AKHIR KISAH KANTIN KEJUJURAN DI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

Pada Rabu pagi, 15 Oktober 2025, deretan tutup botol merah yang biasa berjajar di meja-meja depan perpustakaan Universitas Brawijaya tidak lagi terlihat. Selama delapan tahun, botol-botol air mineral Vit dalam kardus kecil itu menjadi pemandangan akrab bagi mahasiswa yang membutuhkan minum cepat tanpa harus naik ke kantin atau keluar gerbang kampus. Kini, mereka lenyap—ditertibkan oleh pihak keamanan universitas.
Di balik hilangnya kantin kejujuran ini, ada sosok Sugiono, lulusan sekolah dasar berusia paruh baya yang menjadikan sistem kejujuran sebagai sumber nafkah keluarganya yang terdiri dari istri dan empat anak. Penutupan ini bukan hanya soal aturan kampus, tetapi juga pertanyaan tentang ruang bagi pedagang kecil di institusi pendidikan.
Berawal dari Kesulitan Mahasiswa Mencari Air
Sugiono memulai kantin kejujurannya pada 2017. Setiap pagi sejak subuh, pria asal Mergosono Kota Malang ini mengendarai motornya sejauh lima kilometer menuju kampus UB. Jam lima pagi, saat gerbang Veteran masih separuh terbuka, ia sudah tiba untuk mengisi wadah dagangannya yang tersebar di berbagai fakultas—dari Fakultas Kedokteran hingga Fakultas Teknik Sipil.
Ide kantin kejujuran muncul dari pengamatannya terhadap kesulitan mahasiswa mencari air minum. Pada masa itu, tidak semua fakultas memiliki kantin. Fakultas MIPA dan Fakultas Ilmu Budaya baru membangun kantin dua tahun terakhir. “Saya coba tak taruh satu di FIB, di depan pintu. Terus teman-teman mahasiswa kok kasih apresiasi, ‘Ya beginilah, Pak, jadi enggak jauh-jauh’,” kenangnya.
Bagi Sugiono yang kesulitan mencari pekerjaan formal karena pendidikan terakhirnya SD, kantin kejujuran menjadi jalan keluar. Ia tidak mengejar untung besar. Prinsipnya sederhana: dapat uang untuk ongkos mengangkat air sudah cukup.“Wis penting dapat upah gitu loh, Mas,” ujarnya dengan nada pasrah namun bersyukur. Jika ada mahasiswa yang haus tetapi tidak punya uang dan mengambil air begitu saja, ia tidak keberatan. Yang membuatnya prihatin adalah ketika botol-botol itu lenyap beserta uangnya, sehingga ia tidak bisa kulakan lagi.
Sistem kejujuran memang berisiko tinggi. Sugiono sadar betul akan itu. Ketika ada mahasiswa yang terinspirasi dan ingin mengikuti jejaknya, ia selalu memberi peringatan. “Gini kan murni kejujuran [berjualannya], jadi risiko tertingginya ya barang [dagangan] hilang. Kalau Anda siap dengan risiko itu, ya silahkan jalankan. Kalau enggak siap dengan itu, jangan,” tuturnya. Ia lebih menyarankan mahasiswa menjual langsung kepada teman daripada meninggalkan barang tanpa pengawasan.
Adaptasi dan Dukungan Mahasiswa
Seiring waktu, kantin kejujuran Sugiono mengalami perkembangan. Seorang mahasiswa kedokteran memberinya saran untuk mengadopsi sistem QRIS sebagai metode pembayaran nontunai. Mahasiswa tersebut bahkan membantu menyiapkan sistemnya. Sugiono merasa sangat terbantu. “Uangnya lebih aman. Dari saya enggak bisa diambil lagi,” ujarnya dengan nada lega. Pembayaran digital juga membuat mahasiswa merasa lebih nyaman—tidak perlu khawatir uang tunai yang mereka tinggalkan akan diambil orang lain.
