KERINGAT, SAMBAT, DAN HARAP DI BALIK PEMILIHAN DEKAN

0
Sumber: Kanal24.co.id & Filkom.ub.ac.id

MALANG-KAV.10 “Hanya dapat makan siang sama air putih sih,” terang Wimmy setelah menjelaskan kegiatannya di pemilihan dekan (pildek) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) bulan april–mei lalu. Ia menjadi salah satu dosen yang terpilih sebagai suksesor rangkaian pildek. Menerima amanah yang diberikan senat itu, Wimmy berkomitmen untuk mengemban jabatan koordinator teknis dengan ikhlas. 

Namun, FISIP hanyalah salah satu dari sembilan fakultas yang mengadakan pildek. Universitas Brawijaya memang sedang sibuk-sibuknya mengurusi pergantian jabatan dekanat di beberapa fakultas. Dengan adanya pildek itu, berbagai atensi dicurahkan oleh civitas academica, seperti pemaparan visi misi yang diikuti oleh dosen dan konsolidasi yang dilakukan oleh mahasiswa.

Ironisnya, dari atensi yang melanda topik arus utama tersebut, banyak sayup-sayup suara yang tidak diperhatikan di sekitar mereka. Mereka hanya dianggap pelengkap layaknya kerupuk nasi pecel untuk sarapan. Beberapa di antara mereka melakoni peran itu dengan tangan terbuka, contohnya Wimmy. Namun, beberapa yang lain menyatakan keberatannya atas dampak dari pildek yang merugikan.

Euforia Keberhasilan Panitia

Wimmy Halim, dengan tas kecilnya, berada di gedung C FISIP siang itu. Ia duduk di kursi lobi sambil menekuni handphone-nya yang memiliki beberapa notifikasi. Minggu-minggu menjelang ujian akhir membuatnya tidak terlalu sibuk mengajar. Salah satu kesibukannya siang itu hanyalah janji dengan mahasiswa yang memerlukan bimbingan skripsi.

Sambil merebahkan tubuhnya, Wimmy bercerita bahwa dirinya merasa puas setelah pildek selesai. Semua mekanisme yang ia rancang bersama divisinya berjalan lancar. Sebagai koordinator teknis, tupoksi Wimmy berkutat menyiapkan segala mekanisme di lapangan. Dirinya yang memakai kaos hitam dan celana jeans siang itu memperinci tugas-tugasnya, seperti pendataan pemilih, merancang alur pencoblosan, hingga mencetak surat suara yang nanti dibagikan. “Apalagi teknis pemilihannya daring dan luring,” terang Wimmy sembari bangga atas keberhasilannya.

Sementara itu, sekitar 700 meter dari arah tenggara FISIP, Edy bergegas menuju ruangannya setelah mengajar. Ia ingat untuk menepati jadwal wawancara mengenai dirinya sebagai panitia pemilihan dekan (pildek) Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM). Pada bulan maret sebelumnya, nama Edy memang disetujui oleh senat untuk menjadi ketua panitia. “Setelah nama saya disetujui, struktur panitia kami bentuk dan senat mengeluarkan surat keputusan,” jelas Edy dengan kemeja pendek yang tak menghalanginya untuk bermurah senyum.

Dengan menyandarkan tubuhnya di kursi, Edy menyalakan komputer dan segera membuka beberapa peraturan rektor. Berlandaskan itu, ia menjelaskan panjang lebar mengenai tupoksinya sebagai ketua pelaksana: memeriksa persyaratan calon, menertibkan mekanisme pemilihan, hingga memantau transparansi dari seluruh proses. “Bedanya dengan fakultas lain, kami menggunakan Excel sehingga penghitungan menjadi lebih cepat,” bangga Edy menceritakan pildek di fakultasnya.

