September Kelam

Oleh : Mahesa Fadhalika Ninganti
Setiap pasang mata yang memandang
Sorotan matanya seakan menyiaratkan ketangguhan para ksatria
Suaranya kian mendebar sangat lantang
Menggema sampai ke pelosok negeri
Seakan menorehkan peristiwa yang sedang berlangsung
Kini, di bawah cantiknya purnama dan pekatnya malam
Banyak jiwa yang menyimpan dendam
Serta raga yang sirna akibat pengkhianatan kaum tak berperikemanusiaan
Butir-butir air mata membanjiri setiap rumah yang berduka
Dengan cemas berharap keadilan yang dicari segera datang menghampiri
Jauh di dalam sumur yang gelap
Para panglima tempur tenggelam dan terkapar kaku
Jasadnya yang geruh bersatu dengan semesta
Cucuran darahnya yang kian mengering menjadi jejak peradaban
Puluhan tulang belulangnya merapuh tak tersisa habis digerogoti mikroba
Keguguran massal ini sungguh menyiksa lara
Menggoreskan luka dan kepedihan mendalam
Dosa-dosa pengkhianatan ini tak layak dimaafkan
Sebab nuraninya telah sirna dimakan api amarah
Kini yang tersisa hanyalah kenangan yang tak lekas dimakan oleh waktu
