“MAY DAY AFTER PARTY”: GIGS PUNK, LAPAKAN, DAN SOLIDARITAS KELAS PEKERJA

MALANG-KAV.10 Perayaan Hari Buruh Internasional di Malang pada (01/05) tak berhenti dengan aksi turun ke jalanan di siang hari. Malam harinya, semangat perjuangan buruh berlanjut dalam bentuk ekspresif melalui acara bertajuk “MAYDAY After Party” yang digelar di Warung14 dengan format panggung musik underground (gigs punk), dan lapakan. Bersama suara distorsi gitar dan dentuman bass yang mulai menggema sejak pukul enam sore, orang-orang mulai ramai berdatangan.
Acara ini menjadi wadah dari berbagai elemen kolektif, komunitas literasi hingga musisi independen. Sejumlah band punk lokal juga turut tampil dalam perhelatan ini. Sebagai bentuk dukungan terhadap kolektif penyelenggara dan komunitas yang terlibat, pengunjung dikenakan FDC (Fundraising Donation Contribution) sebesar 30 ribu rupiah. Tak ada aturan untuk berpakaian–ada yang mengenakan jaket kulit, tambal sulam hingga rompi penuh pin dan patch.
Iqbal, salah satu vokalis band TOS mengaku bahwa dirinya juga seorang buruh yang bekerja di sektor jasa logistik. “Tadi pagi kerja, malamnya ikut. Kalau nggak bisa aksi pagi, ya, aksi waktu malamnya. Walaupun untuk nge-band,” ungkapnya. Ia menambahkan bahwa Hari Buruh merupakan “Hari besar” untuk dirinya sendiri. Pun juga untuk mahasiswa, pekerja, dan teman-teman di bidang lainnya.

Di salah satu sisi ruangan, lapak dari Area Baca Selasa dan Penahitam dikelilingi dengan anak muda yang menyusuri jajaran zine yang siap untuk dibaca. Area Baca Selasa sebagai media partner alternatif ingin orang-orang mengetahui bahwa ada komunitas yang aktif untuk membangun literasi dan turut menyuarakan isu-isu yang sedang terjadi.
Sedangkan Santika dari Penahitam mengaku bahwa ada beberapa teman-teman yang menulis khusus untuk hari buruh ini dan dibagikan secara gratis. Menurutnya, ini adalah sebagai bentuk perlawanan.
Pipen, anggota Penahitam lain menambahkan bahwa acara ini juga bertujuan menyebar wawasan mengenai pekerja. “Kita harus aware dengan pekerja-pekerja yang tidak pernah dilindungi, tidak pernah ter-apresiasi, ke teman-teman yang mungkin kekuatannya lemah,” tambahnya mengakhiri wawancara.
Penulis: Fenita Salsabila
Editor: Naufal Rizqi Hermawan
Kontributor: Ayyashaq Yukan Prasetio
