Lagu tema Demon Slayer terdengar berulang dari pengeras suara Family Mart Suhat malam itu. Kolaborasi dengan anime populer membuat suasana minimarket terasa berbeda—meriah namun juga sedikit repetitif. Di pojok dekorasi bertema Jepang, udara malam Malang yang menusuk membuat hawa dingin terasa menembus hingga ke tulang.

Di pojok itulah Awa, mahasiswa baru Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya, duduk bersandar. Kerudungnya sesekali ia rapikan, masker tetap terpasang, dan dari sorot matanya tampak jelas sisa kelelahan. Ia berusaha tenang, tetapi kesedihan itu masih terbawa.

“Aku tuh nangis sampai bikin sakit kepala sama sakit mata,“ ceritanya sambil memegang bagian bawah matanya yang sembab.

Janji Manis dari Kantor Ospek

Kisah ini bermula sekitar dua minggu sebelum PKKMB (Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru). Seperti mahasiswa baru lainnya, Awa masih sibuk menata hidup barunya di Malang. Daftar kebutuhan ospek terasa menumpuk: tas ransel, selendang, pita, handuk kecil, jas hujan, tanda pengenal, hingga bagtag. Semua harus lengkap karena atribut ini menjadi “syarat wajib“ untuk mengikuti kegiatan.

Sebagai anak rantau dari Pekanbaru, Awa mengaku kebingungan. Ia belum tahu toko mana yang menjual perlengkapan-perlengkapan itu. Di tengah kebingungan, ia membaca pesan di grup Telegram FISIP. Seorang kakak tingkat bernama Bella, dengan akun resmi Advokesma, membagikan tautan Kantor Ospek Braw dan menyarankan para mahasiswa baru untuk melakukan pemesanan awal di sana.

“Dia tuh lebih dari tiga kali nyaranin. Makanya orang-orang percaya,“ kata Awa.

Nama “Advokesma“ yang melekat pada akun Bella seolah menjadi jaminan. Advokesma, atau Advokasi dan Kesejahteraan Mahasiswa, adalah divisi Badan Eksekutif Mahasiswa yang dikenal dekat dengan mahasiswa baru. Rekomendasi mereka dianggap aman dan terpercaya.

Awa pun luluh. Apalagi sebelumnya, ketika mengikuti Raja Brawijaya (Rabraw), ia juga memesan perlengkapan lewat Ospek Braw yang sepertinya berafiliasi dengan Kantor Ospek ini, dan hasilnya masih memuaskan. Maka, tanpa banyak berpikir panjang, ia ikut pemesanan awal gelombang kedua untuk PKKMB.

Ia membayar uang muka Rp70.000, lalu melunasi Rp97.000 beberapa hari kemudian. Kantor Ospek menyediakan formulir daring berisi pilihan jam pengantaran. Awa memilih opsi sore, berharap semua berjalan lancar.

“Awal-awal mereka masih cepat merespons banget, Kak. Jadi aku percaya aja,“ kenangnya.

Malam Penantian yang Berakhir Kecewa

Tanggal 13 Agustus tiba, sehari sebelum PKKMB FISIP. Sejak pagi, kegelisahan mulai merayap. Teman-teman Awa yang memilih opsi pengantaran pagi mengeluh barang mereka tak kunjung datang. Ketika barang milik beberapa teman akhirnya tiba, hasilnya mengecewakan.

“Dapatnya itu barang rongsokan. Kayak barang sudah pakai. Nah, tapi ada satu lagi yang sudah dapat bagus tapi tidak lengkap, tidak ada tas ransel, tidak ada handuk kecil. Untuk Rp170.000 tuh tidak sepadan,“ jelasnya.

Awa semakin resah. Ia menunggu hingga malam tiba, tetapi paketnya tak kunjung datang.

“Posisi aku tuh sudah jam tujuh malam, masih belum ada barang,“ katanya.

Teman-temannya menyarankan untuk menunggu satu jam lagi. “Kalau jam delapan tidak datang, baru cari keluar,“ begitu saran mereka. Namun hingga pukul sembilan, tetap nihil. Sementara itu, mahasiswa lain yang nekat mendatangi alamat Kantor Ospek malah disuruh pulang. Di Instagram, akun Kantor Ospek mengunggah cerita: dilarang mendatangi lokasi, karena mereka masih dalam proses membuat tanda pengenal dan bagtag.

Awa hanya bisa menggeleng. “Padahal kan diumumkan sudah seminggu sebelumnya. Kok bisa baru dibuat malam itu?“ keluhnya.

