NOBAR DAN DISKUSI “ISTANBUL UNITED”: KEMANUSIAAN DI ATAS RIVALITAS

0
Fotografer: Dhito Priambodo

MALANG-KAV.10 Commonhood menggelar diskusi film bertajuk “Istanbul United” pada Sabtu (26/4) di Kedai Mie Remajah, Kota Malang. Acara ini menghadirkan Adityo Fajar yaitu seorang penulis, Ichwandani dari Spirit of Arema Malang, dan Khoirul Senang dari Commonhood sebagai moderator. Acara ini bertujuan membuka ruang diskusi di Kota Malang melalui medium film, musik, dan bedah buku.

Istanbul United merekam momen rivalitas keras para ultras antara Besiktas, Fenerbahce, dan Galatasaray yang diwarnai bentrokan. Momen inilah yang menciptakan sebuah rasa solidaritas dalam aksi protes Gezi Park tahun 2013. Para suporter yang dikenal akan fanatismenya terhadap klub dan permusuhan terhadap suporter rival, justru akhirnya bersatu dalam aksi damai di Gezi Park. Para suporter ini menyingkirkan perbedaan mereka, membaur warga sipil, dan menentang ketidakadilan. Berbekal pengalaman menghadapi kekerasan aparat, suporter menjadi kekuatan penting dalam demonstrasi tersebut.

Ichwandani, melalui film tersebut merefleksi kultur suporter di Indonesia, terkhusus suporter di Malang. Pemuda yang akrab dipanggil Dani ini melihatnya dari peristiwa Lemah Tanjung di Kota Malang yang mengubah hutan kota menjadi wilayah perumahan pada tahun 2009. “Nah, [saat peristiwa Lemah Tanjung] itu, peran suporter belum ada. Jadi kita tidak menyadari bahwa itu adalah sebuah gerakan politik yang merampas hak ruang terbuka di Kota Malang,” jelasnya.

Lebih lanjut, Tragedi Kanjuruhan menjadi bukti bahwa rivalitas harus dikembalikan pada posisinya, yakni persaingan bukan permusuhan. “Kalau permusuhan kita bunuh-bunuhan. [Seharusnya] kita kembali ke persaingan. Sebenarnya kekecewaan itu sampai hari ini,” ujar Dani. 

Adityo Fajar menjelaskan mengapa suporter di Indonesia tidak bisa mengaplikasikan hal yang sama seperti di film. Menurutnya, meskipun ada  kemiripan antara kasus di Istanbul dan Malang, situasinya tetap berbeda. Faktor krusial seperti sejarah, budaya, serta kelas sosial menjadi jarak yang membedakan keduanya. “Jadi memang kita tidak bisa membandingkan situasi yang berbeda dan orang yang berbeda untuk menghasilkan sesuatu yang sama persis,” ujarnya.

Salah seorang audiens, Ervan, turut membagikan pandangannya dalam diskusi. Ia menyatakan bahwa gerakan usut tuntas Tragedi Kanjuruhan sudah dibangun secara masif. Akan tetapi, gerakan ini dihadapkan dengan munculnya konflik horizontal. Menurutnya, terdapat dinamika penghianatan dari sebagian kelompok suporter lain yang menghambat semangat perjuangan keadilan keluarga korban. Ervan menilai bahwa beberapa golongan suporter lebih memilih untuk fokus mendukung tim daripada melanjutkan perjuangan korban, sehingga menciptakan perpecahan dalam gerakan. “Tapi dari beberapa gerakan itu, kawan-kawan [kubu suporter] sebelah itu ya bisa dibilang mengkhianati kesepakatan kita lah,” ungkap Ervan.

Pernyataan tersebut direspons Fajar, dia memahaminya sebagai dinamika saat berhadapan dengan orang dari barisan sendiri. Hal ini akhirnya selisih karena perbedaan pendapat atau pengkhianatan orang-orang terhadap isu yang sedang diperjuangkan. Lebih lanjut, ia menilai bahwa perbedaan pandangan tidak mewakili kelompok secara komprehensif. “Mencoba membuka kemungkinan bahwa mungkin yang berkhianat pimpinan-pimpinannya. Mungkin sebagian akar rumputnya, bilamana kita menemukan cara yang tepat, bisa duduk bersama lagi dengan kita,” Ujarnya. Fajar percaya bahwa masih banyak orang yang peduli untuk memperjuangkan keadilan atas Tragedi Kanjuruhan.

Diskusi ditutup dengan seruan untuk memaknai kembali arti rivalitas sehingga tidak memunculkan permusuhan. Dani menegaskan bahwa sepakbola yang dicintainya adalah sepakbola perlawanan bukan permusuhan. Dan dalam konteks Malang, Fajar mengingatkan kita bahwa 135 nisan pasca tragedi merupakan hutang bagi kita semua.

Penulis: Dhito Priambodo & Muhammmad Hanif Pratama
Editor: Nadia Rahmadini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.