FILSAFAT JURNALISME: EKSPLORASI EPISTEMOLOGI, METAFISIKA, DAN AKSIOLOGI SEDERHANA [BAGIAN 1]

0
Lukisan Hendra Gunawan, “Never Lose Your Fighting Spirit”, 1972.

Jurnalisme, apabila dilakukan dengan benar, adalah pilar penting dalam masyarakat demokratis. Fungsinya tidak hanya sebagai sumber informasi, melainkan juga sebagai pengawas yang mengawasi kekuasaan dan pintu diskursus di masyarakat. Tapi, apa dasar-dasar filosofis dan logis yang mendasari jurnalisme? Artikel ini akan diawali dengan pembahasan terkait kriteria jurnalisme, dilanjutkan dengan eksplorasi dasar filsafat jurnalisme: baik metafisika, epistemologi, dan aksiologi. Kemudian, akan dibahas perihal logika jurnalisme berikut meta-teori jurnalisme, hingga tantangan logis yang dihadapi oleh jurnalisme di era media modern ini.

1. Kriteria Jurnalisme: Tujuan, Pembuatan, dan Metode

Untuk memahami apa itu jurnalisme, kita perlu tahu apa saja aspek yang dapat diobservasi dari jurnalisme. Setidaknya terdapat tiga aspek (CAJ, 2021): tujuan, pembuatan, dan metode.

Dalam aspek tujuan, tujuan utama jurnalisme adalah pencarian kebenaran (CAJ, 2021). Ini berarti jurnalisme hendak memberikan informasi yang akurat, memberdayakan masyarakat dengan pengetahuan, dan tetap independen dari pengaruh yang tidak seharusnya. Mencari kebenaran itu sangat penting, bahkan jika kebenaran itu tidak enak didengar atau menantang pandangan umum.

Dalam aspek pembuatan, jurnalisme yang baik didasarkan pada pengecekan fakta yang teliti (CAJ, 2021). Artikel, investigasi, dan laporan harus diteliti dengan cermat. Jurnalisme, meskipun harus objektif, juga bisa disajikan dengan kreatif, selama kontennya tetap jujur dan akurat. Orisinalitas itu penting, tapi akurasi lebih utama.

Dalam aspek metode, metode jurnalisme harus bersifat publikatif: artinya, ditujukan untuk disebarkan secara luas (CAJ, 2021). Lalu, jurnalisme harus bersifat verifikatif, yaitu berusaha untuk mengkonfirmasi informasi dari berbagai sumber. Jurnalisme juga harus bersifat korektif, yakni bersedia mengakui dan memperbaiki kesalahan dengan cepat. Terakhir, jurnalisme harus mencoba memikat atensi publik dan mendorong diskusi publik tentang berbagai masalah, dengan selalu berlandaskan pada tujuan utama mencari kebenaran dan memberdayakan masyarakat. Membangun atensi yang bertanggung jawab berarti menghindari sensasi demi sensasi, sebaliknya, fokus pada penyajian informasi yang akurat dan relevan yang memicu pemikiran kritis dan dialog konstruktif.

2. Filsafat Jurnalisme

Untuk memahami jurnalisme lebih lanjut, penting untuk memahami landasan filsafat dari jurnalisme. Dalam konteks filsafat, kita akan menyentuh beberapa cabang utama: metafisika (yang membahas hakikat realitas), epistemologi (yang membahas hakikat pengetahuan), dan aksiologi (yang membahas hakikat nilai). Sejauh ini saya belum menemukan kajian murni akademis yang dapat diakses publik mengenai filsafat jurnalisme: sejauh ini kajian filsafat mengenai jurnalisme yang dapat diakses publik itu lebih banyak terkait etika jurnalisme.

Sebenarnya terdapat kajian yang secara eksak mengkaji kata kunci “filsafat jurnalisme”, yakni oleh Ruben Rabinsky (1998), akan tetapi sayang sekali aksesnya terbatas dan saya tidak dapat mengaksesnya. Adapula kajian filsafat jurnalisme oleh Christopher Schwartz (2022), namun ia hanya membahas terkait filsafat audiens dalam jurnalisme, bukan tentang filsafat jurnalisme itu sendiri secara komprehensif. Saya menemukan satu artikel web menarik terkait filsafat jurnalisme dari sisi epistemologi, perihal kebenaran dan objektivitas dalam jurnalisme, oleh Julian Baggini (2003).

Pembahasan mengenai filsafat jurnalisme di sini akan berangkat dari artikel oleh Baggini tersebut sebagai landasan untuk membahas aspek epistemologi. Mengingat keterbatasan akses pada kajian filsafat jurnalisme yang komprehensif, saya kemudian akan mengabstraksikan dan mengembangkan eksplorasi ke dalam studi metafisika, aksiologi, dan tentunya logika jurnalisme berdasarkan kerangka awal ini. Anggap saja ini sebagai sebuah upaya membuka diskursus filsafat jurnalisme yang utuh meski terdapat keterbatasan akses.

