah?” tanya si murid dalam cerita Alfian. Sang guru bingung, dan karena tidak ingin memberi motivasi semu, ia menjawab, “ya kenapa kamu tidak sekolah di sana?”

Sesi bicara Alfian berlangsung agak lama hingga akhirnya ia sadar bahwa sosok di sampingnya, Rafi, telah menyiapkan jawaban dengan cara khasnya. Alfian menutup jawaban dengan mempersilahkan pertanyaan lain untuk masuk. Sementara itu, moderator memberi isyarat pada Rafi untuk menyampaikan pendapatnya.

Anak muda yang agaknya terilhami oleh Marx ini membawa diskusi pada ranah filosofis. Dengan semangat yang tak kalah dari Alfian, Rafi mencoba menjabarkan pendidikan melalui definisi ontologisnya. “Apa sih pendidikan itu?” pantik Mahasiswa Antropologi Universitas Brawijaya tersebut.

Semua peserta mendengarkan dengan khidmat saat Rafi melontarkan pertanyaan pemantik tersebut. Saat itu, di sekitar kafe pustaka, tidak ada yang lebih menggelegar dari nada suara Rafi. Selanjutnya, sahabat karib Alfian tersebut mulai menjelaskan pendidikan dari definisinya. “Pendidikan adalah pewarisan dunia,” jelasnya atas pertanyaan tadi. 

Berangkat dari sana, penjelasan mengenai pendidikan mulai mengalir kritis. Dalam analisis Rafi, banyak orang yang selalu mengaitkan pendidikan dengan sesuatu yang humanis nan liberatif. Mereka tidak tahu bahwa pendidikan selalu bersifat politis. Rafi memberi contoh ketika ibu mengajari anak untuk makan dengan tangan kanan, maka ia sedang mewariskan dunianya pada si anak. “Problem-nya, dunia apa yang diwariskan oleh guru pada muridnya?” pantik Rafi sekali lagi. 

Namun, jika berhenti di situ, Rafi seolah-olah ingin melawan pendidikan yang memberikan doktrin tertentu pada prosesnya. Padahal, proses pendoktrinan seperti itu tidak masalah sebab siswa Indonesia sendiri belum sanggup tanpa adanya arahan. “Kebebasan yang diberikan pada murid hanya akan membuat mereka bingung. Lalu, bagaimana solusi untuk pendidikan ini? Apa makna pendidikan pembebasan bagi murid?” ucap Rafi dengan keringat di dahi yang membuat rambutnya lepek.

Saat melanjutkan penjelasannya, rambut gondrong yang berantakan seolah membantu Rafi menorehkan ide-idenya. Rambut gondrong tersebut seolah berteriak tentang kebebasan berpikir yang harus dimiliki oleh siswa. Dan kebebasan itu, bagi Rafi, adalah pengetahuan itu sendiri dan guru memiliki tugas untuk memandu siswa untuk mencapai pengetahuan tersebut. 

Dengan tangan terangkat nan menggebu-gebu, Rafi berangkat mendefinisikan kebebasan dengan membaginya pada dua sektor: physically and cognitive. Jika physically, maka kebebasan tubuh fisik adalah definisinya. Namun dalam kognitif, jangkar kebebasan itu adalah pengetahuan. “Misalnya, saya ingin membaca Q.S. Ibrahim ayat 28, tapi saya tidak hafal, maka saya tidak bebas,” kata Rafi memberi contoh.

Dari situ, Rafi mengkritik pemerintah mengenai program merdeka belajar. Sebab, program seperti itu hanya akan menjadi tong kosong nyaring bunyinya. Seharusnya siswa ini diberi panduan untuk mencapai kebebasan [pengetahuan] tersebut. Kebebasan tidak berarti siswa dibiarkan begitu saja untuk belajar, tetapi guru harus memberikan petunjuk supaya siswa dapat mencapai pengetahuan tersebut. 

Dengan mic di tangan kiri, Rafi merangkum dua hal yang harus diajarkan pada para murid, yakni parrhesia (berani berkata benar) dan sapere aude (berani berpikir kritis). Dua hal itu, bagi Rafi, adalah dasar yang penting untuk melawan politisasi pendidikan. “Di tengah pemerintah bodoh yang juga membodohkan masyarakatnya, belajar adalah aktivisme. Karena dengan belajar, kita menentang rezim kebenaran,” ucap Rafi sambil mengakhiri sesi bicaranya. 

Moderator kembali mengambil alih kendali acara dan mempersilahkan para peserta untuk bertanya. Setelah itu, diskusi berlangsung hangat sekaligus kritis. Sekitar setengah dari peserta—yang sebagian besar adalah guru—menceritakan pengalamannya ketika mengajar. Menanggapi itu, Alfian dan Rafi, secara bergantian, juga menceritakan pengalaman mereka ketika mengajar dan belajar. 

