TANPA BANTUAN PEMERINTAH, KARANG TARUNA SEKABROM SUKSES GELAR MULTICULTURAL FESTIVAL

0
Fotografer: Dhito Priambodo

Karang Taruna RW 09 Kampung Sekabrom, Kelurahan Oro-oro Dowo, Kota Malang berhasil menggelar Multicultural Festival yang menggabungkan perayaan Isra Mikraj dan Capgome pada 14-16 Februari 2025. Festival yang bertujuan mempererat toleransi antarumat beragama ini terselenggara tanpa dukungan pemerintah kota, meski telah disampaikan janji dukungan sebelumnya.

“Sama sekali tidak ada support dari pemerintah. Semuanya dari uang pribadi, uang RW, dan Karang Taruna. Bahkan untuk barongsai yang rencananya mau dapat sumbangan dari kelenteng, akhirnya harus nyewa sendiri pakai dana pribadi Pak Didik,” ungkap Rizki Rahmat, Ketua Pelaksana acara Capgome kepada awak Kavling 10, Sabtu (15/2).

Festival yang digelar di Jalan Jenderal Basuki Rahmat gang 8 ini justru mendapat dukungan penuh dari pihak swasta, yakni Kedai Sebastien. Bahkan ide penggabungan dua perayaan berbeda ini muncul dari pemilik kedai tersebut. “Aslinya anak Karang Taruna ini cuma mau menyelenggarakan Isra Mikraj saja. Kebetulan ada Pak Didik dari Kedai Sebastien yang menyarankan bagaimana kalau digabungkan dengan Capgome,” jelas Muhammad Taufik Maulana, Ketua Pelaksana acara Isra Mikraj.

Fotografer: Dhito Priambodo

Rangkaian acara diawali dengan pameran kaligrafi Islam & Tionghoa yang menampilkan karya-karya dari mahasiswa Universitas Negeri Malang pada 14 Februari. Dilanjutkan perayaan Isra Mikraj dengan hadrah dari Majelis Al-Barokah dan musik tradisional Tionghoa pada 15 Februari. Festival ditutup dengan pertunjukan barongsai di area Hotel Trio Indah dan festival kuliner Cina & Timur Tengah pada 16 Februari.

Wali Kota Malang terpilih yang sempat berkunjung sebelumnya ternyata hanya memberikan janji belaka. “Janjinya kalau ada event lagi, ‘undang saya’. Sekarang sudah diundang tapi katanya sedang ke luar kota tiga minggu. Support secara lisan pun tidak ada,” tambah Rizki.

Keterbatasan anggaran tidak menghalangi semangat pemuda setempat mengembangkan kampung mereka. “Kalau ada budget, kita tidak kalah keren dengan Kampung Kayutangan sebelah. Harapannya pemerintah tidak pilih-pilih dalam memberikan dukungan,” tegasnya.

Festival ini merupakan kolaborasi Karang Taruna RW 09 dengan Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Cabang Malang, Yayasan Klenteng Eng An Kiong Malang, dan Kedai Sebastien Malang. Meski terdapat beberapa kendala teknis seperti terbatasnya pinjaman lampion dari kelenteng, antusiasme warga tetap tinggi. “Untuk saya hidup dari kecil sampai sekarang di kampung ini tidak pernah ada konflik antarumat beragama. Tapi kita tetap ingin menguatkan toleransi lewat festival ini,” pungkas Rizki.

Perhelatan ini merupakan bagian dari rencana Karang Taruna RW 09 untuk mengadakan kegiatan rutin setiap akhir bulan demi menghidupkan suasana kampung. Sebelumnya, mereka telah sukses menggelar acara Nostalgia Jajanan Sekolah pada Januari lalu dengan dukungan dari Kedai Sebastien pula.

Penulis: Mohammad Rafi Azzamy
Editor: Badra D. Ahmad

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.