PERINGATI HARI BURUH INTERNASIONAL, MASSA SERUKAN CABUT UU CIPTAKER DAN TOLAK UU TNI

MALANG-KAV.10 Solidaritas Perserikatan Buruh Indonesia (SPBI) bersama Aliansi Suara Rakdjat (ASURO) kembali memperingati Hari Buruh Internasional di Kota Malang pada Kamis (1/5). Diiringi satu truk sound horeg dan lagu Buruh Tani versi jedag-jedug, massa memulai aksi dengan melakukan longmarch dari Stadion Gajayana menuju depan gedung DPRD Kota Malang. Spanduk dan poster-poster yang berisi keresahan ikut mewarnai perjalanan mereka. Cabut UU Cipta Kerja dan tolak UU TNI menjadi dua poin utama tuntutan massa kali ini.
Tiba di depan gedung DPRD Kota Malang, satu per satu massa bergantian naik ke mobil komando untuk menyampaikan orasi. Mereka mengkritik pemerintah yang dirasa tak berpihak pada rakyat. Bermacam produk undang-undang yang dihasilkan pemerintah, bagi mereka, justru merupakan alat legitimasi untuk menindas kaum buruh. “Undang-undang dibuat tidak untuk memastikan perlindungan, tapi undang-undang itu dibuat untuk menjadikan kita [buruh] itu lemah. Lemah selemah-lemahnya agar bisa diperdaya,” seru salah seorang orator dengan lantang.
Pengesahan revisi UU TNI tempo hari jadi contohnya. Bagi mereka, hal ini adalah gerbang awal masuknya TNI ke lingkungan kerja para buruh. “Itu tandanya apa? Itu tandanya Orde Baru telah kembali. Orde Baru telah lahir kembali. Itu tandanya bahwa kekuasaan yang jahat dan durjana itu mulai ada di depan pintu kita,” tambah sang orator.
Merespons hal itu, sang orator mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus menyuarakan perlawanan. Lebih khusus, kepada para akademisi dan pemangku kebijakan untuk memastikan bahwa produk undang-undang yang dihasilkan memiliki keberpihakan kepada rakyat. “Bergeraklah bersama rakyat, bergeraklah bersama korban untuk memastikan bahwa kita punya regulasi, kita punya undang-undang yang memastikan keadilan itu nampak dan nyata,” serunya.
Usai lebih dari empat jam melakukan aksi dan berbagai orasi disampaikan, massa aksi membubarkan diri dengan tertib. Namun, hingga aksi selesai, tak terlihat satu pun pejabat Kota Malang turun menemui massa aksi.
Penulis: Nadia Rahmadini
Editor: Dimas Candra Pradana