Salah satu peserta bertubuh segar dan mengenakan sarung bercerita tentang ketimpangan sektor non-human di pulau Jawa dan di luarnya. Sambil memegang mic di tangan kanan, si bapak bercerita tentang masa kecilnya yang pernah mengenyam pendidikan di luar pulau Jawa. Semua orang mendengarkan dengan khidmat, tak terkecuali Alfian, kritikus pendidikan itu. 

Setelah si bapak selesai bercerita, Alfian segera menanggapi bahwa hal itu memanglah harus dibenahi secepatnya. Alfian juga memberi contoh kesalahan masyarakat Indonesia dalam mengambil point of view. “Ketika ada siswa yang berangkat sekolah dengan kaki berdarah karena tidak mengenakan sepatu, masyarakat akan memujinya sebagai anak yang tangguh dan akan meneruskan perjuangan bangsa. Mereka tidak pernah melihat apa faktor yang menyebabkan hal itu bisa terjadi,” tanggap Alfian dengan nada sedih.

Cerita lain bersambung dari pengalaman seorang guru muda. Dia laki-laki bertubuh kurus, berambut cepak, dan memiliki postur agak tinggi. Dengan duduk di pojokan bangku, ia bercerita tentang rumitnya bekerja sebagai guru PNS di sekolah negeri. Suatu ketika sang guru ini ikut demo tolak UU TNI, tetapi perilakunya itu segera mendapatkan represi dari kepala sekolah. “Kenapa kamu ikut demo-demo segala?” ucap sang bapak menirukan atasannya. Padahal, bela sang guru muda, ia sudah selesai mengajar dan tidak mengenakan atribut apapun saat itu. “Artinya, saya demo berdasarkan keinginan sendiri,” kesal sang guru muda.

Diskusi masih terus berlangsung hingga penjaga kafe pustaka mematikan lampu dalam. Artinya, kafe akan segera tutup. Saat itu, jam digital menunjukkan pukul 22.03, tetapi di wajah para peserta, terlihat bahwa masih banyak hal yang perlu didiskusikan dengan kedua pemateri. “Diskusi ini pasti menyenangkan, dan keterbatasannya pasti hanyalah waktu,” ucap Alfian di awal yang kemudian terwujud di akhir diskusi. Moderator menutup acara dan para peserta berangsur-angsur meninggalkan tempat.

Ternyata Problemnya Adalah Guru

Alfian yang sudah lama tak berjumpa dengan Rafi itu ingin lanjut bernostalgia. “Ayo ngopi, Fi. Mumpung kita ketemu,” ajak Alfian sambil meraih jaket jeans hijaunya di meja. Maka setelah acara itu, Rafi, Alfian, beserta dua peserta yang masih belum puas berangkat ke Photokopi untuk berbincang. 

Sesampainya di sana, tiga motor bergantian untuk diparkirkan oleh penjaga. Ketika beranjak masuk, penjaga parkir langsung mencegat empat orang tersebut. Tak ingin berlama-lama, Alfian mengeluarkan uang Rp10.000 untuk tiga motor. Urusan beres dan kebetulan di teras luar terdapat empat kursi kosong. “Di sini saja, deh,” ajak Rafi setelah melihat tempat di dalam sudah penuh.

Dua rokok disulut mendampingi lika-liku pembicaraan: Alfian berhadapan dengan Rafi; begitu juga dengan dua peserta tadi. “Bukannya sekarang banyak guru yang tidak bisa literasi, pak?” tanya salah satu peserta memulai obrolan. Mulut yang di sekitarnya penuh dengan bulu itu bersiap menjawab, “bener, mas. Sebenarnya problem-nya di situ. Kalau ngomongin gaji guru, banyak guru di Indonesia yang gajinya lebih dari standar. Namun, hal itu berbanding terbalik dengan kompetensi gurunya,” jawab Alfian sambil memegang rokok yang disulutnya.

Pendidikan menjadi topik utama obrolan sebab memang tujuan obrolan ini adalah meneruskan diskusi di kafe pustaka yang terbatas oleh waktu. Salah satu peserta bercerita tentang profesinya sebagai guru. Alfian dan Rafi menanggapi dengan pengalaman-pengalaman mereka. Namun, topik-topik lain juga muncul, seperti pembicaraan tentang Karl Marx. Obrolan berlanjut ke sana kemari dengan dengan topik yang bermacam-macam. 

Pukul 00.02, Alfian minta undur diri sebab dirinya hendak kembali ke Surabaya. Obrolan ditutup dan kami bersalaman kemudian Rafi mengantarkan Alfian ke stasiun. Setibanya di sana, mereka mendapati terminal yang beristirahat dari aktivitas. Maka malam itu, guru Bahasa Indonesia itu tidak jadi pulang dan terjun ke rumah Rafi untuk menginap.

Penulis: Muhammad Tajul Asrori

Editor: Maria Ruth Hanna Lefaan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.