HIZKIA YOSIE POLIMPUNG: KEMARAHAN PUBLIK TERHADAP PENGGUNA AI SALAH SASARAN

0
Hizkia Yosie Polimpung saat diwawancara via zoom

MALANG-KAV.10 Perkembangan teknologi kecerdasan buatan generatif (Generative AI) telah memicu berbagai kontroversi di ruang publik. Belakangan ini, kita menyaksikan pertentangan hebat antara para pengguna AI dengan para kreator, terutama ilustrator dan seniman visual. Di media sosial, gerakan untuk membela para seniman Studio Ghibli dan ilustrator independen yang karyanya diduga telah digunakan tanpa izin untuk melatih model AI telah menjadi viral, bahkan mencapai level elit politik Indonesia.

Di tengah polarisasi tersebut, pada Kamis (3/4), awak Kavling10 berkesempatan mewawancarai Hizkia Yosie Polimpung secara daring. Yosie adalah peneliti di Monash University Malaysia, Pemimpin Redaksi Jurnal IndoProgress, dan Deputi Bidang Ideologi Partai Buruh. Ia telah lama meneliti isu teknologi, otomasi, dan kerja dari perspektif kritis. Dalam wawancara ini, Yosie menawarkan sudut pandang berbeda yang mengajak kita mempertanyakan kembali arah kemarahan publik terhadap fenomena AI.

Bagaimana Anda melihat fenomena kecerdasan buatan generatif dalam konteks kapitalisme kontemporer?

Kalau kita melihat dari perspektif kelas pekerja, setiap kemajuan teknologi selalu berhasil merebut sesuatu dari kelas pekerja. Entah itu merebut ruang hidup mereka, waktu mereka, atau aspek kehidupan lainnya. Semua itu dikonversi menjadi aset dan dari aset menjadi kapital yang dimiliki dan dimonopoli oleh para kapitalis, kemudian dikembalikan kepada kita sebagai alat produksi yang harus kita pinjam untuk mendapatkan penghidupan.

Ceritanya selalu sama: kelas pekerja direnggut sesuatu, itu disulap menjadi kapital—berterima kasih kepada sains dan teknologi—dan dikembalikan kepada kita untuk dipinjam. Pembayarannya adalah dengan kerja kita, dengan jam kerja kita, dan seterusnya. Itu gambaran besarnya.

Yang menarik dari Generative AI, dalam setahun terakhir dan sampai hari ini semakin menggila, adalah kita melihat sudah tidak ada lagi yang bisa diduplikasi oleh kapital kecuali satu: yaitu skill, skill yang kreatif. Kreativitas inilah yang hari ini sedang diburu.

Apa yang membedakan AI generatif dari teknologi-teknologi sebelumnya?

Kebaruan dari Generative AI adalah dia berhasil menembus [menduplikasi atau melakukan komputasi] satu lagi lapisan yang tadinya belum pernah bisa ditembus, yaitu skill kreatif—skill yang kita kira ini hanya milik manusia saja untuk membikin genre, untuk memberikan sesuatu yang sama sekali baru. Di sinilah kita melihat bukan lagi data dari aktivitas medsos atau aktivitas daring yang bisa diakses oleh language model, tetapi kreativitas kita yang menjadi skill itu.

Contohnya, skill Hayao Miyazaki dalam membuat genre Studio Ghibli yang hari ini sangat populer. Tapi pertanyaan kemudian adalah: kalau semua orang bisa membuat Studio Ghibli [dengan bantuan AI], apa akibatnya bagi pekerja-pekerja di studio tersebut?

Banyak orang marah kepada para pengguna AI. Apakah ini reaksi yang tepat?

Ini yang agak problematik. Seolah-olah orang yang menggunakan AI itu menjadi “penjahat,” sedangkan orang yang tidak menggunakan menjadi tampak “suci.” Lagi-lagi saya tidak akan berdebat soal kemanusiaan di sini, tapi poin saya adalah: mungkin kemarin kita itu salah arah.