2.1. Epistemologi Jurnalisme

Bagian ini akan secara khusus mengeksplorasi konsepsi kebenaran dan objektivitas dalam jurnalisme berdasarkan analisis Julian Baggini (2003). Kajian epistemologi terkait kebenaran dan objektivitas berputar pada sebuah perdebatan besar. Perdebatan tersebut muncul dari dua kubu epistemik: objektivisme naif melawan relativisme absolut.

Sederhananya, objektivisme naif berpandangan bahwa pengetahuan yang objektif itu mungkin. Kemungkinan tersebut dicapai dengan upaya menanggalkan aspek subjektivitas dalam diri. Dengan kata lain, subjek “dilatih” untuk mengungkapkan apa yang diketahui dengan apa adanya, sehingga naif. Dalam konteks jurnalisme, ini seperti pandangan seorang jurnalis yang meyakini ia dapat melaporkan suatu peristiwa tanpa sedikit pun pengaruh dari latar belakang, nilai, atau sudut pandang pribadinya.

Sementara itu, relativisme absolut skeptis terhadap objektivisme naif. Secara solipsistis, pengetahuan selalu terikat pada subjek yang mengetahui. Ikatan tersebut terbangun dari perspektif sang subjek, berikut dengan pengetahuan lain seperti pengalaman pribadi, yang turut hadir beriringan. Bagi jurnalis yang menganut pandangan ini, setiap laporan berita dianggap semata-mata sebagai interpretasi subjektif, tanpa adanya kebenaran objektif yang bisa dijangkau atau disampaikan.

Itulah mengapa, bagi relativisme absolut, pengetahuan selalu relatif terhadap subjek yang mengetahui, yakni relatif terhadap perspektif sang subjek. Relativitas pengetahuan tersebut tidak memberikan ruang untuk menghilangnya perspektif subjek dalam pengetahuan: perspektif tersebut niscaya ada, sehingga sifatnya absolut; dan objektivisme tidaklah mungkin.

Julian Baggini (2003), dalam esainya “The Philosophy of Journalism” yang diterbitkan di openDemocracy, berpendapat bahwa meskipun rumit, kebenaran dan objektivitas tetap menjadi cita-cita yang berharga dan diperlukan bagi jurnalisme. Maka dari itu, bagi Baggini (2003), perlu adanya pemahaman yang lebih canggih daripada meninggalkan begitu saja objektivisme dengan sebab relativisme pengetahuan.

2.1.1. Tentang Relativisme dalam Jurnalisme

David Loyn (2003), wartawan senior BBC, mendukung sebuah upaya pemberitaan yang objektif dan benar. Posisi tersebut tentu mendapat tanggapan kritis. Baggini melihatnya sebagai posisi yang berpegang pada cita-cita yang ketinggalan zaman.

Secara kontradiktif, Loyn (2003) menolak adanya kebenaran tunggal mutlak meski mendukung upaya pencarian kebenaran tersebut. Baggini (2003) mengkritik sikap Loyn sebagai sesuatu yang pada dasarnya tidak konsisten. Pencarian kebenaran tidak ada artinya jika kebenaran tersebut dianggap tidak dapat dicapai.

Mengutip Baggini (2003), frasa seperti “objektivitas dalam dirinya sendiri” menjadi oksimoron. Frasa tersebut bermakna kosong jika kebenaran objektif ditinggalkan: yakni seperti mengatakan “objektif menurutku berbeda dengan objektif menurutmu”. Sederhananya, menurut Baggini (2003), pandangan Loyn sebenarnya pandangan relativistik absolut yang dibungkus dengan upaya kosong.

Baggini (2003) berpendapat bahwa sudut pandang relativistik tersebut merusak pondasi jurnalisme. Baggini (2003) berposisi bahwa perlu untuk keluar dari sudut pandang relatif tersebut dengan menunjukkan kemungkinan objektivitas kebenaran. Baggini (2003) melandaskan status kemungkinannya pada pandangan objektivisme Nagelian, yakni objektivisme bertingkat, yang berlandaskan pada kejujuran epistemik.

2.1.2. Objektivitas Bertingkat dan Aspek Kejujuran

Untuk menyelamatkan konsep objektivitas, Baggini (2003) mendasarkan pemikirannya pada karya filsuf Thomas Nagel, “The View From Nowhere.” Nagel mengakui bahwa tidak mungkin mencapai perspektif yang benar-benar netral, tetapi berpendapat bahwa objektivitas adalah masalah tingkatan.

Posisi Ini adalah tentang secara aktif meminimalkan, daripada menghilangkan, bias subjektif (Baggini, 2003). Pemahaman objektif, seperti fisika cahaya, melampaui persepsi individu dengan cara yang sangat kontras dengan pengalaman subjektif seperti melihat warna cahaya.

