TERKAIT PENDISIPLINAN ALA KORLAP, DOSEN PSIKOLOGI: SEBAIKNYA DIHAPUSKAN SAJA

Beberapa waktu terakhir, ramai diperbincangkan terkait urgensi hadirnya divisi koordinator lapangan (korlap) dalam Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) fakultas. Perbincangan tersebut bermula dari ramainya keluhan mahasiswa baru (maba) atas cara kerja korlap PKKMB fakultas tertentu di UB yang suka membentak dan menghukum. Dari keluhan tersebut, terdapat pro-kontra terkait bagaimana sebaiknya kehadiran dan tugas, pokok, fungsi korlap dalam kegiatan PKKMB atau ospek. Ada pendapat yang menyatakan bahwa korlap sebaiknya dihapuskan saja karena dinilai tidak sesuai dengan budaya kampus. Pendapat lain mengungkapkan bahwa korlap cukup dievaluasi saja karena keberadaannya masih diperlukan untuk mendisiplinkan maba.
Terkait hal itu, Kavling10 berkesempatan mewawancarai Yuli Rahmawati, dosen psikologi Universitas Brawijaya. Ia menjelaskan bagaimana seharusnya posisi korlap dalam ospek dan bagaimana sebaiknya ospek ini dijalankan.
Beberapa waktu terakhir, ramai kasus yang melibatkan divisi koordinator lapangan (korlap), seperti adanya GAMA Time di FIA dan hukuman strata yang ada di FP. Narasi umum yang beredar adalah bahwa tujuan dari hukuman semacam itu untuk pendisiplinan maba. Menurut Anda, apakah pemberian hukuman semacam ini efektif untuk memodifikasi perilaku disiplin maba?
Sebenarnya kalau peran korlap itu dan image yang galak, suka ngatur-ngatur, [dan] suka ngasih hukuman itu sudah eksis sejak saya kuliah sejak 2010. Hanya saja semakin ke sini [ospek] itu semakin geser paradigmanya bahwa seharusnya ospek atau orientasi masa perkuliahan itu adalah kita membantu adik-adik kita untuk mengenali lingkungan barunya [yang] nanti hubungannya itu adalah adaptasi. Ketika adaptasinya sudah baik, maka diharapkan proses kuliahnya akan baik, tidak ada isu nanti dia minder, nggak punya teman, stres kuliah, [dan] depresi. Harapannya, nggak ada isu-isu yang kayak gitu.
Nah, mungkin adalah produk budaya ‘kan. Maksudnya budaya ospek yang memang dari turun-temurun itu konsepnya adalah perpeloncoan [dan] galakin adik-adiknya. Namun kalau misal produk budaya, seharusnya dan sebaiknya itu ‘kan bisa berubah ya. Maksudnya kalau memang dinilai itu nggak ada manfaatnya secara fisik, psikologis, [dan] material misalnya, ya ngapain diteruskan kayak gitu.
Kalau saya sendiri karena punya contoh [di universitas] yang lain, misalnya di Binus atau di UGM yang pernah saya lihat lewat postingannya mereka gitu. Mereka itu malah masa ospeknya happy gitu karena memang yang dituntut itu KPI (Key Performance Indicators) panitia ospeknya. KPI-nya itu adalah gimana caranya adik tingkat ini kenal dekat sama kamu [sebagai kakak tingkat].
Nggak mungkin dong kalau misal KPI-nya gitu [kedekatan kakak tingkat dan adik tingkat], tapi yang mereka [panitia] lakukan adalah marah-marah dan ngatur-ngatur gitu ‘kan. Yang mereka [panitia] lakukan, ya berarti apa? Sesuatu yang menyenangkan gitu. Kalau aktivitasnya dulu yang di Binus yang pernah saya tahu, mereka itu bahkan sarapan aja bersama. Jadi, mereka [panitia] itu bikin kegiatan yang memang menyenangkan bersama-sama.
Makanya kemudian balik lagi ke pertanyaan peran korlap yang seperti itu [perpeloncoan], siapa yang menginisiasi? Siapa yang menciptakan? Tapi harusnya [sistem korlap] udah shifting sih. Maksudnya, seharusnya [sistem korlap] sudah mulai shifting ya. Masa maksudnya masa kampus lain bisa, kita [UB] nggak bisa gitu ‘kan? Jadi, emang harusnya sistemnya yang seperti itu diubah.
Terdapat sistem di internal panitia korlap di beberapa fakultas UB yang terbilang eksklusif, seperti harus menggunakan nama samaran, tidak boleh berkumpul di tempat umum, dan harus bersikap ketus ketika maba melewati mereka. Bagaimana pandangan Anda melihat eksklusifitas korlap yang seperti ini?
