LAMARAN YANG DIRENGGUT GAS AIR MATA

Sumber: Arsip Keluarga Nafisah
MALANG-KAV.10 Warung pecel di dalam gang seberang kantor Polresta Malang itu tampak sepi. Matahari sudah beranjak, sementara kenangan tidak kunjung lekang di etalase. Sebuah poster kecaman tertampal di sudut: gambar sesosok polisi mengarahkan gas air mata ke tribun. Kalimat getir menyertai foto itu: “Pak Polisi, yang Kau Bunuh itu Anakku”.
Suliani pemilik warung itu. Dia masih ingat betul tanggal 28 September 2022, hari ulang tahun ke-24 putrinya, Nafisatul Mukayaroh. Hari jadi itu dirayakan serba jatmika bersama El, kekasih Nafisah yang milad sepekan sebelumnya. Mereka bertukar kado, makan bersama, dan membahas rencana lamaran yang akan dilakukan El.
“Tanggal 1 Oktober itu, Nafisah berangkat seperti biasa. Habis Maghrib, [dia] ganti baju, nunggu dijemput,” kenang Suliani dengan suara bergetar. El menjemput Nafisah dengan sepeda motor skuter merah bersama Reno, calon ipar Nafisah. Bertiga, mereka tak pernah absen menonton pertandingan Arema bersama.
Cinta Mengalahkan Segalanya
El-Vidually Constantino Dafretes Kumanireng Fernandez lelaki Flores. Dia mengenal Nafisah pertama kali lewat Instagram sekitar 2018. Saat itu, El baru pulang praktik kerja di Banjarmasin. Nafisah mahasiswi jurusan Perhotelan Universitas Merdeka, sementara El bekerja di Percetakan Maestro, Bondowoso, sambil mengembangkan bisnis thrift shop. Keduanya bertemu saat El kelas 3 SMK di SMKN 4 Malang dan Nafisah baru mulai kuliah.
“Cinta mereka murni,” tukas Sulifah, ibunda El. “Kalau ada masalah, mereka selalu mengutamakan perasaan orang tua. El bilang, ‘Kalau orang tua senang, rejeki pasti mengikuti.’” Gemercik hujan meningkahi cerita Sulifah malam itu.
Perbedaan keyakinan sempat jadi kendala. Sebagai pengikut Kristus dan penerus marga Fernandez, El tak mau mengingkari hatinya jatuh pada seorang gadis Muslim. Pilihan harus diambil, dan El meninggalkan keyakinannya demi Nafisah. “Kalau untuk cinta sejati, saya ikhlas,” timpal Daniel, ayah El. “Saya juga orang Timur, tetapi bisa jalan sama ibunya yang Muslim. Kenapa El tidak?”

Fotografer: Rafi Azzamy
Keluarga Nafisah menerima El dengan tangan terbuka. “Dia seperti anak sendiri,” kisah Udin, ayah Nafisah. “Kalau ke sini selalu salam, ‘Assalamualaikum Bu,’ langsung ke kamar saya, ngobrol di situ,” sahut Suliani.
El dan Nafisah saling menguatkan. Ketika Nafisah harus operasi telinga karena kelainan bawaan, El turut menemani. Saat El jatuh sakit, Nafisah merawatnya meski El jarang mengeluh. “Mereka kompak,” tegas Suliani. “Dari mulai jualan thrift sampai jual tiket Arema, selalu berdua. Kalau ada masalah saling support.”
El bahkan pernah membatalkan rencana tamasya ke Surabaya untuk mengambil barang thrift. Namun, Nafisah tetap mendukung. Mobil sewaan untuk mengambil barang itu kelak jadi saksi bisu pencarian jenazah mereka di antara 135 korban Malam Pembantaian di Kanjuruhan.
Masih tersimpan 11 pasang sepatu di rumah El di kawasan Dieng. Rencananya, sepatu itu hendak dia berikan ke Reno. Sepeda motor trail dan skuter merah kesayangannya pun sudah balik nama, seakan-akan El sudah tahu, hidupnya akan berakhir di tribun G Stadion Kanjuruhan. “Ternyata anak-anak terlalu baik untuk dunia yang kotor ini,” ujar Suliani lirih. Matanya tak lepas dari foto Nafisah dan El, tersenyum bahagia dalam busana batik senada.
Mimpi Tak Terwujud

Fotografer: Rafi Azzamy
Foto-foto berbingkai uang kertas menghiasi sudut rumah di Kampung Putih, Malang itu. Foto terbesar diambil sewaktu Nafisah diwisuda. Di hari bahagia itu, El datang bersama keluarga besar mengenakan batik seragam.
“El bilang ke Nafisah, ‘Aku mau beli rumah [buat] ibuku dulu, baru kita nikah’.” Sulifah mengusap air mata mengenang janji putranya itu. Rumah kontrakan yang sudah dibayar hingga 2027 itu kini jadi saksi bisu mimpi yang tak terwujud.
Nafisah dan El berusaha mandiri sejak muda. Dari usaha thrift shop hingga jualan kaos Malangnese, mereka membangun masa depan tanpa ingin membebani orang tua. “Stok terakhir kaos desainnya masih ada tiga,” ujar Suliani sambil menunjuk tumpukan pakaian yang kini tersimpan dalam kontainer.
