PENGKAJI SEJARAH UM: KOTA MALANG ADALAH KOTA MILITER
Jejak militerisme di Malang raya tidak hanya tercatat melalui arsip sejarah, tetapi juga dapat dilihat melalui penataan tata kota, penamaan jalan, hingga masifnya pembangunan monumen-monumen militer yang tercatat sebagai bukti nyata sejarah. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan mengenai bagaimana sejarah dibentuk dan bagaimana glorifikasi bekerja melalui narasi-narasinya.
Melalui wawancara dengan Arif Subekti (8/12/2025) yang merupakan pengkaji sejarah sekaligus dosen UM Malang, pembacaan jejak militerisme ini akan disandarkan langsung kepada akar historis. Relevansi sejarah ini penting untuk memahami bagaimana implikasi kehadiran militerisme di Malang ini dapat membentuk keadaan realitas di Malang Raya saat ini.
Menurut perspektif sejarah, bagaimana militerisme di Malang yang Bapak ketahui?
Jadi sebenarnya dari perspektif sejarah, kalau ngomongin militerisme ada satu pengkaji sejarah bernama Pak Mashuri. Pasca Juli 1947 ada siasat nomor 1 yang mengatakan bahwa dalam jejak sejarah terkait militerisme di Malang, ada yang terkenal, namanya Bumi Hangus.
Nah, [Bumi Hangus] itu kaitannya dengan para militer, yang kemudian “kelas sekarang” itu memindahkan segala pusat administrasi, pusat komando ke wilayah Selatan Malang dari kota. Mundurnya mereka itu diikuti dengan sabotase dengan pembakaran dan seterusnya.
Di satu sisi kalau boleh jujur, Bumi Hangus itu kan dikatakan sebagai upaya untuk melumpuhkan atau menyabotase bangunan-bangunan penting yang nanti akan dipergunakan oleh Belanda yang datang lewat Lawang. Jadi “kelas pertama” kita sebut seperti itu. Operasi produk atau Operatie Product. Itu bahasa Belandanya
Selanjutnya, ada satu disertasi dari Rémy Limpach judulnya “De brandende kampongs van Generaal Spoor”. Dalam hal ini, ketika ngomongin tentang bagaimana kelaskaran dan masa revolusi itu bekerja. Ada sebuah fenomena yang mengisahkan petugas pabrik gula Kebon Agung yang disembelih lehernya. Kemudian, alat genitalnya dipotong dimasukkan ke mulutnya. Teror seperti ini dilakukan kepada elit bumiputra yang mendukung Belanda. Ya itu yang dilakukan.
Nah, hal ini kemudian juga dianggap sebagai pemberontakan dari kampung-kampung. Kampung pemberontak, atau De brandende kampongs. Adalah kampung-kampung di Malang yang melakukan sabotase, perlawanan, dan seterusnya. Meskipun itu sifatnya bukan mosaik tapi pecah-pecah. Pecahan-pecahan yang itu tetap mengganggu.
Dan para pebisnis, orang-orang elit bumiputra yang mungkin pro ke Belanda itu meminta supaya dilakukan tindakan yang tegas seperti itu. Nah, ini yang terjadi, kemudian operasi militer yang dilakukan oleh Belanda. Tujuannya antara lain yang pertama, yaitu untuk mendapatkan kembali modal-modalnya yang sudah terlanjur ditanam. Yang kedua, memutus mata rantai gerilya. Jadi, Desa Peniwen yang kami kaji itu adalah jalur kuno antara Malang dengan Blitar.
Perlu diketahui Blitar khususnya daerah Wlingi itu menjadi pusat dari TRIP (Tentara Republik Indonesia Pelajar). Kalau di Jawa Timur TRIP, Jawa Tengah itu TP [Tentara Pelajar]. Jalur itu kuno banget. Sampai sekarang mungkin orang Wlingi Blitar dapat [pasangan suami/istri] orang daerah Peniwen (daerah Kecamatannya Kromengan). Itu cukup banyak. Misal Idul Fitri itu orang Wlingi berkunjung ke Kromengan. Itu kan menunjukkan bahwa ini jalur kuno. Lah, di situlah kemudian dilakukan patroli.
Di sisi lain, [ada wilayah di antara] Gunung Kawi, terus Gunung Semeru dan Gunung Payah. Ada tulisannya dari Dr. Ari Sapto—Pak Dekan kami itu—yang menyatakan bahwa ini wilayah enklave dari para pejuang memang. Jadi larinya ke situ untuk operasi gerilya itu cukup bagus. Mereka juga berusaha untuk memutus mata rantai ini.