Demikian pula, jurnalis harus berusaha untuk menghilangkan sebanyak mungkin perspektif pribadi dari pelaporan mereka. Sehingga, jurnalis berfokus pada fakta-fakta yang dapat diverifikasi dan menyajikan informasi dengan cara yang sebebas mungkin dari bias (Baggini, 2003).

Objektivitas bertingkat saja tidaklah cukup. Menyelamatkan gagasan tentang kebenaran dari para relativis memerlukan aspek kejujuran. Pada titik ini, Baggini (2003) memperkenalkan konsep “kejujuran” Williams.

Bernard Williams (2002), dalam “Truth and Truthfulness”, mengakui bahwa tidak ada “pernyataan kebenaran” tunggal tentang suatu peristiwa karena pernyataan itu sendiri selalu bersifat selektif. Kejujuran, jelasnya, adalah kebajikan intelektual: kesediaan untuk melihat hingga menembus yang-tampak, mengungkap motif yang mendasarinya, dan menyajikan informasi secara akurat hingga mencerminkan kompleksitas yang mendasari sebuah pernyataan.

Kuncinya, menurut Baggini (2003), adalah memastikan bahwa pelaporan menggabungkan fakta-fakta yang benar secara jujur. Meski setiap laporan pada dasarnya melibatkan selektivitas, hal yang penting adalah mengakui bahwa beberapa “pernyataan kebenaran” dapat eksis.

Beberapa pernyataan lebih jujur atau lebih bebas bias daripada yang lain. Interpretasi dan penyajian fakta-fakta relevan penting untuk benar-benar menyampaikan makna dan pentingnya fakta-fakta tersebut sejak awal. Sehingga, jurnalis harus jujur jika mereka tidak ingin menyesatkan audiens.

Bagi Baggini (2003), ada perbedaan nyata antara kebenaran dan kesalahan, antara kejujuran dan kebohongan. Para kritikus relativis sering melebih-lebihkan ketidakmungkinan mencapai kebenaran dan objektivitas. Meskipun objektivitas murni tetap menjadi tujuan yang sulit dicapai dan dipahami, jurnalis harus secara konsisten berusaha mengungkap kebenaran sejujur-jujurnya.

Baggini menawarkan pembelaan penting tentang kebenaran dan objektivitas dalam jurnalisme, yang mendesak kita untuk merangkul pemahaman yang “bernuansa” untuk menghindari baik idealisme objektivitas naif maupun relativisme absolut. Konsekuensinya, pendekatan yang lebih canggih diperlukan untuk memandu jurnalis dalam menggapai pemberitaan yang akurat dan bertanggung jawab di dunia yang semakin kompleks dan menantang.

Meski poin Baggini tersebut penting, masalahnya, bagaimanakah kongkritnya pendekatan yang canggih tersebut? Apabila kejujuran merupakan aspek yang penting, bahkan utama, dalam jurnalisme, bagaimana ia berintegrasi dengan domain filsafat lainnya seperti metafisika, aksiologi, dan logika? Dari sini dapat dipahami perlunya analisis aspek metafisika, aksiologi, dan logika terkait jurnalisme.

Ketiga aspek tersebut, berbarengan dengan aspek epistemologinya, akan memperjelas konsepsi kejujuran dalam jurnalisme. Melalui metafisika, kita akan mengkaji hakikat realitas jurnalistik; aksiologi akan menggali nilai-nilai yang menuntun pencarian kebenaran tersebut; dan logika akan menyediakan kerangka penalaran untuk konstruksi jurnalismenya, di mana semua ini berkontribusi pada pemahaman yang kokoh tentang kejujuran jurnalistik.

2.2. Metafisika Jurnalisme

Saya membayangkan pembahasan metafisika jurnalisme sangat dekat dengan ontologi sosial: jurnalisme ada dalam kerangka institusi sosial, eksis dalam hubungannya dengan masyarakat. Jurnalisme ada karena kebutuhan masyarakat akan informasi. Karena tidak semua orang akan hadir untuk menyaksikan sebuah kejadian secara langsung, ataupun aktif meriset sesuatu, jurnalisme hadir sebagai media yang menyampaikan fakta-fakta tertentu kepada beberapa (banyak) orang yang tidak memiliki akses langsung atasnya.

Maka dari itu, jurnalisme dapat dilihat keberadaannya sebagai sebuah sumber informasi. Informasi tersebut bukanlah sekadar rumor melainkan didasarkan pada fakta dan proses pencarian kebenaran. Sehingga, secara luas, jurnalisme ada sebagai pintu awal diskursus publik.