Keseriusan hubungan mereka terlihat dari cara El memperlakukan keluarga Nafisah. Setiap ada kesempatan, ia membawakan oleh-oleh untuk Suliani. “Kalau mau pergi nonton bola pun, dia selalu pamit sama saya,” kenang Suliani, menuding kursi di teras rumah samping rombong pecel, tempat El biasa duduk.
Di samping kesibukan sebagai karyawan Maestro, El tetap memiliki waktu untuk menjalankan bisnis online miliknya. “Malam-malam itu ya jualan online gitu. El bilang pergi COD. Lalu saya bilang, [apakah] malam-malam [begini] kamu enggak istirahat?” Calon menantunya yang pekerja keras itu berkesan abadi di hati Suliani.
Di tengah kesibukannya, El tak lupa berbagi. Nafisah pernah bercerita pada keluarganya bahwa El sering memberikan pakaian kepada teman-teman yang membutuhkan. “Mau dijual,” El selalu beralasan saat ditanya tentang pakaiannya yang menghilang.
September 2022 seharusnya menjadi bulan istimewa. El berulang tahun tanggal 21, Nafisah tanggal 28. Usia mereka berbeda satu tahun satu minggu. Di antara dua tanggal itu, mereka merayakan lima tahun kebersamaan. Tak ada yang tahu, itulah perayaan terakhir mereka.
“Waktu ulang tahun itu, El kasih kue [ke] saya. Langsung enggak sampai berapa hari, ya, itu langsung meninggal.” Daniel terdiam sesaat. “Saya kadang ngomong [seperti ini] enggak beres, masih mikirin anak saya.”
Lamaran direncanakan tanggal 2 Oktober 2022. Namun, agenda hari itu berubah jadi pencarian jenazah. Mobil yang sudah disewa untuk mengambil barang thrift di Surabaya digunakan untuk berkeliling rumah sakit, mencari dua sejoli yang tak pernah pulang.
“Saya inget terakhir kali Nafisah bilang, ‘Bu, kalau teman-temanku tidur di sini boleh enggak?'” Suliani ingat, putrinya sering menampung teman-teman dari luar kota. “Sekarang malah dia yang enggak pernah pulang.”
Di kamar Nafisah, masih tersimpan kebaya yang akan dipakai saat lamaran. Baju couple yang mereka pesan untuk acara itu masih terlipat rapi dalam plastik. “Katanya mereka punya rencana akhir tahun. Tapi Allah punya rencana lain.”
Malam Kelabu
Sore itu, El teliti membersihkan semua sepatunya. Aneh. Dia tak pernah melakukan ini sebelumnya. Di depan rumahnya, skuter merah terparkir rapi. Dia mengenakan baju baru pemberian Nafisah—hadiah ulang tahun yang dia terima beberapa hari lalu.
“Cuma ini, kan biasanya kalau bersihin sepatu gak semua. Sepatunya ada 11 pasang ya?” Sulifah coba mengingat. “Iya. Sepatunya masih ada satu ini. Dia gak biasa sikat. [Saya tanya], ‘Lho, ngapain kamu sikat sepatu?’”
Suliani masih ingat saat Nafisah berangkat seperti biasa setelah Maghrib. Tak ada yang ganjil. Seperti yang sudah-sudah, putrinya pamit menonton Arema bersama El dan Reno. Namun malam itu, El sempat menanyai Reno, “Kalau Mbak sama Mas sudah nikah, kamu nonton dengan siapa?”
Skuter merah mengantarkan mereka ke stadion, berdesakan seperti biasa. El di depan, Nafisah di tengah, dan Reno di belakang. Mereka tertawa sepanjang jalan, membahas rencana mengambil barang thrift di Surabaya. Mobil sewaan sudah siap. Mereka akan berangkat pagi-pagi besok.
“Dia belum pernah makan di rumah kalau mau pergi nonton.” Sulifah terisak. “Tapi hari itu [mereka] makan di rumah. Saya juga heran. Kok bisa?”
Pukul 22:15 WIB, kekacauan pecah di Stadion Kanjuruhan. Gas air mata ditembakkan ke tribun. Lampu dimatikan. Pintu-pintu ditutup. “Biasanya pintu keluar kan selalu terbuka. Ini sudah dibuka, malah ditutup lagi.” Suliani berusaha menggambarkan detik-detik menegangkan seperti diceritakan saksi mata.
Reno selamat, dengan memikul trauma sepanjang hidupnya. Dengan mata kepala sendiri, dia melihat abangnya berusaha menyelamatkan Nafisah yang sesak napas. “Dek, pinjam syalnya,” El meminta syal Reno untuk menutupi wajah Nafisah dari semprotan gas air mata.
“HP Reno itu biasa dikumpulkan sama kakaknya.” Sulifah menjelaskan cara dia melacak posisi El lewat fitur Find My iPhone. “Lha, waktu itu kok dipegang sendiri.” Keanehan itu menjadi petunjuk pertama pencarian mereka.