Di tesisnya Pak Mashuri, di Malang Selatan para laskar atau para tentara yang berjuang untuk Republik itu tidak dibayar dengan uang tapi dibayar dengan hasil bumi. Jagung, ketela dan seterusnya. Dan itu didapatkan dari petani-petani yang ada di Malang Selatan. Jika mata rantai itu dipotong, ya sudah. Kalah. Ya, ibaratnya kalah karena logistiknya dipotong. Seperti itu yang ingin dilakukan. Ini di masa-masa revolusi ya.
Bagaimana periode ‘42 sampai ‘49? Dalam periodisasi sejarah, tidak hanya dipecah dalam periode pendudukan Jepang dan masa perang kemerdekaan, tapi kita menyebutnya perang dan revolusi. Itu masa yang luar biasa hancur. Karena dari empat perkebunan atau perusahaan gula hari ini kan tinggal dua. Karena di masa Jepang, infrastruktur untuk perkebunan dan industri gula itu diambil oleh Jepang. Itu dalam mobilitas dan kontrol.
Seorang sarjana Jepang menyatakan, ‘ini rusak banget lah infrastruktur’. Dan di sisi lain historiografi Indonesia menganggap ‘45 sampai ‘49 itu periode yang suci, sacred period. Maksudnya periode suci apa? Menciptakan banyak pahlawan. Taman makam pahlawan, paling banyak itu dari periode ini yang meninggal, tentu saja.
Nah, maka periode-periode ini dicitrakan dalam historiografi resmi atau official history sebagai periode heroik, periode yang nasionalis dan seterusnya. Walaupun toh sebenarnya terjadi banyak kekerasan juga di tahun ‘44,’45, dan ‘49.
Contoh tesisnya Annisaa Khansa Labibah, dalam beberapa studi ada kajian yang membahas tentang hal ini. Contohnya kekerasan di gereja Kota Lama, Mergosono, Malang. Kejadiannya berupa pembakaran gereja itu sendiri. Siapa yang membakar? Ya orang republik.
Jadi inisiasi itu karena alasan para fundamentalis atau apa, Pak?
Karena dianggap bahwa indo yang ada di situ adalah seorang mata-mata belanda. Kemudian seperti halnya apa yang ditulis Kwee Thiam Tjing dalam Tjambuk Berdoeri, contoh ada di Kayu Tangan sepasang suami istri yang baru menikah. Mereka berdua seorang Tionghoa yang berjualan pada sebuah warung atau toko.
Pada suatu waktu, ada tentara republikan datang ke sana meminta minuman limun yang kemudian langsung dikasihkan. Sementara itu juga waktu tentara Belanda datang, minta macam-macam dikasih juga limun dan seterusnya. Fenomena itu kemudian dilihat oleh tentara atau mata-mata Indonesia. Akhirnya pasangan suami istri itu dibunuh karena dianggap mata-mata Belanda. Fenomena seperti ini yang banyak terjadi.
Ada sebuah cerita di Klenteng, Malang, yang di dalamnya terdapat guci untuk menyimpan korban kekerasan tahun 1948. Jadi, apa yang dilakukan pihak Belanda maupun pihak kita itu sama-sama dirty wars atau perang kotor. Walaupun di sisi lain kita menganggap bahwa perang itu ialah perang yang suci. Karena merupakan representasi sejarah di mana pahlawan itu diproduksi dan sebagainya.
Apabila dalam wacana Bapak tadi, banyak peristiwa yang terjadi pada tahun 1945-1950. Apakah itu artinya pada masa itu taman makam pahlawan mulai dibangun?
Mungkin dalam hal ini berjarak ya. Jadi taman makam pahlawan kalau dalam tata kolonial itu dulu ada Casuarina junghuhniana, sebuah cemara gunung yang memang lebih dulu ada sebelum terbentuknya taman makam pahlawan. Jadi pada masa tata kota kolonial, taman makam pahlawan itu masih belum makam.
Oleh karena itu, kemudian ada istilah penanaman kembali. Yang di mana, orang-orang yang meninggal di mana dan seterusnya, ditaruh di sana. Nah, itu artinya tidak langsung. Jadi monumen itu harus disadari bahwa dia bukan real traces of the past, bukan jejak asli masa lalu dari sebuah peristiwa. Melainkan hasil glorifikasi untuk memantik orang yang melihatnya untuk mengingat masa lalu.
Bagaimana menurut pendapat Anda terkait dengan sebagian besar penggunaan nama universitas-universitas besar di Indonesia yang menggunakan nama jenderal-jenderal atau militeristik?
Kalau saya mengkaji dekolonisasi pengetahuan higher education, jadi dekolonisasi ini yang saya maksud adalah [pada masa] setelah tahun ‘49 pengakuan kemerdekaan. Maka Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang dipimpin oleh Yamin mendirikan kampus-kampus non LPTK [Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan]. Ya kayak UI, UGM, kemudian UNAIR contoh lah.