Tidak cukup di situ. Sambil menunjukkan beberapa dokumentasi, Edy menceritakan kinerjanya selama memegang pildek. Ia menangkis isu tentang dosen di FILKOM yang meninggalkan kelas saat masa pildek berlangsung. Menurutnya, dosen yang menjadi panitia pildek kali ini hanya dua, yakni dirinya dan sekretaris—jabatan lain diisi oleh tenaga kependidikan. “Itupun kalau waktunya mengajar ya ditinggal. Hahahaha,” tangkas Edy menolak isu tersebut dan diakhiri dengan tawa khasnya.

Suara-suara yang Diabaikan

Sayangnya, isu yang ditangkis oleh Edy ternyata benar terjadi di Fakultas Ilmu Budaya (FIB). Salah satu mahasiswa antropologi, Mawar (*), bercerita bahwa dirinya beberapa kali tidak diajar oleh Hipolitus, dosen antropologi filsafat, dengan alasan ada rapat yang tidak bisa ditinggalkan. Mawar mengeluh karena kelasnya sudah tiga kali tidak diisi oleh Hipolitus, yang juga menjabat sebagai ketua pelaksana pildek FIB saat itu. “Dari tiga kali alpha itu, pak Hipo menyelenggarakan kelas pengganti hanya sekali. Sisanya cuma dikasih tugas,” ucap Mawar menjelaskan pengalamannya sambil menenteng tas kecil di tangan.

Mawar, yang siang itu baru saja mengerjakan UAS, melangkah perlahan di area depan perpustakaan. Dengan mengenakan atasan hitam dengan bawahan jeans, ia bersimpuh di tempat duduk dekat kolam air. Mawar mengeluhkan lebih lanjut tentang haknya sebagai mahasiswa yang tidak dipenuhi. Menurutnya, alasan Hipolitus meninggalkan kelas karena rapat bukanlah sesuatu yang dapat dimaklumi. “Karena sebenarnya tanggung jawab dosen yang paling utama kan ke kita, ke mahasiswa,” ujarnya kecewa atas problem akademik yang dihadapinya.

Dari cerita Mawar, sebenarnya ia memiliki ekspektasi tinggi pada kampus yang menjadi almamaternya saat ini. “UB ini kan juga masuk top 10 universitas di Indonesia, ya,” ucapnya bangga mengisahkan informasi yang sering didapatnya. Namun, Mawar kecewa karena ekspektasinya itu patah dengan realita yang ia hadapi sekarang, seperti dosen yang meninggalkan kelas dan jurusannya yang terjerat isu kekurangan dosen. “Kalau sistemnya seperti itu, jadinya kita yang rugi tidak, sih,” pungkas Mawar menyikapi persoalan yang ada di jurusannya.

Hal yang sama juga terjadi di sebelah utara FIB, tepatnya di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA). Afik, salah satu mahasiswa matematika, mengalami kejadian serupa dengan Mawar. Di sela-sela paginya yang sibuk, ia memberi keterangan bahwa dirinya pernah beberapa kali mengalami kekosongan mata kuliah Kalkulus II yang diampu oleh Ratno Bagus Edy Wibowo, yang juga menjabat sebagai dekan FMIPA saat itu. “Pak Ratno hanya beberapa kali tidak masuk. Selebihnya, beliau seringkali telat saat mengajar,” tanggapnya dengan sarung dan kaos putih yang akan ia kenakan untuk sholat dhuha. 

Sambil menyiapkan perlengkapan kuliahnya, Afik menjelaskan lebih lanjut terkait suasana kelas ketika Ratno mengajar. Di samping kedatangannya yang selalu telat, Afik mengeluhkan cara mengajarnya yang tidak mengenakkan. Menurut keterangannya, cara mengajar Ratno hanya membacakan rumus di buku matematika, namun tidak menjelaskan konsepnya. “Bukunya berbahasa Inggris pula,” keluh Afik atas pengalamannya ketika diajar Ratno.

