Mari memberikan penghormatan pada sebuah hidangan. Hidangan apa pun: yang tersaji hangat di meja makan di malam hari, yang terpampang di etalase warung makan sederhana, yang dipersembahkan dengan khidmat dalam ritual keagamaan, atau yang dikhususkan dalam suatu perjamuan. Semuanya tak hanya soal rasa yang tertinggal di permukaan lidah. Lebih dari itu, hidangan adalah medium. Medium yang mendekatkan manusia dengan sesama manusia, hingga manusia dengan Sang Maha Kuasa.

Di meja makan keluarga, hidangan menjadi lebih dari sekadar makanan; ia adalah media untuk berbagi cerita, mendengar kabar, dan saling terhubung. Dalam semangkuk soto atau sepiring nasi pecel di warung makan, terselip kebersamaan yang melampaui sekat latar belakang. Dalam ritual keagamaan, makanan adalah persembahan suci sebagai sarana komunikasi antara manusia dengan Tuhannya. Sementara pada perjamuan budaya, makanan menjadi lambang identitas kolektif yang menguatkan kebanggaan akan asal-usul dan tradisi.

Makanan dalam setiap hidangan selalu menyimpan arti. Resep yang diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi, misalnya, adalah benang merah yang menghubungkan manusia dengan para leluhur. Atau dalam roti dan anggur dalam perjamuan kudus. Dua elemen sederhana itu adalah simbol kesempurnaan pengorbanan dan kasih Ilahi. Sementara iftar dalam setiap puasa tak sesederhana pelepas lapar dan dahaga. Ia adalah wujud dari rasa syukur kepada Tuhan yang bermurah hati. Makanan dalam setiap hidangan lebih dari sekadar materi: ia adalah suatu cerita, cinta, dan jiwa yang terus diterjemahkan dalam setiap budaya dan keyakinan.

Sebagaimana setiap hidangan memiliki maknanya tersendiri, begitu pula setiap karya yang termaktub pada buletin Piksilasi Edisi XII. Setiap karya sastra dan fotografi dalam buletin Piksilasi kali ini layaknya sepiring makanan yang disajikan dengan penuh kehangatan. Para pembuatnya memiliki pesan tersendiri yang ingin disampaikan kepada para pembaca. Namun, sebagaimana rasa, interpretasi setiap karya kembali pada selera pemaknaan masing-masing pembaca.

Buletin Piksilasi Edisi XII juga memiliki arti yang lain. Angka 12 memang bukanlah penanda suatu kesempurnaan. Namun telah melewati kelahiran sebanyak 12 kali, menunjukkan suatu konsistensi dalam perjalanan. Seperti pada numerologi di mana angka 12 menunjukkan pertumbuhan, seperti itu pula Piksilasi akan terus bertumbuh dalam perjalanan pengabadian.

Lalu, layaknya hidangan makan malam, buletin Piksilasi ini adalah hidangan penutup dari kami untuk tahun ini. Namun, hidangan penutup bukan berarti bahwa perjalanan telah usai. Sebaliknya, hidangan penutup ini adalah jalan pembuka menuju hidangan-hidangan selanjutnya. Sebab, dalam buletin ini, para juru masak baru telah mulai mengasah pisaunya untuk turut menghidangkan sajiannya.

Terakhir, izinkan kami menyampaikan apresiasi sebesar-besarnya kepada para juru masak yang telah menyiapkan buletin Piksilasi kali ini. Juga kepada para juru masak terdahulu yang telah memasak buletin Piksilasi sebelumnya. Kemudian kepada para pembaca, selamat menikmati hidangan penutup dan sampai bertemu tahun depan!

Sila santap hidangan penutup dari kami secara cuma-cuma melalui laman ini atau tautan berikut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.