Ilustrator: Gracia Cahyadi

Saya Raden Wijaya

Kesaktian saya mungkin tidak cukup kuat untuk menciptakan satu sosok bernama Brawijaya. Sepanjang saya menyusuri lini masa Majapahit hingga keruntuhannya, tidak pernah saya dengar siapa Brawijaya ini, apalagi dengan  gelar “Prabu”.

Nama kami sedikit mirip, memang. Sesaat setelah saya mendirikan kerajaan Majapahit, diturunkanlah nama tahta kepada saya, Nararyya Sanggramawijaya Sri Maharaja Kertarajasa Jayawarddhana. Populernya saya dipanggil Raden Wijaya.

Memang benar pula, bahwa saya yang mendirikan Majapahit setelah keruntuhan Singhasari. Kakek buyut saya—kalau saja perlu untuk diketahui—bernama Ken Angrok, adalah raja pertama Singhasari.

Majapahit tidak serta-merta menjadi kerajaaan besar. Setelah serangan Kediri bersama pasukan Tartar, mendirikan Majapahit dari balik reruntuhan Singhasari memanglah tidak mudah.

Setelah kematian saya, singgahsana raja diduduki oleh Jayanagara, anak saya dari Dara Petak. Barulah kejayaan Majapahit mencapai puncaknya ketika putri saya, Tribhuwana Wijayatunggadewi menduduki tahta, sambil membimbing cucu saya, Rajasa Nagara (Hayam Wuruk) menjadi penerusnya. Saat itu, Gajah Mada menjadi Patih Agung. 

Pejabat yang saya utus memimpin daerah-daerah biasa bergelar “Bre”, seperti Bre Kahuripan, yang berarti dia memimpin daerah Kahuripan. Bre Daha, memimpin daerah Daha/Kadiri. 

Nah, Brawijaya ini siapa? Telah saya telusuri  semua garis keturunan saya, dari masa pendirian sampai pecah belah keruntuhan Majapahit, nama Brawijaya ini tidak pernah muncul.

Cucu saya, Hayam Wuruk, yang mengutus Mpu Prapanca untuk menulis sejarah resmi Majapahit sejak kerajaan ini didirikan hingga kelengserannya—tapi tidak satu pun saya temukan nama Brawijaya ini disebut di sana.

Sekali lagi, kesaktian saya tidak cukup kuat untuk menciptakan satu sosok bernama Brawijaya. Saya tidak mengenalnya, Majapahit tidak mengenalnya. Saya Raden Wijaya, bukan Brawijaya.

Mencari Brawijaya di Sela Reruntuhan Majapahit

Ternyata cukup sulit menelusuri nama Brawijaya dalam sejarah Majapahit. Nama ini tidak muncul dalam catatan-catatan resmi Majapahit seperti Nagarakartagama karya Mpu Prapanca.

Nama Brawijaya pertama kali muncul di Babad Tanah Jawi versi J. J. Meinsma di abad 19M. Nama ini muncul dan mulai populer di era Mataram Islam yang berdiri dari sisa-sisa reruntuhan Majapahit.

Babad Tanah Jawi bukanlah catatan sejarah resmi yang ditulis oleh utusan kerajaan. Babad merupakan karya sastra yang ditulis oleh pujangga. Isinya, bisa jadi, fiktif. Di dalamnya adalah mitos-mitos yang diciptakan untuk kepentingan politik. Begitu pula dengan Serat.

Majapahit, berdasar temuan sejarah, banyak mengeluarkan prasasti atau pun catatan-catatan resmi kerajaan. Dan dalam semua catatan resmi itu nama Brawijaya tidak pernah muncul. Ia mungkin hanya mitos yang berkembang di masyarakat Trowulan.

Sebagaimana dikatakan Raden Wijaya di atas, bahwa gelar “Bre” selalu disandingkan dengan nama daerah. Gelar itu berarti penguasa. Bre Kahuripan berarti penguasa daerah Kahuripan. Gelar “Bre” tidak disandingkan dengan nama, sehingga menganggap Brawijaya adalah “Bre” Wijaya adalah keputusan bodoh. Dari banyaknya nama Raden Wijaya, tidak tersebutkan sedikit pun nama Brawijaya.

Artinya, nama Brawijaya tidak dapat diasosiasikan dengan Raden Wijaya. Seseorang dengan nama Brawijaya barangkali memang ada, tapi ia bukan Raden Wijaya, juga bukan Raja Majapahit.

Bebas saja seseorang memberi gelar Prabu Brawijaya dan menggunakan nama itu sebagai nama institusi atau apa pun itu, tetapi fakta-fakta sejarah secara ilmiah tidak bisa membuktikan bahwa Brawijaya adalah Raden Wijaya. Raden Wijaya adalah tokoh faktual yang mendirikan kerajaan Majapahit, sementara Brawijaya sejauh ini muncul sebagai sosok mitologi di era kerajaan Mataram Islam.

Penulis: Moch. Fajar Izzul (kontribusi pembaca)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.