MAHASISWA ADALAH PEKERJA, OLEH KARENA ITU KAMPUS HARUS MEMBAYAR MEREKA!

0
Sumber: The Times Higher Education

Alkisah, ada spesies bernama Suloyo, wajahnya sumringah, ia hendak menerima status sosial baru bernama “mahasiswa” melalui pembaptisan bernama “ospek”. Suloyo adalah spesies yang bersemangat, dia juga tidak terlalu menyukai sistem atau aturan-aturan yang mengikat, kesemua itu disebut “feodalisme” olehnya. Semasa SMA, Suloyo sungguh rajin belajar, dia mondok, tapi jangan kira dia belajar kitab-kitab fiqih seperti teman sebayanya, ia lebih suka membaca teologi pembebasan seperti karya Seyyed Hosen Nashr, Ashar Ali Engineer, dan Ali Syariati. Bagi Suloyo, agama harus menjadi risalah perjuangan untuk membebaskan kaum tertindas. Orang-orang yang mengenalnya akan terkejut, bila mengetahui bahwa Suloyo sama sekali tidak melakukan perlawanan atau protes signifikan ketika agenda ospek berlangsung. Biasanya Suloyo adalah spesies yang reaktif atau garang, saat ada ‘feodalisme’ yang mengusiknya, ia akan langsung menggigit dan mengoyak-oyaknya sampai hancur tak bersisa. 

Kesabaran Revolusioner

Barangkali Suloyo mendapat risalah, jika bukan Wahyu, dari sosok yang ia kagumi, sebut saja sosok tersebut sebagai “Nabi”. Sosok itu adalah penenang Suloyo, apabila amarah Suloyo adalah api berbahaya yang siap membakar apa saja, maka sosok tersebut adalah air yang mendinginkannya. Dalam suatu Pertemuan (encounter), Suloyo mendapat nasihat dari sosok tersebut, “Kau tidak perlu menggebu-gebu, revolusi butuh persiapan panjang, butuh pembelajaran, butuh produksi pengetahuan, oleh karenanya jangan sampai mengorbankan kemenangan besar hanya demi kemenangan kecil, hanya demi rasa lega dari ego kecilmu itu”. Ucapan itu bukan terlontar tanpa dasar, sosok tersebut sungguh tahu latarbelakang hidup Suloyo yang penuh polemik, sehingga sudah barang tentu ucapan tersebut memiliki asbabun nuzul atau prakondisi sebelum ia terucapkan. “Dinamit”, sebuah julukan yang tersematkan pada Suloyo, berangkat dari suatu pepatah “tiada asap tanpa api”. Bagi Suloyo, segala sesuatu di muka bumi ini adalah api, oleh karenanya sudah tentu niscaya baginya menjadi api. Segala sesuatu mengandung unsur feodalisme, dengan demikian segala sesuatu layak dikoyak-koyak oleh Suloyo.

Pernah suatu ketika, Ustadz di pesantren Suloyo marah-marah sebab ada anak yang tidak mengaji selepas sholat Isya’, sebab pasal anak tersebut sedang belajar untuk praktikum esok pagi. Wah sungguh malang Ustadz tersebut, karena ada Suloyo di sana, suatu deklarasi yang momentual layaknya “piagam madinah” pun terjadi, deklarasi itu bernama “permusuhan sepanjang hayat”, anda bisa menebak bagaimana peristiwa setelahnya. Feodalisme adalah virus yang patut dimusnahkan bagi Suloyo, selesailah nasib siapapun jika menunjukkan sikap demikian. Dari kata-kata sosok mistik itulah Suloyo belajar tentang strategi, ia sedikit menyesalkan deklarasi permusuhan kepada Ustadznya, sebab seharusnya ia bisa memulai dialog untuk merubah pandangan Ustadz, yang dalam jangka panjang bisa merubah sistem pondok, kini Suloyo sadar bahwa sikap reaktif bukanlah sikap yang Revolusioner, Suloyo pun menerapkan apa yang Ustadznya sebut sebagai “kesabaran Revolusioner”. 

Ideologi Cepat Lulus

Ospek pun selesai, Suloyo tidak menjadi asap di atas kobaran api, banyak masalah tetapi Suloyo memilih untuk diam, sebab itu strateginya, untuk melakukan hal yang lebih signifikan di masa mendatang sebagai mahasiswa. Suloyo memiliki berbagai teladan, yakni sosok-sosok yang ia kagumi sebagai representasi “mahasiswa” ideal menurutnya. Salah satu sosok tersebut baru lulus setelah menempuh S1 selama 7 tahun, anomali memang, tetapi ia berhasil menulis skripsi penting setebal 300+ halaman tentang asal-usul neoliberalisme pendidikan di Indonesia dan dampaknya pada gerakan mahasiswa. Sosok lain, sama juga lulus lama, berhasil menuliskan skripsi setebal 400+ halaman tentang metafisika Martin Heidegger, dan mungkin menjadi karya berbahasa Indonesia yang paling komprehensif dalam menjelaskan pemikiran Heidegger. Suloyo ingin meneladani sosok-sosok tersebut, bukan pada lama lulus dan menjadi artefak kampusnya, tetapi pada projek ilmiah dia selama kuliah sarjana, ia harap karya skripsinya bisa berdampak signifikan pada perkembangan ilmu pengetahuan.