Selain Mawar dan Afik, beberapa mahasiswa yang mengisi survei Kavling10 juga mengalami hal serupa. Beberapa nama seperti Alvina, FMIPA; Maryam, Fakultas Ekonomi dan Bisnis; dan Putri, Fakultas Teknik; mengeluhkan masing-masing dosen mereka yang tidak masuk ke kelas. Pandangan mereka bertiga sama, yakni kurangnya profesionalitas dosenlah yang menyebabkan kejadian seperti itu terjadi. Ada juga Rossa (*) yang mengeluhkan tentang dosennya yang hanya memberikan tugas untuk mengisi kelas agar tidak terjadi kekosongan, tapi tidak menjelaskan materi.

Harapan-harapan yang Dirapal

Menghadapi permasalahan di fakultasnya, Mawar merasa iba. Ia berharap agar FIB bisa berbenah diri. Perbaikan itu, menurut Mawar, bisa dimulai dari memerhatikan kritik-kritik yang disampaikan oleh para mahasiswa. “Ketika ada mahasiswa mengkritik itu diperhatikan, jangan hanya dianggap angin lalu,” pungkas Mawar yang hendak beranjak menuju aktivitas yang lain. 

Afik sedikit berbeda. Ia agak mempertimbangkan kesibukan dekan yang juga memiliki tugas mengajar mahasiswa. Hanya saja, ia menyayangkan Ratno yang seringkali tidak mengonfirmasi ketidakhadiran atau keterlambatannya saat mengajar. “Harapanku dekan selanjutnya dapat memaksimalkan kinerja sebagai dekan dalam memimpin dan sebagai dosen dalam mengajar,” harap Afik untuk dekan FMIPA yang terpilih menggantikan Ratno.

Sementara itu, di fakultas tempat Afik belajar, Ika baru saja selesai ikut serta dalam zoom meeting dengan pihak Universitas Gadjah Mada (UGM). Koordinasi online tersebut menjadi salah satu tupoksinya sebagai Kepala Subbagian (Kasubbag) Akademik, Kemahasiswaan, Alumni, Kerja Sama, Dan Kewirausahaan Mahasiswa FMIPA untuk meningkatkan pengelolaan organisasi kemahasiswaan. “Ya selain aktif di sana, saya juga turut andil di ULKPKS dan Zona Integritas FMIPA,” tutur Ika menjelaskan kesibukannya di kampus.

Sebagai kasubbag fakultas, Ika menerangkan bahwa dirinya terlibat menjadi pemilih dalam pemilihan dekan FMIPA bulan april lalu. “Sesuai dengan peraturan rektor, tenaga kependidikan (tendik) yang memiliki hak suara adalah kasubbag,” terang Ika dari suara yang tersambung melalui telepon whatsapp. Sebagai kasubbag juga, Ika menceritakan bahwa pemilihan dekan tahun ini belum berpengaruh pada tupoksinya. “Sejauh ini belum berubah, karena tanggung jawab saya itu kepada Wakil Dekan I yang sekarang masih menjabat,” ucap Ika menanggapi adanya pergantian struktur dekanat.

Namun, mengenai dekan FMIPA terpilih, Sukir Maryanto, Ika mengaku bahwa tidak terlalu mengetahui hubungannya dengan para tendik. Sebab, jabatan Sukir sebelumnya memang menjadi ketua senat. “Dulu pak Sukir pernah menjadi Wakil Dekan II, tapi saat itu saya masih belum berada di FMIPA. Jadi saya kurang tahu secara struktural,” jelas Ika yang juga menerangkan bahwa Sukir terlihat baik dari personalnya.

Ika sendiri berharap dengan diangkatnya Sukir sebagai dekan, terdapat beberapa peningkatan di segala sektor, seperti kesejahteraan pegawai, pengelolaan kemahasiswaan, pengelolaan keuangan, juga pengelolaan pengabdian masyarakat. “Terkhusus untuk tendik, perlu lagi diadakan diklat untuk meningkatkan kinerja mereka,” harap Ika sambil bersiap mengakhiri wawancara karena dirinya hendak pulang dari kampus.

*Bukan nama sebenarnya. Tim redaksi Kavling10 menggunakan nama samaran guna keamanan narasumber terkait.

Penulis: Muhammad Tajul Asrori
Editor: Mohammad Rafi Azzamy

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.