Yang harusnya kita marahi bukan orang yang pakai AI. Dalam konteks lain, misalnya di konteks gerakan buruh, beberapa waktu ini saya mengajari beberapa kawan cara pakai AI. Untuk apa? Untuk membantu mereka membaca habis rancangan undang-undang yang panjang, mereka bisa lempar ke AI untuk diringkas. Mereka mau bikin tulisan, presentasi, rilis—ini hal-hal teknis yang mungkin bagi orang-orang bersekolah tidak begitu sulit, tapi bagi teman-teman yang tidak punya cukup privilege untuk bisa sekolah serius, ini hal yang berat.

Jadi, kegunaan AI itu sendiri bukanlah masalahnya. Kita tidak mengarahkan kemarahan dengan tepat. Kenapa marahnya itu tidak ke perusahaan-perusahaan AI yang menggunakan data-data ini? Pada saat mereka menggunakan data Studio Ghibli, harusnya mereka mengompensasi artis-artis Studio Ghibli. Mereka harusnya mengompensasi Hayao Miyazaki.

Lalu siapa yang seharusnya menjadi sasaran kemarahan publik?

Bahkan, mereka harusnya mengompensasi semua seniman karena AI belajar dari semua genre seni di muka bumi yang selama ini terekam di internet. Artinya, AI mengonsumsi data-data yang sifatnya publik atau general intellect—intelektualitas manusia yang dilakukan dalam bentuk data dan informasi. Ini yang menjadi sumber makanan kapital, sumber asetnya generative AI.

Maka, harusnya perusahaan-perusahaan AI ini menjadi perusahaan publik, bukan perusahaan privat. Jadi, daripada marahnya ke pengguna AI, lebih baik kemarahan itu diakumulasi untuk melawan perusahaan AI dan menjadikannya semacam koperasi global yang dimiliki semua orang.

Sehingga, semua orang bisa akses ChatGPT Plus [versi 4o] bahkan yang pro [versi 4.5] secara gratis, yang dapat kita pakai untuk kehidupan kita sehari-hari, untuk memudahkan hidup kita. Jika demikian, dengan senang hati saya akan berbagi semua data yang tadinya privat, karena saya tahu ini akan berguna bagi saya dan memperkaya semua orang.

Beberapa orang melihat AI generatif sebagai ancaman terhadap hak cipta. Bagaimana pandangan Anda?

Permasalahan hak cipta itu adalah hal yang sangat penting untuk kita selesaikan secara ontologis, secara hakikat. Hak cipta dalam proses kita menciptakan sesuatu itu, sampai hari ini susah ditelusuri asalnya. Seperti yang Anda sampaikan tadi, kita mengolah sesuatu dari ilmu yang kita punya.

Misalnya, saya melihat sepasang kekasih bertengkar lalu tiba-tiba berciuman, dan itu menginspirasi saya menulis buku yang menghasilkan uang satu miliar. Harusnya saya membayar ke pasangan itu? Bahkan lebih jauh lagi, saya juga harus membayar ke pengelola taman tempat mereka bertemu, karena secara agregat itu menjadi kondisi yang memungkinkan saya untuk memproduksi gagasan kreatif tadi.

Jadi hak cipta itu sebenarnya adalah trik kapitalis untuk memprivatisasi sesuatu. Kalau kita terus pakai logika tersebut [kapitalis], ini akan menjadi susah dihitung. Sehingga pertanyaannya kemudian adalah: ngapain dihitung? Menghitung ini mengasumsikan bahwa kapitalisme itu final. Sementara, ada sistem lain yang mana kita tidak perlu capek-capek menghitung yang tak terhitung dan tak akan terlacak.

Apakah itu berarti Anda menolak konsep hak cipta sepenuhnya?

Mempermasalahkan hak cipta itu hanya mungkin dan hanya terpikirkan di sistem berbasis profit. Untuk teman-teman yang masih melihat hak cipta itu penting untuk perjuangan kita, ini bukan berarti harus ditolak total. Perjuangan hak cipta tetap penting untuk saat ini.

Misalkan, kita mau pakai isu hak cipta untuk menuntut perusahaan-perusahaan AI, silakan saja. Pelajari semua undang-undang tentang hak cipta, tentang property rights dan seterusnya, dan gunakan isu ini untuk menuntut perusahaan-perusahaan berbasis generative AI. Tapi kita harus lihat bahwa tujuan akhir kita bukan menjamin hak cipta, karena itu bermasalah dari awal.