Setiap hari, Sugiono membagikan enam hingga tujuh kardus air mineral ke berbagai titik di kampus. Setelah mengisi kantin kejujurannya, ia tidak langsung pulang. Pria yang memiliki empat anak—yang tertua berusia 25 tahun dan termuda 4 tahun—ini masih mencari pekerjaan sampingan di lingkungan UB. Ia menerima tawaran apa saja: membersihkan taman, merawat tanaman, atau merenovasi rumah dosen. “Ya, kerjaan apa ajalah disuruh dosen bersihkan taman atau bikin taman, ngerawat taman, atau semi-semi renovasi rumah gitu, apa aja serabutan,” ucapnya sambil tersenyum.
Sugiono bukan sekadar pedagang yang memanfaatkan celah aturan. Ia memperhatikan detail kecil agar dagangannya tidak mengganggu kenyamanan mahasiswa. Wadah yang dipakainya adalah kardus bekas Vit yang dilipat menjadi dua—solusi murah karena membeli nampan plastik berharga Rp6.000 per buah akan menggerus modalnya. Ukuran kardusnya dibuat kecil, cukup untuk menampung beberapa botol tanpa memakan banyak ruang di meja. “Kita harus pandai-pandai kita jaga diri, jaga kondisi supaya enggak begitu mengganggu. Terus enggak kelihatan kumuh atau kotor kan gitu. Harus tetap bersih,” jelasnya tentang prinsip berdagangnya.
Tidak hanya di Universitas Brawijaya, Sugiono kadang juga berjualan di Universitas Negeri Malang pada momen-momen tertentu seperti wisuda. Di kedua kampus itu, ia tergabung dalam paguyuban pedagang bernama Bumdes Guna—Badan Usaha Milik Diponegoro Jaya, yang menaungi pedagang asongan, pedagang bakso keliling, dan pemilik stan.
Pilihan berjualan Vit pun bukan tanpa pertimbangan. Awalnya, Sugiono menjual Club, tetapi lama-kelamaan produk itu tidak lagi memberikan bonus seperti pada masa Ramadan. Ketika Vit menawarkan sistem target dengan bonus yang menarik, ia beralih. Ia selalu menghitung target bulanan berdasarkan performa bulan sebelumnya. “Jadi saya ngambil target itu yang sesuai kemampuan, ibarat kata mungkin dalam satu bulan itu bisa jualan 50 karton gitu ya, kita minta target ke dia paling ya 35, 30 gitu,” ucapnya menjelaskan strateginya. Dari bonus inilah ia menutupi kerugian jika ada barang yang hilang atau diambil tanpa bayar.
Penertiban dan Aturan Kampus

Hubungan Sugiono dengan pihak keamanan kampus selama ini cukup baik meski tanpa izin resmi. Jika ada penertiban, ia selalu diberi tahu terlebih dahulu. “Kalau kami dilarang pun juga kami manut, kami berhenti, kita enggak berontak atau mokong itu enggak. Kalau nggak boleh ya nggak boleh,” tegasnya. Pada 1 dan 2 Oktober, kantin kejujurannya tidak terlihat di depan perpustakaan setelah ia diberi tahu akan ada penertiban. “Saya enggak jualan,” ujarnya santai.
Namun pada 15 Oktober, penutupan itu bersifat permanen. Sugiono mengaku belum tahu alasan pasti dari pihak keamanan. “Dugaan mungkin pihak UB mau ambil alih jualan model kayak kami ini, Mas,” tebakannya. Baginya, larangan ini berarti kehilangan pekerjaan. “Hanya ini pekerjaan rutin kami,” ujarnya.
Nirmawan, Koordinator Keamanan dan Ketertiban Universitas Brawijaya, memiliki pandangan tegas mengenai kantin kejujuran dan pedagang keliling lainnya. Ia menganggap berjualan di dalam kampus harus melalui jalur resmi. “Silahkan sama yang bersangkutan untuk ke kantin,” ucapnya. Menurut Nirmawan, pedagang yang ingin mencari nafkah di dalam kampus harus mengajukan izin resmi melalui prosedur yang ada, termasuk melalui pengelola kantin atau unit usaha kampus.