Kayaknya dari dulu memang korlap itu eksklusif. Maksudnya, sudah ada sejak zamanku gitu terkait image korlap yang eksklusif. Menurutku, sebaiknya memang dibalikin lagi ke tujuan ospek itu apa sebenarnya. Misalnya tugas korlap itu apa? Mendisiplinkan ‘kan? Kalau memang mendisiplinkan, yang kalian hadapi itu adalah orang dewasa. Maksudnya umur 17 tahun ke atas itu ‘kan udah nggak anak-anak gitu loh yang seharusnya secara kognitif sudah bisa berpikir secara abstrak. Jadi, seharusnya kalau dikasih peraturan, mereka [maba] pun sudah tahu kayak gitu. Apa sih yang bikin mereka [maba] melanggar peraturan misalnya? Biasanya ya, kenapa mereka [maba] melanggar peraturan karena peraturannya nggak jelas. Batasannya nggak jelas. Sanksinya nggak jelas, gitu.
Jadi ya, sebaiknya kalau misalnya peraturan, ya diberikan aja peraturannya. Maksudnya dikasih tahu yang boleh dilakukan ini, enggak boleh dilakukan ini. Kemudian kalau misalnya melanggar, apa yang konsekuensi, apa yang akan mereka dapat itu harus jelas. Dan ketika mereka melakukan itu [pelanggaran], akan diwakili konsekuensinya sehingga akan timbul [sikap] tertib.
Terus satu lagi mungkin. Kenapa mereka (maba) itu melanggar peraturan? Karena mereka enggak tahu di balik aturan itu, alasannya apa. Misalnya, kenapa harus pakai name tag? Mereka ‘kan nggak tahu kenapa harus pakai name tag. Menurut maba, itu [name tag] menjadi sesuatu yang menyusahkan. Padahal name tag itu adalah tanda pengenal. Karena kalau misalnya temannya lewat, “Oh, kenal nih. Lupa namanya.” Mereka bisa langsung lihat name tag. Dosennya juga gitu. Siapa nih? Bisa langsung lihat name tag. Kakak kelasnya juga gitu. Siapa nih namanya? Langsung lihat name tag gitu.
Berarti ‘kan sebenarnya name tag itu, meskipun kelihatannya remeh, tapi punya tujuan gitu. Jadi, mungkin tujuannya selama ini nggak tersampaikan sehingga kalau misalnya maba melanggar, akibatnya langsung dimarahi. Padahal ‘kan seharusnya dijelaskan dulu gitu. Ini manfaatnya apa? Tujuannya apa? Konsekuensinya kalau nggak pakai [name tag], misalnya apa gitu.
Kalau pendisiplinannya itu marah-marah, kukira so yesterday gitu ya. Maksudnya, ya sebaiknya ditegur aja sekali dua kali. Atau mungkin, misalnya mau pakai konsep modifikasi perilaku, ‘kan kita bisa pakai reward [dan] punishment. Terus kalau misalnya mau lebih advance caranya, pakai token ekonomi. Mungkin bisa tuh per kelompok itu, punya poin gitu ‘kan sehingga setiap apa yang mereka lakukan secara positif [dapat] menambah poin mereka. Apa yang mereka [maba] lakukan secara negatif termasuk pelanggaran gitu bisa mengurangi poin mereka. Akhirnya, ini nanti diakumulasi di [rangkaian paling] akhir terus jadi sesuatu reward yang lebih besar buat kelompoknya misalnya. ‘Kan [semisal konsep seperti] itu lebih memotivasi.
Menurut Anda, apakah sistem pendisiplinan ala korlap sebaiknya dihapuskan?
Iya sebaiknya dihapuskan kalau menurut saya.
Meninjau dari kegiatan ospek saat ini, menurut Anda, bagaimana cara panitia dapat membuat konsep ospek yang mendorong maba untuk merasa membutuhkan ospek? Atau apakah sebenarnya ospek tidak memiliki manfaat untuk maba?
Kalau ospek itu ada gunanya. Aku sendiri setuju kalau ospek itu diadakan dan terus diadakan, tetapi memang harus kembali ke tujuannya. Tujuannya apa? Ya mengenalkan. Nah, jika mengenalkan, maka bagaimana cara kita mengemas pengenalan itu dengan lebih oke gitu, dengan lebih menarik misalnya.
Kalau saya boleh membandingkan ya. Saya pernah tahu di UGM sama di Binus atau yang saya tahu banyak itu di Binus karena pernah jadi panitia, [ospek] itu beneran tagline-nya FYP menyenangkan atau apa gitu. Itu [ospek] memang mereka [panitia] mengemas acaranya dengan menyenangkan dan memang tagline-nya itu menyenangkan gitu. Jadi, isi ospeknya ya happy-happy aja. Maksudnya, sama kakak fasilitatornya mereka [maba] dekat, mau curhat terkait kendala apapun ke kakak fasilnya kayak gitu. Kemudian, pokoknya hubungan mereka [panitia dan maba] dekat gitu. Kalau di sana nggak ada yang namanya korlap, cuma ada yang namanya koordinator.