Dengan kita menang terhadap perusahaan AI, saatnya kita memikirkan sistem yang tidak lagi berbasis hak cipta. Karena banyak penelitian menunjukkan bahwa karya-karya kreatif, semakin mereka di-hak ciptakan, semakin perkembangannya terbonsai [terbatas].

Bagaimana dengan para kreator yang mengandalkan royalti dari karya mereka untuk bertahan hidup?

Untuk teman-teman pekerja dengan visi bahwa sistem lah yang bermasalah, tapi dalam jangka pendek mereka tetap harus bertahan hidup melalui sistem itu, kita harus berpikir tentang kolektivitas.

Kolektivitasnya dalam bentuk apa? Yang disebut oleh Marx sebagai general intellect—buah-buah pemikiran dan karya-karya—dihimpun dalam satu pool dan bisa dimonetisasi (dalam bahasa bisnis model hari ini). Harusnya kita mulai pikirkan, mungkin tidak teman-teman yang bekerja kreatif ini menghimpun diri, mengolektifikasi diri, dan mencari bisnis model untuk menghasilkan uang?

Menghasilkan uangnya seperti apa? Ini yang belum banyak dipikirkan dan berhasil, tapi justru ini menjadi penting untuk serius dipikirkan. Karena selama kita tidak bisa mengolektifikasi diri, kita tidak akan bisa “memagari” diri dari serangan-serangan seperti ini. Selama kita tak bisa memagari ini, kita seorang diri akan berhadapan dengan perusahaan-perusahaan AI, belum lagi model yang lain dari Microsoft, Google, dan sebagainya. Menghadapi ini semua seorang diri, tidak akan menang.

Akhirnya, kita semakin depresi, dan bahkan depresi kita pun bisa dimonetisasi oleh Instagram, TikTok, dan platform lainnya. Semakin banyak kita komplain, semakin banyak uang yang mereka hasilkan. Jadi tidak ada gunanya jika kita selalu mikirin “pantat” kita sendiri tanpa pernah mulai serius memikirkan kolektivitas. Kolektivitas bukan hanya sekadar ketemuan diskusi, baca buku dan seterusnya, tapi benar-benar mengombinasikan skill, model kita untuk menghasilkan uang.

Dalam perkembangan teknologi AI, apa yang berbeda dari revolusi industri sebelumnya?

Kalau dari perspektif historis, argumentasi yang selalu saya pakai adalah pendekatan “workerist” atau pekerja-is—bahwa kapital selalu reaksioner terhadap perlawanan di shopfloor. Perlawanan kelas pekerja itu tidak selalu harus sifatnya subjektif, tidak selalu harus yang disadari, termasuk apa yang disebut perlawanan spontan harian.

Namun, yang belakangan saya coba kembangkan adalah bahwa pada saat kita menginterogasi apa itu pekerja, pekerja itu tidak hanya terkoneksi dalam tubuh manusia. Yang dilakukan AI itu adalah mentransformasi labor power ke mesin. Jadi dalam hal ini, pelajaran berharga pertama adalah antroposentrisme [mengasumsikan manusia sebagai pusat dunia] itu berbahaya bagi perspektif working class. Di sini, kerendahan hati spesies manusia diperlukan.

Kita mulai terbuka bahwa pekerja itu tidak selamanya berbalutkan karbon [sebagai basis kehidupan] seperti kita. Ini etik yang penting untuk kita pegang sekarang—kita mulai bersiap menerima kenyataan bahwa kita harus mulai bersolidaritas dengan pekerja-pekerja lain yang non-karbon [entitas berbasis silikon dan bersifat pasif].

AI itu harus kita lihat sebagai pekerja karena dia melakukan kerja, dia menciptakan nilai. Objek manusia menjadi lebih “oke” karena AI. Kita tidak akan bisa selamanya berada dalam bentuk karbon. Kita akan dipindahkan ke bentuk yang non-karbon, sintetik, dan ini enak buat kapital karena bisa dikontrol. Kalau carbon-based life form seperti manusia ini bisa berserikat, bisa melawan.

Apa yang Anda khawatirkan tentang masa depan dengan AI?

