NASIB TRAGIS WI-FI KANTIN FIB: KETIKA RENOVASI FISIK BERBENTURAN DENGAN SUSAH SINYAL

Pernahkah kamu merasakan kekecewaan mendalam saat melihat seseorang dengan penampilan menarik, tapi ternyata kepribadiannya nol besar? Nah, itulah metafora sempurna untuk kantin Fakultas Ilmu Budaya (FIB) saat ini. Tampak mempesona hasil renovasinya, tapi tetap saja “kosong di dalam” — dalam hal ini, kosong sinyal internetnya.
Kantin FIB telah mendapatkan make-over yang membuatnya tampil lebih kece dan Instagram-able. Tapi, seperti hubungan toxic yang dipaksakan berlanjut, ada masalah mendasar yang tak kunjung diselesaikan: jaringan Wi-Fi yang rasanya lebih sulit ditangkap daripada jodoh di usia kepala tiga.
Apa gunanya tempat nongkrong aesthetic kalau untuk membuka Instagram saja harus muter-muter mencari posisi “sakti” demi mendapatkan satu bar sinyal? Ironis, bukan? Di era digital yang katanya serba terkoneksi, kantin kampus yang seharusnya menjadi oase bagi mahasiswa malah jadi gurun pasir jaringan internet.
“Maaf Bu/Pak, masih loading…” — kata-kata yang menjadi mantra sehari-hari saat bertransaksi di kantin FIB. Antrean mengular layaknya tiket konser idol K-pop, bukan karena banyaknya pengunjung, tapi karena semua orang sibuk mengarahkan ponsel mereka ke segala penjuru mata angin, berharap sinyal ajaib muncul dan menyelamatkan transaksi QRIS mereka.
Bayangkan betapa absurdnya: kampus yang bangga dengan berbagai slogan soal era digital dan kecerdasan buatan, tapi untuk membayar secangkir kopi saja perlu perjuangan layaknya mencari sinyal di tengah hutan belantara. Para pembeli mengeluh, penjual frustasi, dan uang digital yang harusnya memudahkan malah jadi sumber drama tanpa akhir.
Untuk menambah lapisan kekesalan, cukup jalan beberapa meter ke kantin Halalan Toyyiban atau FISIP, dan — sim salabim — sinyal internet mengalir deras bagai air terjun di musim hujan. Ini seperti melihat teman SMA-mu yang dulu biasa-biasa saja, tiba-tiba posting foto liburan di Eropa sementara kamu masih berjuang dengan mi instan di akhir bulan.
Keadaan ini menimbulkan pertanyaan eksistensial: apakah pengelola kantin FIB punya dendam pribadi dengan teknologi? Atau mungkin ada filosofi tersembunyi yang terlalu dalam untuk dipahami mahasiswa biasa — semacam “untuk mendapatkan ilmu, kau harus melepaskan diri dari belenggu dunia maya”?
Sementara Universitas Brawijaya dengan bangga mengumumkan pengembangan AI, di sudut kampusnya masih ada mahasiswa yang berjuang mendapatkan sinyal untuk mengirim pesan “Aku di kantin FIB” ke teman mereka. Bukankah ini seperti ingin terbang ke bulan padahal berjalan di tanah saja masih tersandung-sandung?
Jika kampus ingin serius dengan inovasi teknologi, mungkin sebaiknya mulai dari yang dasar dulu: pastikan mahasiswanya bisa mengakses Google tanpa harus melakukan ritual khusus atau berdoa pada dewa jaringan internet.
Meski rasanya seperti menunggu hujan di padang pasir, harapan akan perbaikan sinyal Wi-Fi di kantin FIB tetap menyala di hati para mahasiswa—meskipun sinyalnya tidak. Para korban sinyal lemah ini tetap setia mengunjungi kantin, membawa powerbank cadangan dan paket data darurat, sembari bermimpi suatu hari nanti mereka bisa posting foto makanan mereka secara real-time, bukan setelah berjalan ke fakultas sebelah.
Jadi, kepada pihak kampus yang mungkin (atau mungkin tidak) membaca tulisan ini: renovasi fisik itu bagus, tapi koneksi internet yang stabil itu lebih dari sekadar fasilitas—itu kebutuhan dasar mahasiswa abad 21. Karena, percuma punya kantin secantik cover majalah arsitektur, kalau untuk membuka email saja kita harus naik ke atap gedung dengan pose bak penangkal petir.
Penulis: Lila Ayu Candra dan Khansa Alifah Salwani