Di sisi lain didirikan juga PTPG, Perguruan Tinggi Pendidikan Guru. Tiga pertama di Indonesia adalah IKIP Bandung atau PTPG Bandung, PTPG Padang, PTPG Malang. Jadi kita termasuk yang pertama. Pendidiknya dulu itu orang-orang Belanda. Jadi yang ngajar dan seterusnya banyak orang Belanda. Dan ngajarnya itu lintas kampus. Yang ngajar di UM, yang ngajar di UB.
Yang menarik, ini ngomongin militer ya. Dan ada arsipnya. Anda kalau ke Brawijaya. Jadi setelah ‘65 itu ada kayak MWA (Majelis Wali Amanat) mungkin kalau hari ini.
Jadi ada pejabat yang menata struktural kampus pasca penghilangan orang-orang kiri itu adalah Darji Darmodiharjo, Kepala Lapasila [Laboratorium Pancasila] UM. Itu jadi Rektor UB. Jadi normalisasi kampus lah, ibaratnya seperti itu. Padahal beliau pada waktu itu ‘67 kalau enggak keliru jadi Kepala Lapasila sini. Artinya stabilitas kampus itu dijaga dengan memasukkan orang-orang militer.
Nah, kalau penamaan saya kira-kita bisa menengok tulisannya Peter Carey. Jadi kenapa sih kok Gadjah Mada? Kenapa kok Airlangga? Kenapa Sriwijaya? Kenapa Udayana dan seterusnya ya. Karena kita menganggap, kalau hemat saya ini, romantisme Soekarno. Jadi Soekarno itu punya filsafat sejarah. Di masa lalu ada masa kejayaan Golden Age. Di mana ibaratnya kambing dan serigala itu minum dari air yang yang sama. Golden Age ini berakhir ketika internal-internal pimpinan ini tidak amanah atau ada interloper, ada penyusup dari luar yaitu orang-orang Belanda.
Nah Soekarno membayangkan nanti kita merdeka, kita akan ada Satrio Piningit lah, Ratu Adipati lah atau apa dan seterusnya. Nah, untuk mengingat itu kejayaan-kejayaan itulah. Maka, [dinamakan] Airlangga dan seterusnya. Nah, saya kira kampus-kampus yang mengingat masa lalu, yang jauh itu dan klasik itu, itu didirikan tahun 50-an. Jadi, periode dekolonisasi itulah.
Adapun kampus-kampus yang namanya kemudian agak militer gitu, saya kira saya belum kaji itu ya, tapi mungkin di periode ketika bandul militer itu kuat. Kekuasaan militer. Jadi jangan disalahartikan. Ini Herbert Feith, bukan saya yang ngomong.
Demokrasi terpimpin Soekarno itu luar biasa kuat, tapi spektrum orang Indonesia itu kekuasaan pada saat itu tidak terpusat satu. Tapi bersamaan dan beriringan. Ini mirip kalau Anda lihat lukisan-lukisan orang Belanda, orang-orang luar negeri lah. Misal menggambarkan kota yang abstrak. Fokusnya di satu titik. Jadi ini jalan, ini mobil, ini gedung, semakin lama semakin hilang.
Tapi kalau lukisan paling terkenal di Indonesia, James T. Siegels itu gunung-gunung, matahari, ini jalan, ini rumah, ini pohon. Fokusnya enggak satu. Demikian pula kekuasaan di Indonesia. Fokusnya enggak satu. Apabila kemudian berkaca pada Mandala Hindu. Mandala Hindu itu Siwa tidak bisa purna kekuatannya kalau tidak ada saktinya. Kalau tidak ada istrinya Dewi Parwati.
Ketika bersatu jadi Lingga-Yoni, maka itu purnalah kekuatannya. Militer dan Soekarno itu beriringan dalam demokrasi terpimpin. Tapi kita sejarah melihatnya ya ini Soekarno dan seterusnya. Apakah mereka bekerja sama? Iya. Apakah mereka konflik? Iya. bersaing beriringan. Nah, seperti itulah. Ini dua bandul.
Baru sejak 5 Juli ‘59 keluar, di periode itulah muncul kampus-kampus atau pasca orde baru ketika negara itu militeristik. Adapun gambarannya kita itu sedang berperang atau imagine community itu yang dibayangkan dan seterusnya. Mungkin saya belum sampai ke situ.
Tapi melalui meta sejarah, Higher Education di Indonesia itu ada periode yang saya kira, terdapat dekolonisasi. Jadi menghilangkan unsur-unsur kolonial. Kita enggak berkiblat ke Belanda tapi kemudian kita berkiblat ke Amerika malah. Beasiswa pertama tahun 50-an itu banyak ke Belanda. Calon guru, calon dosen.
