MENGINGAT KEMBALI SEJARAH KELAM DI JAWA TIMUR: BEDAH BUKU “MAKAM TANPA NAMA”

0
Fotografer: M. Haidar Sabit (Kontribusi Pembaca)

MALANG-KAV.10 Malam itu, Rabu (8/5), Kafe Pustaka terlihat penuh oleh orang-orang yang menghadiri acara bedah buku Makam Tanpa Nama: Mati dan Bertahan Hidup di Tengah Kekerasan Antikomunis di Jawa Timur karya Vannessa Hearman. Pelangi Sastra dan beberapa komunitas lainnyalah yang menyelenggarakan acara ini. Bangku-bangku dipenuhi oleh pengunjung yang khidmat menunggu acara dimulai. Kafe Pustaka kemudian berangsur hening pada saat moderator membuka acara.

Buku yang dibedah pada acara malam itu membahas tentang kekerasan antikomunis yang berlatar pada tahun 1965-1966, pasca peristiwa G30S. Selepas terjadinya peristiwa G30S kala itu, terjadi kekerasan, penangkapan, hingga penghilangan nyawa secara besar-besaran. Terlebih di Jawa Timur. 

Sesuai judulnya yang menyoroti Provinsi Jawa Timur, Dosen Sejarah Universitas Negeri Malang Arif Subekti, bahwa memang Jawa Timur merupakan salah satu basis massa kaum kiri bahkan sebelum pecahnya tragedi 1965. Ia yang pembicara waktu itu menerangkan lebih lanjut bahwa konsentrasi basis berada di Kediri dan Blitar Selatan. 

Hal ini juga didukung oleh pernyataan dari Moh. Fikri, selaku pembicara juga yang merupakan Dosen Sastra dan Bahasa Indonesia UIT (Universitas Islam Tribakti) Lirboyo Kediri, “Beberapa kisah [tragedi] ‘65 itu memang dimulai sebelum ‘65 itu sendiri. Bagaimana PKI [Partai Komunis Indonesia] dan kroni-kroninya BTI [Barisan Tani Indonesia], Lekra [Lembaga Kebudayaan Rakyat], dan yang lain, Gerwani [Gerakan Wanita Indonesia] itu, di Kediri sangat kuat.” 

Malam berlanjut,  para pembicara memberikan pendapat-pendapat mereka perihal bagian yang diterangkan pada buku karya Vannessa itu. Di dalam bukunya, Vannessa menceritakan kisah-kisah masyarakat sipil yang menjadi korban kekerasan hingga penghilangan nyawa. Arif berpendapat bahwa Vannessa menggunakan pendekatan life history untuk menceritakan pengalaman-pengalaman korban dalam bukunya. Dengan demikian, penulis telah cukup untuk  membangun kembali narasi pengalaman korban yang tidak tercatat di catatan sejarah. Catatan sejarah kemudian lebih banyak berisi tentang sejarah politik yang terjadi saat itu. “Sementara narasi orang kecil, apalagi yang kalah itu, hanya ada di cerita tutur lisan. Dari orang tua ke anaknya dan seterusnya,” lanjut Arif.

Fikri juga turut memberikan pandangannya, terlebih perihal pengambilan latar tempat, yaitu Kediri. Di mana menurut Fikri, peristiwa pasca G30S ini memberikan dampak yang besar pada masyarakat Kediri kala itu. Ia menerangkan bahwa adanya keterlibatan masyarakat beragama islam yang turut serta dalam tindak kekerasan antikomunis dengan para tentara. Hal ini mengakibatkan trauma terhadap kalangan islam serta rasa dendam pada sebagian masyarakat yang menjadi keluarga dari para korban. “Ada beberapa desa yang saat itu basisnya BTI itu yang hari ini bisa kita lihat mereka [masyarakat desa] mayoritas tidak beragama Islam. Karena memang menganggap yang mengeksekusi adalah dari kalangan Islam,” terang Fikri. 

Memasuki sesi tanya jawab, Riski–salah seorang audiens–bertanya tentang alasan di balik citra negatif yang dimiliki PKI. “Sesuatu yang kalah pasti akan didemonisasi karena seperti yang kita tahu, sejarah adalah milik pemenang,” jawab Arif. Ia menjelaskan bahwa hal ini dapat dilihat dari film G30S/PKI yang awalannya saja sudah menampilkan Alquran yang diinjak-injak, membuat citra PKI saat itu sebagai organisasi yang buruk di mata masyarakat. Dalam buku ini juga menyatakan bahwa kejadian culik-menculik pada September 1965 adalah permasalahan internal Angkatan Darat sendiri. Sehingga Arif menyimpulkan untuk menutupi permasalahan tersebut, PKI lah yang dikambinghitamkan. 

Bedah buku ini diakhiri dengan pernyataan Arif, “Penelitian mengenai sejarah ‘65 itu rata-rata penelitian mandiri atau penelitian yang berdana internasional [tidak dari pemerintah] terbit dan diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia.” Ditutup dengan kesimpulan moderator bahwa acara tersebut tidak hanya berbagi tentang bagaimana sejarah bisa dibungkam dan dapat dibangkitkan kembali.

Penulis: Nabila Riezkha Dewi dan Sofidhatul Khasana
Editor: Badra D. Ahmad
Fotografer: M. Haidar Sabid (Kontribusi Pembaca)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.