Aturan larangan berjualan tanpa izin ini, menurut Nirmawan, berlaku untuk seluruh wilayah Universitas Brawijaya, bukan hanya di perpustakaan. Pelanggaran terhadap aturan ini dapat berujung pada penyitaan barang dagangan. Jika pedagang tetap bandel setelah diberi peringatan, mereka diminta membuat surat pernyataan. Jika masih melanggar, barang dagangan akan disita untuk selamanya.
Nirmawan mengakui bahwa penegakan aturan ini tidak mudah. Tim keamanan yang berpatroli secara berkala sering terlibat dalam permainan kucing-kucingan dengan pedagang. “Kita ke sini, mereka keluar. Tapi masuk lagi lewat gerbang sana,” jelasnya. Pedagang bakso dan makanan keliling yang diusir dari satu pintu masuk akan masuk kembali melalui pintu lain atau jalan tikus yang menghubungkan kampus dengan pemukiman sekitar.
Tentang pedagang yang mengaku mendapat izin dari fakultas, Nirmawan meminta hal itu diklarifikasi. “Tolong disampaikan sama yang berwenang di FIB lah, tolong peraturan itu untuk ditegakkan lagi ya. Jadi jangan asal berizin-izin itu. Nanti yang kena tetap kita yang di lapangan,” katanya. Ia menekankan bahwa keamanan fakultas dan keamanan universitas harus bekerja sama menjaga ketertiban, kenyamanan, dan keamanan kampus.
Pengecualian hanya diberikan kepada mahasiswa yang berjualan sebagai bagian dari tugas kuliah. Mereka harus menunjukkan surat dari dosen pembimbing atau pembina organisasi yang menyatakan bahwa aktivitas jual beli tersebut bagian dari tugas akademik.
Perspektif Mahasiswa: Kehilangan Kemudahan
Bagi mahasiswa, hilangnya kantin kejujuran ini dirasakan sebagai kehilangan kemudahan. Faris, mahasiswa jurusan Budidaya Pertanian, menganggap kantin kejujuran adalah hal yang bagus. “Kadang saat dispenser air sedang kosong atau saat malas naik ke kantin, bisa langsung mengambil botol Vit yang ada di depannya dan tinggal bayar,” ujarnya.
Jalaludin, teman Faris, sependapat. Ia melihat kantin kejujuran sebagai sarana melatih kejujuran mahasiswa dan mengingatkannya pada pengalaman serupa di Madura. Meski menyadari ada yang tidak jujur, ia tetap mendukung program ini karena menyebarkan akses air minum dengan mudah. “Kalau kantin kejujuran ini kurang eloklah kalau enggak ada,” pungkasnya.
Ketika ditanya bagaimana jika kantin kejujuran tidak ada, Faris menjawab mereka harus keluar gerbang atau naik ke kantin atas hanya untuk mencari air. “Kalau enggak ada kan aduh malas juga,” keluhnya membayangkan situasi tanpa kantin kejujuran. Jalaludin menambahkan bahwa kantin kejujuran sangat membantu mahasiswa yang malas mencari alternatif lain.
Kini, Sugiono harus mencari cara lain untuk menafkahi keluarganya. Apakah universitas akan menyediakan alternatif bagi pedagang seperti dia, atau apakah ia harus mencari nafkah di tempat lain, masih menjadi pertanyaan terbuka. Yang jelas, tutup botol merah yang selama delapan tahun menjadi simbol kepercayaan dan kemudahan di kampus Brawijaya, kini tinggal kenangan.
Penulis: Muhammad Iqbal Rabbani
Kontributor: Muhammad Zaki, Naufal Rizqi Hermawan
Editor: Mohammad Rafi Azzamy