Nah, mungkin korlap itu kayak koordinatornya gitu ya. Namun, koordinator ini fungsinya bukan marah-marah juga. Dia [koordinator] akan menangani kasus yang nggak bisa ditangani sama fasilnya. Ketika ada kasus yang nggak bisa ditangani sama fasilnya, naik ke koordinatornya. Koordinatornya bisa nggak? Kalau misalnya nggak bisa, baru akan naik ke panitia yang dari dosen.
Jadi, sebenarnya panitia yang dari mahasiswa itu sama-sama punya tanggung jawab bagaimana caranya [membangun lingkungan ospek yang] adiknya itu ngerasa nyaman, safe, dan senang sama acaranya. Acaranya itu misal mereka sarapan bareng. Bahkan, itu [acaranya] dikompetisikan gitu, misalnya kelompok mana yang paling seru. Jadi, dari pagi itu mereka [panitia] sudah bikin acara jam 07.00 kayak senam bareng, main bareng, terus sarapan bareng. Karena memang goal-nya adalah mendekatkan antara si freshman sama kakak tingkatnya.
Apakah kemudian ada materi yang lain? Ada, seingatku ada, misalnya pengenalan dosen dan pengenalan tentang program studi itu pasti ada. Materi yang lain, misalnya cara adaptasi bagaimana dan materi tentang karir itu juga ada. Dan itu [pembicara] yang membawakan [materi] kalau di sana [Binus adalah] unit ya. Jadi, memang tim dari unit itu yang membawakan [materi]. Misal, di konseling berarti tim ULTKSP yang jadi pemateri.
Sebenarnya konsepnya hampir sama, tetapi kalau di sana [Binus] itu literally acaranya nggak cuma ceramah. Namun, peserta itu dilibatkan juga, misal ada game interaktifnya, kemudian ada ice breaking-nya. Aku kira psikologi udah kayak gitu ‘kan.
Hanya saja ini mungkin akan boleh jadi evaluasi juga. Boleh ditanyakan ke adik-adik kelasnya, seperti apa yang menurut kamu bikin ospek itu nggak seru. Itu ‘kan perlu ditanyakan ke mereka [maba] supaya kita bisa perbaiki acara mana yang bisa kita improve lagi.
Akhirnya, mereka [maba] juga akan merasa butuh ospek itu sendiri. Kalau di Binus itu, mereka bahkan sampai FYP. Ketika ospeknya sudah selesai, call center-nya mereka [maba] itu pasti kakak fasil. Ada apa-apa itu pasti ke kakak fasil dulu. [maba] Nanya apa-apa, pasti ke kakak fasilnya dulu karena memang ambience yang diciptakan itu dekat antara adik tingkat sama kakak tingkatnya.
Masa orientasi ini diadakan sebagai ajang memperkenalkan dunia kampus untuk mahasiswa baru. Namun, hal-hal yang dilakukan saat orientasi ini tidak sesuai dengan kehidupan perkuliahan. Sebagai contoh, maba disuruh bangun jam 05.00, padahal di dunia perkuliahan tidak ada hal seperti itu. Kemudian, pakaian seragam putih hitam itu di kuliah sebenarnya tidak ada. Menurut Anda, apakah hal seperti itu masih tetap harus dilestarikan?
Mungkin di sini ada yang missed tujuannya. Kenapa kalian harus bangun jam 5? Tujuannya apa? Apa tujuannya kira-kira? Membangun disiplin ‘kan? Maksudnya memang sewajarnya itu bangun jam 5, meskipun pada implementasinya nanti pas kalian kuliah juga nggak bakal kalian bangun jam 5. Tapi ‘kan kalau misalnya dalam kondisi yang benar-benar diperlukan, kalian bisa jam 5 gitu. Maksud saya di situ ada bagian dari tanggung jawab, tetapi kalau nggak dikomunikasikan itu ‘kan maksudnya nggak jelas gitu.
Semisal kenapa harus hitam putih atributnya? Kenapa kira-kira? Karena kalau misalnya crude, kita tahu mana yang harus kita prioritaskan dulu. Karena kalau hitam putih itu ‘kan identitas kalian. Jadi, kalau misalnya ada sesuatu yang nggak diinginkan, kita tahu mana yang harus dilindungi dulu, misalnya mana yang harus diarahkan dulu.
Terus habis itu juga identitas. Jadi, hitam putih itu adalah identitas karena kalian ‘kan datang ke lingkungan baru. Jadi, memang bagaimana caranya kita mengenali kalian kalau kalian nggak pakai atribut? ‘Kan bisa menimbulkan prasangka yang lain. Namun, semisal kalian pakai atribut, [akan ada] “oh iya masih maba, mungkin belum tahu.” Jadi, kita akan ngasih tahu yang benar gimana. ‘Kan fungsinya [fungsi atribut] kayak gitu, tetapi mungkin itu juga mereka [maba] nggak tahu gitu. Maba-maba juga mungkin nggak tahu kenapa mereka harus harus gini, harus gitu. Makanya terus malas.
Penulis: Muhammad Tajul Asrori
Editor: Maria Ruth Hanna Lefaan
