MAHASISWA DIFABEL NETRA KELUHKAN INFRASTRUKTUR MINIM, PLD: ANGGARAN FAKULTAS TERBATAS

0
Sumber: Istimewa

MALANG-KAV.10 Seorang mahasiswa difabel (madif) netra, Cathlen, mahasiswi Fakultas Hukum (FH) Universitas Brawijaya (UB) mengalami kesulitan saat hendak turun ke lantai bawah, setelah melaksanakan kelas daring di salah satu ruang kelas. Karena merasa kesulitan, ia memanggil salah satu temannya melalui panggilan video. Meskipun di sekelilingnya terdapat banyak orang, ia merasa bahwa mereka tengah sibuk dengan urusan masing-masing.

Cathlen mengaku datang ke kampus tanpa pendampingan dari Pusat Layanan Disabilitas (PLD) UB, dikarenakan ia ingin belajar mandiri agar tidak bergantung pada orang lain. Namun, setelah kelas berakhir, ia malah kebingungan untuk turun ke lantai bawah. “Mungkin akan lebih aman kalau didampingi [relawan PLD], tapi aku merasa kadang lebih nyaman untuk explore sendiri. Jadi sebenarnya kebingungan itu bukan bentuk panik, tapi lebih ke aku mau explore cuma aku enggak tahu arahnya,” ujar Cathlen pada (16/10). 

Pihak PLD, Nasta, menanggapi hal tersebut dengan menjelaskan bahwa setiap mahasiswa disabilitas berhak menentukan apakah ia ingin didampingi atau tidak. “Sebenarnya itu [pengalaman Cathlen] nggak masalah. Komunikasi antar madif dengan pendampingnya saja sebenarnya. Mau didampingi atau enggaknya, kalau minta layanan pendampingan kami [pihak PLD] hanya menyediakan [layanan pendampingan],” terang Nasta. Namun, PLD tetap menghimbau seluruh mahasiswa, terutama mahasiswa non disabilitas untuk lebih peka terhadap lingkungan sekitar. 

Di sisi lain, Cathlen juga mengeluhkan tentang infrastruktur bagi para penyandang disabilitas di UB. Dari keterangan Cathlen, terdapat beberapa guiding block yang belum memadai di beberapa ruas jalan yang ada di UB. “Sehingga kalau misalnya kayak kita [madif netra] mau jalan, itu kadang kita nabrak pohon dan sebagainya kayak gitu,” jelasnya.

Menanggapi hal tersebut, Nasta mengaku masih ada beberapa fasilitas yang belum optimal, namun itu juga tergantung pihak fakultas masing-masing karena menyangkut anggaran pembangunan. “Nah, itu [infrastruktur bantuan] kan butuh anggaran untuk direnovasi gitu kan. Nah, biasanya memang itu nanti kepentoknya itu dengan anggaran.” 

Sejak tahun 2012, PLD selalu melakukan kampanye pada setiap fakultas yang terdapat madif terkait aksesibilitas bagi mereka. PLD juga melakukan asesmen publik untuk menilai fakultas dengan aksesibel baik dan aksesibel yang perlu diperbaiki. Bukan hanya trotoar (guiding block), PLD juga menilai dari pintu, toilet, dan fasilitas lainnya.

Selanjutnya, Cathlen juga menyoroti persoalan lain yang kerap dialami madif. Ia menilai bahwa beberapa dosen kurang memahami terhadap kebutuhan belajar mereka. Saat PLD menanggapi, mereka mengaku bahwa memang seharusnya setiap tahun ada program pelatihan bagi dosen dan tendik. Akan tetapi, beberapa tahun terakhir program tersebut belum terlaksana karena kendala anggaran. “Dua tahun ini kita itu sudah tidak melakukan [program] disability awareness  kepada dosen,” jelas Nasta pada (20/10)

Penulis: Shidka Najma (anggota magang), Sofidhatul Khasana
Kontributor: Dewi Cantika (anggota magang)
Editor: Badra D. Ahmad

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.