AKSI DI BALAI KOTA MALANG: TIM MEDIS MENGALAMI PELECEHAN SAAT MENOLONG DEMONSTRAN

MALANG-KAV.10 Minggu (23/3), aksi bertajuk “Tarik Militer ke Barak Episode 2” di Balai Kota Malang berubah menjadi medan mencekam. Aksi yang semula bertujuan menolak revisi Undang-Undang TNI yang membuka ruang militerisasi sipil, diwarnai wajah kekerasan aparat negara yang tidak terduga.
Seorang sukarelawan medis perempuan, yang harus kami lindungi identitasnya, bersama tim paramedis lainnya menjadi saksi dan korban kekerasan aparat. Ia yang sedang menangani demonstran luka-luka di posko, tiba-tiba harus menghadapi serangan dari pihak yang seharusnya melindungi. “Dia sedang membantu dua demonstran laki-laki yang mengalami sesak napas dan panic attack. Sambil meminta mereka bernapas pelan, tiba-tiba dari belakang terdengar keributan,” tutur saksi mata yang enggan disebutkan namanya.
Kekerasan datang tanpa peringatan. “Saya merasakan pukulan di punggung kanan saat jongkok. Saat berdiri, pukulan kembali mengenai punggung bawah,” cerita korban dengan suara gemetar. Meski menggunakan lambang medis, tim paramedis tetap menjadi target. “Kami berlari mencari tempat aman, tapi polisi terus mengejar. Saya berteriak ‘Pak, ini saya medis! Masnya sakit!’, tapi tidak didengar,” ungkapnya dengan nada sedih.
Di posko yang diharapkan aman, suasana semakin memburuk. “Polisi mengelilingi posko sambil meneriakkan kata-kata kasar. ‘Lonte! Ngapain di sini! Pulang! Motor kamu di mana?!’” teriak aparat sambil mengancam. Korban mengaku merasa tertekan dan takut. “Saya hanya bisa meminta maaf dan berjanji pulang. Tapi seorang aparat mendorong saya dari belakang. Saya hampir jatuh,” katanya dengan suara bergetar.
Setelah berhasil menyelamatkan diri, korban berbagi pesan untuk demonstran lain. “Kami dari tim medis yang membantu kalian, tapi nyatanya kami juga kena serang. Jadi tolong jaga diri dengan baik-baik. Parkir motor jauh dari lokasi aksi, dan jangan tinggalkan barang berharga,” pesannya dengan nada khawatir.
Kepada masyarakat, ia mengajak untuk lebih peka. “Jangan apatis terhadap politik. Kondisi negara ini memengaruhi kita semua. Jangan subjektif, tetap objektif,” katanya dengan suara yang penuh harapan. “Untuk teman-teman pers, semoga kalian selalu aman. Dokumentasi kalian sangat membantu kami paramedis dan korban lainnya,” ucapnya dengan penuh penghargaan.
Penulis: Shafa Qolbu Dwi Putri
Editor: Mohammad Rafi Azzamy