Nahas, sepertinya impian Suloyo itu tidak dapat terwujud, ada satu aturan atau barangkali ideologi baru yang tidak ada ketika sosok-sosok yang ia kagumi berkuliah, nama dari ideologi itu adalah “Cepat Lulus”. Iya, ideologi ini membuat para mahasiswa, termasuk Suloyo, tidak bisa berlama-lama menikmati masa sarjananya. Dalam tendensi positifnya, atau versi khusnudzhonnya, ideologi ini berguna untuk mempercepat kelulusan mahasiswa, agar mahasiswa tidak molor-molor dan segera menuntaskan tanggung jawabnya, yakni mendapat gelar sarjana. Latar belakang tendensi ini adalah fakta bahwa banyak mahasiswa yang sengaja memperlama masa studinya, entah karena menderita patah hati stadium tinggi atau mengalami suatu masa yang diistilahkan sebagai quarter life crisis oleh anak Jaksel, tidak jarang juga yang menjadi sesepuh organisasi kampus. Jarang ada mahasiswa yang lulus lama karena memang sedang serius menuntaskan riset skripsi. Semangat Suloyo yang awalnya tinggi karena bergairah, atau dalam bahasa seksualnya ‘ngaceng’ untuk serius mempersiapkan riset panjang, tiba-tiba raib atau lunglai karena ideologi tersebut.

Akreditasi: Melihat Bagaimana Kampus Mengeksploitasi Mahasiswanya

Suloyo cukup tercerahkan ketika mendengar dawuh dari sang Nabi. Singkatnya, sang Nabi menjelaskan pada Suloyo bahwa ideologi atau program ‘cepat lulus’ itu sangat politis. Sedikit serius, mari kita pertanyakan mengapa kampus ingin mahasiswanya ‘cepat lulus’? Alasan ‘komersil’ seperti biaya tidak masuk akal, sebab justru kampus diuntungkan jika mahasiswa lulus lama, karena mereka akan tetap membayar ‘UKT’ tanpa mengikuti mata kuliah. Adalah ‘akreditasi’ yang menjadi alasan program cepat lulus ini. Perlu diketahui dengan saksama dan dalam tempo waktu sesingkat-singkatnya, bahwa kampus memandang mahasiswanya bukan sekedar sebagai konsumen yang mengonsumsi produk mereka berupa ‘pengetahuan’, tetapi juga sebagai ‘pekerja’. Iya, mahasiswa adalah pekerja bagi kampusnya, sebab untuk memenuhi akreditasi dari pemerintah, kampus memerlukan kerja-kerja mahasiswa untuk memenuhi syarat akreditasi mereka. Selain program cepat lulus, kerja-kerja mahasiswa seperti memenangkan kompetisi, menulis jurnal, mengupayakan IPK bagus, dan menjadi sosok yang berprestasi juga adalah ‘nilai lebih’ mahasiswa yang diambil oleh kampus.

Penjelasan tentang pengambilan ‘nilai lebih’, membantu kita untuk memahami secara ilmiah bahwa eksistensi mahasiswa, selain sebagai konsumen, juga sebagai pekerja. Perlu ditegaskan secara lantang, bahwa memang mahasiswa mendapat keuntungan atau nilai sosial dari menjadi berprestasi maupun mendapat IPK bagus, tetapi hal ini tetap tidak menafikkan fakta bahwa ada nilai lebih yang dicuri, bahkan dimanipulasi. Adalah analisis moda produksi ala marxisme yang memungkinkan kita untuk sampai pada kesimpulan tersebut. Hizkia Yosie Polimpung di dalam tulisannya Neoliberalisme Perguruan Tinggi? Buruh Akademik? Sebuah Catatan Kritis dari Perspektif Kelas Pekerja yang terbit di majalah Balairung, menyuguhkan suatu kerangka analisis sangar atas moda produksi tersebut.

Mari kita kembali ke Suloyo. Kenapa Suloyo memilih kampus tempatnya berkuliah? Alasannya bisa beragam; bisa jadi dipaksa orang tuanya, bisa jadi ia mengejar pujaan hatinya, bisa juga dia memiliki agenda politik nyaleg jangka panjang, bisa jadi karena kampusnya bagus—entah, mending tanya Suloyo sendiri. Pertanyaan sesungguhnya adalah “mengapa Suloyo bisa kenal atau mengetahui kampus tempatnya berkuliah?” atau “bagaimana bisa kampus tersebut bisa memperkenalkan diri pada Suloyo sehingga menariknya berkuliah di sana?”. Jawaban sederhananya: promosi, jawaban lumayan seriusnya: kampus tersebut popular, jawaban seriusnya: sebab kampus tersebut diizinkan atau lolos akreditasi pemerintah dan lalu mendapat justifikasi guna menarik perhatian calon mahasiswa tuk berkuliah di sana. Keberadaan narasi “akreditasi internasional”, “kampus terbaik”, “world class university”, dan semacamnya adalah fakta empiris jawaban barusan.