Saksi mata melihat El sempat membantu korban lain sebelum tumbang. “Mungkin anak saya waktu itu masih [sempat] bantu orang lain. Soalnya ada saksi mata yang berkata kalau El itu sempat bantu orang lain,” ujar Sulifah.
Dengan mobil sewaan itu, Daniel menemukan El terbujur kaku dalam kantung jenazah. Wajahnya memar. Bekas luka belum mengering di kaki kanannya. “Saya buka [kantung jenazah], saya coba buka matanya. Enggak bisa sudah,” Daniel terbata-bata sewaktu mengenang penemuan jenazah putranya. “Mulutnya saya tarik, saya bilang, ‘El kamu ingat ayah enggak?'”
Nafisah dimakamkan di Pemakaman Samaan, sementara El di Sumbersareh Pisangcandi. “Cinta mereka terpisah dua makam.” Suliani menatap foto putrinya. “Tapi insya Allah mereka sekarang bersatu di surga.”
Keadilan yang Tak Kunjung Datang
Sholawat berkumandang malam itu. Suliani mulai membuatkan teh dan kopi untuk orang-orang di Mushola. Di seberang sana, Polresta Malang tegak nan angkuh. Warung alit itu seakan tidak gentar menantang gedung batu, dalam mana para pembunuh putrinya berkantor.
“Kami sudah ikhlas dengan kematian anak-anak,” Suliani berbicara pelan, matanya menerawang jauh. “Tapi kami tidak ikhlas dengan cara mereka membunuh anak kami.” Di dinding rumahnya, foto-foto protes pencarian keadilan berjajar rapi—sebuah galeri perjuangan yang tak kunjung usai.
Daniel kini rutin menghadiri aksi-aksi Tim Gabungan Aremania (TGA). Dia menunjukkan sebuah poster. “Polisi yang membunuh anakku justru naik pangkat,” tulis poster itu. Huruf-huruf besar menuntut pertanggungjawaban. Nico Afinta, Kapolda Jatim yang bertanggung jawab atas pembantaian malam itu, kini berbintang tiga di pundak.
Sebuah frame berisi uang kertas membingkai foto terakhir El dan Nafisah di tembok ruang tamu Suliani. “Mereka bilang sudah ada restitusi.” Suliani tersenyum getir. “Tapi apa bisa nyawa anak kami dihargai dengan angka?”
Bagi kedua keluarga, bantuan yang datang dari kepolisian terasa menciderai. “Mereka datang bawa beras, lalu [kami] difoto,” Sulifah mengenang pahit. “Ternyata itu dihitung restitusi. Bahkan parcel Natal untuk Pak Daniel mereka masukkan dalam hitungan.” Sulifah masih tak percaya bahwa nyawa putranya cuma seharga beras dan parsel Natal di mata negara.
Memikul trauma, Reno menolak bertemu psikolog. Dia enggan menceritakan apa yang ia saksikan malam itu. “Sampai hari ini dia tidak pernah mau cerita,” ujar Sulifah. Tatapannya kosong ke depan, ke ruang sebelah tempat Reno menonton televisi. “Dia melihat kakaknya mencoba menyelamatkan Nafisah dengan syal.”

Fotografer: Rafi Azzamy
Keluarga korban terus berjuang, meski kasus ini perlahan tenggelam dari pemberitaan. “Mereka yang menembakkan gas air mata ke tribun tidak tersentuh hukum.” Daniel menunjukkan foto-foto bukti yang dia kumpulkan. “Yang dihukum hanya [petugas] yang di lapangan, padahal perintah datang dari atas.”
Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) mengajukan restitusi 250 juta rupiah untuk setiap nyawa yang melayang dalam peristiwa Kanjuruhan. “Tetapi hakim menurunkan [nominalnya] jadi 15 juta.” Suliani menggelengkan kepala. “Tidak manusiawi. Bahkan kasus narkoba dihukum lebih berat dari pembunuh anak-anak kami.”
Di rumah El yang bersimpah duka, sebelas pasang sepatu masih tertata rapi. Motor trail dan skuter merah yang ia minta dibalik nama jadi saksi bisu firasat terakhirnya. “Mungkin dia sudah tahu.” Daniel menatap foto putra sulungnya. “Tuhan panggil mereka sebelum dunia yang kotor ini mengotori cinta mereka.”
“Kami akan terus mencari keadilan,” ujar Suliani sambil menatap beranda rumahnya. Di seberang sana, lampu-lampu Polresta masih menyala. “Kalau hukum manusia bisa dibeli, masih ada hukum Tuhan. Itu yang kami tunggu.”
Langit Malang menggelap, tetapi keluarga korban terus menanti cahaya keadilan yang entah kapan datang. Di dua makam yang terpisah, El dan Nafisah terbaring damai—sepasang kekasih membawa cinta ke alam keabadian, sebab tembakan gas air mata membunuh mereka sebelum berumah tangga.
Penulis: Mohammad Rafi Azzamy
Editor: Dimas Candra Pradana
Kontributor: Khairul Ihwan & Ayyashaq Yukan Prasetio (anggota magang)