Ia tetap menunggu. Pesan yang ia kirim ke nomor Kantor Ospek hanya bertanda centang satu. Teman-temannya yang mengirim pesan berulang malah diblokir. Di sisi lain, cerita Instagram Kantor Ospek menuliskan: “Tinggal 250 rumah lagi yang belum diantar.“ Saat itu jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari.

Awa terdiam. “Aku langsung berpikir, wah ini tidak akan cukup waktunya. Kita kan jam lima pagi sudah harus di kampus,“ katanya.

Dalam kepanikan, Awa akhirnya nekat keluar kos di kawasan Suhat. Ia berkeliling ke arah Veteran, dari beberapa kios kecil yang masih buka, ia hanya berhasil membeli selendang dan pita. Di tengah keputusasaan, seorang kakak tingkat bernama Tia datang mengantarkan sandal dan jas hujan.

“Itu pun aku terharu banget, Kak. Sumpah,“ ucap Awa, matanya kembali berkaca-kaca.

Namun sisanya tetap kosong. Tas ransel, handuk kecil, tanda pengenal, bagtag, semuanya tidak ada. Ia pun pasrah, bertekad datang ke PKKMB dengan perlengkapan seadanya.

14 Agustus pagi, Awa berangkat dengan mata sembab dan kepala pening. Ia mengaku semalaman menangis, bukan hanya karena uang Rp170.000 lenyap, tetapi juga karena rasa dikhianati dan kebingungan. Saat PKKMB, ia tak bisa fokus. Rasa kantuk menyerang, membuatnya sempat tertidur. Seorang koordinator lapangan menegurnya dengan nada keras.

“Padahal aku tuh sebenarnya bukan sakit perut atau apa, tapi ya… ngantuk, karena habis menangis semalaman,“ ceritanya lirih.

Pengalaman PKKMB yang seharusnya jadi kenangan indah bagi mahasiswa baru, berubah jadi bencana.

“Suasana hati buruk banget. Kayak tidak menjalani dengan hati. Jadi malas gitu,“ keluhnya.

Luka dan Pelajaran Berharga

Awa bukan satu-satunya korban. Di grup Telegram, setidaknya 56 mahasiswa baru mencatatkan nama mereka sebagai pihak yang tidak menerima barang atau menerima paket cacat. Ironisnya, korban bukan hanya mahasiswa rantau. Bahkan mahasiswa lokal ikut terkena tipu.

Lebih mengejutkan lagi, beredar kabar adanya kongkalikong antara panitia dengan kurir. Barang sengaja tidak diberikan kepada pembeli, atau diperlambat pengantarannya.

“Jadi kayak mereka sekongkol gitu, Kak. Aku tuh sudah capek banget,“ kata Awa dengan nada geram.

Yang membuat mahasiswa baru makin kecewa adalah sikap pihak Advokesma. Saat situasi kacau, mereka justru menghilang.

“Mereka tuh hilang, mereka muncul lagi waktu sudah aman, sudah selesai. Jadi tidak ada waktu kejadian,“ ucap Awa.

Padahal, sejak awal Advokesma lah yang membawa nama Kantor Ospek ke grup Telegram. Rekomendasi Bella, yang berkali-kali dikirim dari akun Advokesma, menjadi legitimasi. Awa merasa kepercayaan itu disalahgunakan.

Kini, nama Advokesma tercoreng di mata mahasiswa baru. “Sudah jelek banget namanya di maba. Masalah kepercayaan jadinya,“ tegas Awa.

Bagi Awa, masalah ini bukan semata soal uang. Rp170.000 memang hilang, tetapi yang lebih terasa adalah waktu, tenaga, dan energi emosional yang terkuras.

“Capeknya itu loh, Kak. Sudah keluar uang, tenaga, waktu, tapi tidak ada hasil apa-apa,“ ujarnya.

Ia mengaku, pengalaman ini membuatnya jauh lebih berhati-hati. Ke depannya, ia tak akan mudah percaya pada rekomendasi, sekalipun datang dari lembaga resmi.

Malam itu di Family Mart Suhat, Awa kembali membetulkan kerudungnya. Tangannya berulang kali menyentuh masker, menyesuaikan posisi agar lebih nyaman. Suaranya bergetar, namun matanya menatap lurus.

“Aku baru pertama kali kena penipuan. Rasanya sakit banget,“ katanya.

Baginya, PKKMB yang seharusnya menjadi awal cerita indah sebagai mahasiswa baru, justru tercoreng. Kepercayaan yang ia berikan baik pada Kantor Ospek maupun pada Advokesma telah hilang. Yang tersisa hanyalah pelajaran pahit, bahwa bahkan di balik sambutan meriah untuk mahasiswa baru, ada celah bisnis musiman yang bisa berujung penipuan.

Penulis: Mariana Safina Nirmala
Editor: Mohammad Rafi Azzamy

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.