Bagaimana bentuk ‘nilai’ yang diperoleh kampus dari kampanye narasi tersebut? Biaya kuliah untuk bangun gedung dan foya-foya? Sorry, tidak sesimpel itu ferguso! Proses transaksi komoditas atau ‘nilai’ atau ‘jasa’ antara kampus sebagai penyelenggara pendidikan dengan mahasiswa sebagai konsumen pendidikan tidak dapat berlangsung begitu saja. Ada prasyarat dan rukun-rukun mutlak yang harus dipenuhi kampus untuk dapat secara sah (legal) menjual jasa pendidikan tinggi kepada mahasiswa. Prasyarat tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah legalitas pendirian dan akreditasi. 

Pada skema akreditasi ini, mahasiswa bukan sekedar menjadi konsumen jasa pendidikan tinggi, tetapi relasi mahasiswa dan kampus menjadi lebih kompleks dari pembeli dan penjual. Mahasiswa bertransformasi menjadi produsen nilai-nilai yang menyumbang kapitalisasi aset akreditasi bagi kampus. Dengan lain kata, mahasiswa menjadi buruh, tepat saat ia menjadi konsumen komoditas pendidikan tinggi, tepat saat ia mendapat Nomor Induk Mahasiswa (NIM). Mahasiswa ditangkar dan diekstraksi nilai lebihnya tanpa dibayar, ketika ia di satu sisi membayar untuk bisa mendapatkan posisinya sebagai konsumen pendidikan tinggi. Uniknya, posisi buruh mahasiswa di dalam modus produksi yang disebut kampus ini, unik jika dibandingkan dengan model modus produksi lain. Posisi ini tidak bisa sekadar disamakan dengan membayar calo pemberi kerja (di pabrik atau untuk menjadi buruh migran). Bedanya, mahasiswa bahkan tidak diberi tahu bahwa ia akan dipekerjakan dan dihisap nilai kerjanya secara masif oleh kampus dengan dalih pengembangan dirinya melalui partisipasinya di pendidikan yang diselenggarakan kampus tersebut. Berbeda dari buruh pada umumnya yang bekerja dan dibayar, mahasiswa harus membayar untuk bekerja dengan tidak dibayar. Berbeda dari buruh reproduktif yang memproduksi relasi sosial-afektif (perhatian, kasih sayang, dst.) secara gratis, mahasiswa memproduksi baik produk material (karya akademik) maupun produk imaterial (pamor dan skor akreditasi kampus) dan sekaligus membayar melalui UKT untuk bisa dipekerjakan secara gratis tanpa hubungan kerja.

Bertanggungjawablah, Bayar Mahasiswamu!

Dengan dipaksa untuk lulus tepat waktu misalnya, mahasiswa harus membuang berbagai macam skema atau skenario panjangnya di kampus, seperti Suloyo yang hendak melakukan riset serius dalam tempo waktu yang tidak sebentar. Tidak hanya itu, ketika mahasiswa memenangkan berbagai perlombaan, lalu juga berhasil publish artikel dalam jurnal berindeks SINTA bahkan SCOPUS, ia akan menyumbang nilai lebih untuk skor kredit akreditasi kampus guna mempertahankan legalitas pendiriannya bahkan promosinya. 

Di sinilah Suloyo dan rekan mahasiswa sejawatnya adalah pekerja, mereka diambil nilai lebihnya oleh kampus demi memenuhi berbagai regulasi sosio-legal yang ada. Kepekerjaan mereka tidak dapat dibungkus dalam narasi moral belaka, pun dengan mereduksi pertukaran kompleks yang terjadi pada narasi-narasi fasilitatif dari kampus sebab mahasiswa telah membayar UKT untuk mereka. Jika kampus mau bertanggungjawab, maka sudah semestinya mereka membayar seluruh mahasiswa yang bekerja keras untuk menyumbang skor kredit akreditasi, termasuk semua mahasiswa yang dipaksa untuk “cepat lulus”. Mahasiswa adalah buruh dan konsumen secara bersamaan, tetapi melalui skema eksploitasi yang sistematis, kampus bisa meninggalkan kewajibannya untuk membayar mereka dan justru merampas nilai lebih sesuka hatinya. Akhiru kalam, mengutip omongan presiden Indonesia ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono: “Saya Prihatin!”.

Penulis: Mohammad Rafi Azzamy

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.