POTONGAN MAHASISWA UB TAK LAGI BERLAKU, KLINIK UB GALAKKAN BPJS

0

MALANG-KAV.10 Televisi informasi yang berada di ruang tunggu Klinik Universitas Brawijaya (UB) pada Kamis (2/5) menyiarkan perubahan tarif dalam salah satu salindianya. Perubahan tarif ini mengenai penghapusan potongan pembayaran untuk mahasiswa UB.  Penghapusan ini telah diberlakukan semenjak 1 Januari 2024. Dengan demikian, pasien Klinik UB hanya bisa membayar melalui jalur Umum dan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) saja. Dalam informasi yang juga disebarkan di laman resmi dan cerita Instagram Klinik UB ini, mereka mengimbau mahasiswa UB untuk memindahkan fasilitas kesehatan (faskes) ke Klinik UB.

Hal ini sejalan dengan temuan awak Kavling 10 saat hendak berobat di Klinik UB. Kami ditawari untuk pindah faskes melalui sistem yang dimiliki Klinik UB tanpa harus menunggu antrean pemindahan faskes. Berbeda dengan pemindahan faskes melalui Mobile JKN (Jaminan Kesehatan Nasional) yang kurang lebih membutuhkan antrean waktu satu bulan. Menurut kesaksian Listiana, mahasiswa UB, saat ia merekomendasikan temannya untuk pindah faskes melalui Mobile JKN, terdapat peringatan dari aplikasi tersebut. “Tulisannya gini, ‘faskes terbaru Anda ini memiliki anggota yang lebih dari lima ribu orang.’ Jadi antreannya itu cukup lama,” ujar Listiana.

Beberapa mahasiswa UB mengaku keberatan dengan penghapusan potongan tarif ini. Mereka menyesalkan Klinik UB hanya memberikan solusi untuk memindahkan faskes BPJS ke Klinik UB. Pemindahan faskes juga dinilai ribet dan membutuhkan waktu lama oleh kebanyakan mahasiswa. Kondisi yang seperti ini membuat beberapa mahasiswa terpaksa membayar melalui jalur Umum. Shendy, salah satu mahasiswa UB, mengaku memilih membayar pribadi setelah kebijakan subsidi untuk mahasiswa ini dihilangkan. “Kalau (berobat, red.) di Malang bayar pribadi, BPJS-nya buat kalau di rumah,” tambahnya.

Hilangnya subsidi ini juga membuat pembayaran kategori Umum dirasa terlalu mahal bagi mahasiswa. “Harga penanganannya juga biasanya lebih mahal daripada obatnya. Jadi dengan uang bulanan yang pas-pasan jadinya merugikan sih buat aku,” kata Yohana yang sedang berkuliah di UB.

Penghapusan potongan ini tidak hanya akan berdampak kepada mahasiswa, tetapi juga pada Klinik UB. Menurut Listiana, dengan adanya diskon untuk mahasiswa UB ini akan meningkatkan citra Klinik UB yang memperhatikan dan membantu mahasiswa. Namun ketika subsidi untuk mahasiswa ini dihapus, maka citra Klinik UB akan dinilai sangat komersial. “Sekarang (biaya berobat, red.) dikenain biaya full. Itu mahasiswa pada mikir kalau misalkan klinik UB itu udah ngarah ke money oriented gitu sih menurut aku,” pungkasnya.

Di lain sisi, awak Kavling 10 telah mengirimkan surat dan mencoba mewawancarai direksi Klinik UB terkait hal ini sejak 1 April 2024 lalu. Akan tetapi, hingga berita ini diterbitkan, pihak Klinik UB masih belum memberikan kepastian atas kesediaan mereka.

Penulis: Badra D. Ahmad
Editor: Dimas Candra Pradana
Kontributor: Samuel Leonardo Wilson

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.