Tapi tahun ’60-an awal, apalagi setelah ’65, banyak yang ke Michigan, yang ke Amerika. Ya kan Ford Foundation. Ini rektorat [UM] ini kan dibangun Ford Foundation. Ini kiblatnya kita dekolonisasi dari mulut singa ke mulut buaya lah.
Apabila fungsi monumen dan bangunan sejarah adalah mem-postulat atau mem-framing kejadian masa lalu, apakah hal ini terjadi juga di Malang?
Jadi, kajian memori itu sifatnya post factum, begitupun sejarah. Artinya, dalam hal ini sebuah pasca peristiwa. Peristiwa terjadi kemudian supaya tidak hilang maka dibangunlah penanda ingatan atau side of memory.
Kemudian, Anda kalau ke depan hotel Tugu, itu namanya Jan Pieterszoon. Terus lurus ke arah stasiun, itu namanya Daendels Boulevard. Pertanyaannya, kenapa kok dikembalikan lagi ke nama-nama ketika masa Belanda? Kemudian juga terdapat keanehan terhadap garis miringnya. Daendels Boulevard [Bunderan] atau Jalan Kembar itu garis miringnya adalah Ekspedisi Pak Kertanegara, atau juga Ekspedisi Pamalayu.
Apa persamaan Daendels dan Kertanegara? Pertama itu. Yang kedua, ada sebuah kajian dari Almarhum Pak Marsudi dosen kami itu. Jadi Kota Malang adalah kota garnisun—kota militer— karena simbolisme, penamaan jalan, dan seterusnya itu bergeser ke militeristik.
Entah sejak kapan, saya belum mempelajari. Tentang sebuah nama jalan kemudian diganti pahlawan lokal atau pahlawan nasional misal Hamid Rusdi, Ahmad Yani, Aris Munandar, dan seterusnya. Mereka semua merupakan pahlawan-pahlawan lokal dan nasional yang diinstal dan mengganti nama-nama jalan di masa Bouwplan 1 sampai seterusnya.
Kalau nama kota, dalam hal ini Malang. Sebenarnya teruntuk suatu kewilayahan ya cukup menggunakan nama yang identik seperti itu. Kemudian, mengapa di pusat sekitar wilayah itu, nama raja-raja besar bersanding dengan nama pemimpin-pemimpin besar, seperti halnya Jan Pieterszoon misalnya.
Kemudian yang ketiga tugu-tugu tapi khas Indonesia. Mengapa semuanya tangannya rata-rata menunjuk. Kalau di Blitar Selatan itu katanya nunjuk ke lubang-lubang di mana orang PKI bersembunyi. Realitasnya seperti ini. Dan hal serupa juga contohnya seperti patung Jenderal Soedirman, Tugu Pancoran Jakarta, dan seterusnya. Gestur-gestur seperti itu ya perlu juga untuk kemudian dipelajari.
Masifikasi penggunaan lahan untuk militer di Malang ini kan besar dan banyak, dan hal ini pengaruhnya terhadap keleluasaan akses publik yang terbatas. Menurut Anda, apakah ini kausalitas sejarah atau bagaimana?
Jadi, dalih pembunuhan massal bagian pendahuluan itu menyatakan bahwa ada satu peristiwa yang maha besar, yaitu meta sejarah G30S, yang meniscayakan atau mewajibkan situasi darurat selama-lamanya. Maksudnya gini, kalau ada darurat militer misal ada invasi alien lah. Setelah alien selesai kan selesai seharusnya. Tapi dalam hal ini tidak. Sebuah fenomena pembentukan wilayah-wilayah kantung militer, masuknya orang-orang militer di perusahaan, di pendidikan, di pemerintahan, itu kan untuk mengawasi bahaya laten komunis itu.
Komunis sudah betul-betul mati. Ariel Heryanto bilang itu hantu. Kalau sejarahnya ya, dari pembunuhan massal, bab pendahuluan. Pengawasan itu dibubarkan baru pada tahun 1948. Jadi, fenomena yang terjadi dalam meta sejarah ini seperti darurat militer yang abadi. Hal ini menurut, John Rossa, hanyalah sebuah dalih.
Dalam hal ini, dibuatnya dalih merupakan sebuah cara membentuk alasan untuk membuat membuat program-program yang lain gitu. Kalau alasan ini goyah alhasil stigma publik tidak akan lagi mendiskreditkan PKI. Alhasil, program-program ini kan juga nggak legal.
Penulis: Fudhail Najmudin Almuzaki
Editor: Badra Daf’a Ahmad
