TAK HADIRI PERTEMUAN, KOORDINATOR BEM MALANG RAYA YANG DICATUT BULLETIN KOREM BERI TANGGAPAN

MALANG-KAV.10 Bulletin Korem Baladhika Jaya mencatut Koordinator BEM Malang Raya sebagai salah satu unsur mahasiswa yang hadir dalam pertemuan Rabu (16/4) lalu. Menurut Bulletin Korem, pertemuan ini merupakan audiensi antara mahasiswa dengan pihak militer yang dilaksanakan di Markas Komando Distrik Militer 0818 Kepanjen, Malang. Akan tetapi, Koordinator BEM Malang Raya (MR) Gilang Dalu menyebut tak tahu-menahu perkara audiensi ini.
Gilang bahkan mengaku tak mendapatkan undangan pertemuan ini. Pencatutan BEM MR yang dilakukan Bulletin Korem juga tanpa sepengetahuannya. “Intinya saya gak tahu. Tidak ada informasi dan komunikasi yang masuk ke saya,” tegasnya saat diwawancara melalui pesan singkat pada Selasa (22/4) lalu.
Menanggapi peristiwa salah catut ini, Koordinator BEM MR akan melakukan beberapa langkah. Selain memberikan keterangan melalui berita ini, ia akan mendesak Kodim untuk melakukan klarifikasi. “[Pendesakan ini] merupakan langkah awal dari kami karena mereka yang mencantumkan nama kami–BEM Malang Raya,” sambung Gilang. Selanjutnya, ia berencana untuk membuat rilis pers demi jelasnya kejadian ini.
Hal ini senada dengan saran perwakilan LBH Pos Malang Wafdul Adif. Hemat Adif, BEM MR perlu melakukan pernyataan sikap baik secara individu oleh Gilang maupun secara kelembagaan BEM MR dalam bentuk video. Pernyataan sikap langsung disebut Adif akan membuat publik percaya dan dapat menilai secara terbuka.
Di samping itu, Adif sangat menyayangkan pertemuan yang berlangsung di Kodim lalu. Ketua Divisi Tanah dan Lingkungan LBH Pos Malang tersebut menilai bahwa pertemuan semacam ini merupakan bentuk penggembosan dan pengondisian gerakan.
Pandangannya, semua elemen gerakan seharusnya menjaga jarak dari semua pihak pelaku. Sikap menjaga jarak ini bertujuan untuk menghindari penggembosan dan mencegah terjadinya dualisme gerakan. “[Sehingga] tidak ada framing-framing buruk yang kemudian hari muncul gitu. Itu yang ditakutkan,” ujar Adif, Rabu (23/4).
Adif juga menangkap arah pencitraan yang dilakukan Bulletin Korem di berita itu. Meskipun tidak eksplisit dituliskan, bagi Adif berita tersebut membuat mahasiswa yang hadir di pertemuan tersebut seolah-olah mendukung UU TNI.
Penulis: Badra D. Ahmad
Editor: Dimas Candra Pradana
Kontributor: Mohammad Rafi Azzamy
