AKSI KAMISAN KE-125: DIKTATOR PEMBUNUH BERGELAR PAHLAWAN ITU BERNAMA SOEHARTO

0
Fotografer: A. Reza Uzfalusi

MALANG-KAV.10 Di tengah hujan yang mengguyur, barisan massa aksi mahasiswa, pekerja, dan pelajar SMA berkumpul mengikuti aksi Kamisan ke-125. Diadakan di depan Balai Kota Malang pada Kamis (13/11) dari jam 5 sore, aksi Kamisan merespons pengangkatan Soeharto sebagai pahlawan nasional pada Senin (10/11) lalu. Dihadiri oleh sekitar 30 orang, massa aksi mengadakan mimbar bebas sehingga siapa pun bisa mengutarakan pendapatnya. 

Orasi saat mimbar bebas datang dari banyak orang dan mengkritik pengukuhan Soeharto sebagai pahlawan nasional. Salah satu massa aksi mengutarakan bahwa dia tidak pernah membayangkan seorang diktator dan pembunuh massal seperti Soeharto bisa diangkat sebagai pahlawan. “Mendengar usulan Soeharto akan jadi pahlawan, saya tidak menyangka. Apa lagi ketika negara mengesahkan hal tersebut,“ ujarnya.

“Seorang presiden dengan tangan besi di tahun 1965 sampai 1967 menjadi aktor kunci pembunuhan massal, genosida, dan pembunuhan tokoh politik,” ujar seorang peserta aksi. Dia juga menyebutkan korban dari Soeharto berkisar lebih dari satu juta jiwa. 

Para peserta aksi berpendapat bahwa pengukuhan gelar pahlawan soeharto sudah lama direncanakan. “Upaya untuk menjadikan soeharto sebagai pahlawan tidak hanya dilakukan di tahun ini saja, tetapi dalam beberapa tahun yang lalu, sejak tahun 2008, 2010, 2015, 2018,” jelas salah satu peserta aksi. Ia juga menambahkan bahwa pencabutan TAP MPR Nomor 11 tahun 1998 merupakan pintu dalam pelolosan gelar pahlawan Soeharto. 

Tidak hanya itu, massa aksi juga menganggap pengukuhan Soeharto sebagai pahlawan bukanlah sesuatu hal yang bisa diremehkan. Menurut mereka, hal tersebut menjadi tanda bahwa Soeharto bebas dari segala tuduhan. “Impunitas terhadap pelanggaran HAM masa lalu akan jadi permanen ketika Soeharto diangkat menjadi pahlawan,” ujar salah satu peserta aksi. 

Tidak hanya itu, menurut massa aksi, pengukuhan Soeharto sebagai pahlawan nasional akan mengubah narasi sejarah. “Pelanggaran HAM, korupsi, dan kediktatorannya tidak akan diceritakan di buku pelajaran sehingga akan dianggap berjasa untuk bangsa,” singgung massa aksi. 

Massa aksi juga mengkritik pandangan positif terhadap Soeharto yang muncul akibat program swasembada pangan. “Produktivitas pangan memang meningkat, tetapi bahan pangan pokok kita diseragamkan menjadi beras yang mengakibatkan hilangnya keberagaman pangan,” ungkap salah satu massa aksi. Mereka menilai bahwa swasembada pangan Soeharto hanya menguntungkan petani dengan lahan yang besar dan elit politik saja, sementara petani kecil hanya menjadi pekerja dengan upah yang murah. 

Kritik juga dilontarkan pada disandingkannya gelar Marsinah sebagai pahlawan dengan Soeharto. “Marsinah yang gugur karena dibunuh oleh orang yang dianggap pahlawan, apakah itu berarti dia seorang penjahat?” tanya seorang demonstran. Para massa aksi juga menyinggung tentang perlawanan-perlawanan sebelumnya yang menjadi sia-sia akibat perihal tersebut. 

Di bawah gelapnya langit, aksi Kamisan ditutup dengan puisi seorang demonstran yang mengujar bahwa pengangkatan Soeharto sebagai pahlawan nasional hanya akan menutupi segala kejahatan sang diktator. “Kalau dosa bisa dihapus dengan pembangunan, maka keadilan tidak akan pernah hidup,” lantang penyair tersebut.

Penulis: Nadil U. Annafis (anggota magang)
Kontributor: A. Reza Uzfalusi (anggota magang)
Editor: Naufal Rizqi Hermawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.