PEMUTARAN FILM TURANG CIPTAKAN DISKUSI NARASI HEROISME RAKYAT KECIL

MALANG-KAV10. Pada Sabtu (26/04) lalu, beberapa kolektif di Malang menggelar acara nonton bareng (nobar) dan diskusi film Turang, salah satu kolektif itu adalah Sabtu Membaca. Nobar dan diskusi film Turang ini diadakan di Coffee Local. Acara ini menghadirkan Francis Hera, sejarawan Universitas Ciputra dan Mundi Rahayu, guru besar Cultural Studies UIN Malang, sebagai pemantik diskusi. Film yang hilang selama puluhan tahun ini menyuguhkan sebuah narasi yang jarang diangkat dalam film perang Indonesia dengan menonjolkan heroisme rakyat Sumatera Utara.
Setelah pemutaran film pada sesi diskusi, Mundi menjelaskan bahwa film bukan sekedar hiburan, tetapi juga sarana untuk menyebarkan ideologi. Ia mengungkapkan bahwa Turang menawarkan ide radikal, yaitu tidak meng-heroisme-kan militer atau tentara. “Sutradaranya, Bachtiar Siagian itu mempunyai ideologi yang jelas. Jadi, dia lebih ingin mengedepankan bahwa hero itu bisa semua orang. Hero itu bisa ya rakyat kebanyakan sebenarnya adalah hero gitu,” ujar Mundi, menyoroti ideologi sutradara.
Ajmal, salah satu panitia acara, menjelaskan bahwa acara ini adalah hasil kerja sama antara penyelenggara dan distributor film yang juga anak dari sutradara Turang. Ajmal mengungkapkan bahwa dia ingin menciptakan diskusi dengan adanya acara ini. “Kira-kira masih bisa diterima enggak, tema-tema narasi dengan nasionalisme? Terus tentang pemuda yang memperjuangkan negerinya yang gitu-gitu lah. [Tema-tema film tersebut] Masih relevan enggak sih?” ujar Ajmal.
Ajmal juga menambahkan bahwa Turang dipilih karena film ini mengedepankan narasi heroisme bukan hanya untuk militer, melainkan juga untuk rakyat kecil.
Udin, salah satu partisipan acara, menyetujui penyampaian Prof. Mundi mengenai ide film Turang yang tidak meng-heorisme-kan TNI. Menurutnya, film ini tidak hanya sekadar hiburan, tetapi juga mengandung visi-visi ideologis yang penting. Ia juga sependapat dengan narasi subversif film dan penggambaran heroismenya.
Penulis: Mariana Safina Nirmala dan Naufal Rizqi Hermawan
Editor: Maria Ruth Hanna Lefaan