Sebagai pintu awal, jurnalisme secara metafisik memiliki (potensi) kuasa atau disposisi untuk mempengaruhi pandangan masyarakat. Jurnalisme merupakan “kekuatan ke-empat”. Istilah “kekuatan ke-empat” tersebut memiliki berbagai interpretasi, namun dalam konteks modern istilah tersebut merujuk pada pers atau media massa sebagai entitas yang memiliki pengaruh politik dan sosial yang setara dengan cabang-cabang pemerintahan (eksekutif, legislatif, dan yudikatif). Dengan kata lain, pengaruh jurnalisme dapat dikatakan setara dengan pemerintah/penguasa.

Pemerintah berkuasa atas masyarakat dalam kaitannya dengan kebijakan, sementara jurnalisme berkuasa atas masyarakat dalam kaitannya dengan informasi dan pengetahuan. Dari sini dapat dilihat bahwa jurnalisme dapat menjadi pengawas yang mengawasi pemerintah atau otoritas yang ada di masyarakat.

Saya tidak melihat relasi antara pemerintah dan jurnalisme sebagai sebuah kontradiksi, melainkan sebuah singgungan kekuasaan. Meski pandangan masyarakat dipengaruhi oleh jurnalisme, jurnalisme juga rentan terhadap kebijakan pemerintah atasnya. Ini baru relasi eksternal, kita belum masuk pada relasi internal jurnalisme itu sendiri.

Berbicara tentang relasi internal jurnalisme, terdapat dua bentuk: relasi internal dalam proses jurnalisme, dan relasi internal dalam institusi jurnalisme. Relasi internal dalam proses jurnalisme akan dibahas lebih lanjut dalam logika jurnalisme. Sementara relasi internal dalam institusi jurnalisme adalah singgungan antara jurnalis dengan institusi jurnalisme dan pemodalnya.

Bekerjanya jurnalisme tentu membutuhkan logistik, dan jurnalis tidak dapat makanan bergizi gratis (sejauh ini). Institusi jurnalisme memastikan jurnalis dapat menghasilkan berita yang berkualitas dengan insentif tertentu sehingga jurnalis juga dapat melanjutkan kehidupannya. Sehingga terdapat singgungan yang nyata antara kebenaran-kejujuran dengan realitas ekonomi dari jurnalisme, selain singgungannya dengan paradigma jurnalistik oleh institusi jurnalisme.

2.3. Aksiologi Jurnalisme

Secara aksiologis, problem nilai muncul dalam singgungan internal dan eksternal dari proses jurnalisme, institusi jurnalisme, maupun individu jurnalis. Aksiologi di sini berperan untuk membongkar hakikat dan peran nilai apa yang menjadi landasan untuk jurnalisme.

Salah satu nilai yang berperan dalam jurnalisme adalah independensi. Sebab jurnalisme hendak menyampaikan fakta, jurnalis dituntut untuk memegang nilai independensi sebagai titik berangkat dalam membuat berita. Independensi di sini berarti jurnalis terbebas dari pengaruh-pengaruh eksternal kecuali yang dependen pada bukti dan fakta itu sendiri. Konsekuensinya, transparansi menjadi suatu hal yang penting, yakni transparan atas bukti dan fakta yang didapatkan. Transparansi disini berelasi secara langsung pada akuntabilitas dan integritas jurnalisme serta kepercayaan publik terhadap institusi jurnalisme.

Independensi dan transparansi tadi merupakan contoh nilai intrinsik dari jurnalisme, nilai yang pada dirinya menjadi acuan dalam proses jurnalisme terlepas dari apapun konsekuensinya. Di samping itu, terdapat pula nilai instrumental yang sangat bergantung pada konsekuensi atas jurnalisme.

Semisal, jurnalisme dengan transparansi dan kejujurannya dapat menembus batas-batas informasi konfidensial sehingga informasi privat berpotensi untuk terpublikasi melalui jurnalisme. Maka dari itu, tentu ada nilai yang dipegang oleh jurnalis untuk tetap menjaga privasi sehingga transparansi di sini juga tidak dalam arti yang luas.

Selain itu, jurnalisme juga dapat mempengaruhi pikiran dan tindakan publik sehingga jurnalisme berhubungan erat dengan kestabilan dan ketidakstabilan publik. Hal ini kemudian menunjukkan adanya tarik ulur antara kebenaran dan kedamaian dalam jurnalisme.

Bagaimanapun, aksiologi jurnalisme membongkar nilai-nilai yang bersinggungan dan berpengaruh dalam jurnalisme. Saya pribadi melihat singgungan tersebut hadir dalam tarik-ulurnya dengan aspek epistemik dan metafisik dari jurnalisme, berikut konsekuensinya.

Selanjutnya [BAGIAN 2]

Penulis: Muhammad Qatrunada Ahnaf (kontribusi pembaca)

Lukisan: Hendra Gunawan, Never Lose Your Fighting Spirit

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.