Perkembangan teknologi akan terus menerapkan semua apa yang ada pada living labor [kerja hidup atau potensi kreatif] manusia. Itu berbahaya, sehingga kita akan semakin terbuka dengan cara berpikir yang liberatif—tidak hanya selalu menekankan kapital yang mengeksploitasi kita, tetapi juga menunjukkan betapa agensi kita ternyata tidak termanifestasi dalam kemanusiaan kita.

Perspektif workerism secara ontologis itu anti terhadap kerja yang menghasilkan profit. Di sini kita bisa lihat, walaupun jargon di kepala kita itu “kerja, kerja, kerja,” mau bekerja 12 jam sehari pun, pada titik tertentu tubuh kita menolak bekerja. Ini terbukti dengan fenomena quiet quitting, lying flat di China, silent quitting di Inggris, dan sebagainya.

Ini menunjukkan anti-work culture yang masif secara global. Bahkan sekalipun kapital berhasil memperkuat etika kerja kita, tapi yang objektif dari pekerja—badan kita, biologi, fisiologi, psikologi, neurologi—menolak untuk bekerja.

Menariknya, kapitalis melihat ini sebagai problem yang menghambat akumulasi dan produksi. Dalam 30 tahun belakangan, pada saat kesadaran kita sudah sangat neoliberal (kerja-kerja-semangat!), kapitalisme tetap terhambat oleh tubuh manusia yang menolak akumulasi mereka. Tubuh kita tidak bisa dipaksa kerja.

Jadi mereka harus cari cara bagaimana kecerdasan manusia bisa diimplementasikan pada tubuh yang tidak pernah mengenal lelah, memindahkan labor dari tubuh manusia yang bisa capek, ngantuk, sakit, nangis, demo, ke AI atau robot.

Apa yang terjadi dengan perkembangan AI saat ini yang mengincar kreativitas manusia?

Perkembangan sejak 30 tahun belakangan, setelah neoliberalisme berhasil menumpas perlawanan subjektif manusia, kini mereka mengincar perlawanan objektif—kreativitas yang tidak bisa dipaksa. Kalau saya dipaksa kerja, disuruh nulis dengan profesor berdiri di belakang saya, saya tidak akan bisa kreatif, tidak akan berjalan.

Kreativitas itu tidak jelas, bahkan ada beberapa teman yang tidak akan menulis kalau belum menonton video ajib. Cara kita mendapatkan inspirasi itu berbeda-beda, dan ini masalah buat kapitalis yang mana semuanya harus seragam.

Ini yang mereka timpa dengan AI. Kreativitas yang tadinya tidak bisa diburu-buru, tidak bisa dikapitalkan, kini bisa diambil oleh AI. Posisi tawar seniman sudah jauh lebih lemah di hadapan kapitalis—kapitalis bisa mengakses AI yang cuma 30 dolar per bulan.

Jadi, pembeda hari ini adalah kapital tidak lagi merespons perlawanan subjektif pekerja, tapi didorong untuk merespons pertahanan-pertahanan yang sifatnya objektif dari manusia—tubuh, psikologi, dan seterusnya.

Bagaimana pendapat Anda tentang Wakil Presiden Gibran dan Kampus yang menggunakan AI untuk konten Instagram-nya?

Untuk isu itu, kita harus pakai isu hak cipta, isu-isu liberal, isu kemanusiaan secara strategis. Kalau untuk mengefisiensi anggaran tapi mencederai atau melukai pemasukan dari pekerja-pekerja yang terdampak, ini akan bermasalah—apalagi Gibran adalah pejabat publik.

Di sini kita harus clear. Di level pekerjaan, ini [hak cipta] harus ada di kepala kita, dan pada saat bertindak secara kolektif, ini menjadi penting, tetap bisa kita pakai sebagai strategi. Jadi mengatakan bahwa Gibran harusnya bisa bayar ilustrator, animator, atau desainer untuk bikin desain-desain lainnya, dan kenapa dia pakai AI—itu harus menjadi permasalahan publik.

Boleh dia pakai AI kalau semua ilustrator di Indonesia sudah tak lagi mengandalkan pekerjaan itu. Fine, pakailah. Dalam konteks kampus misalkan, boleh pakai AI kalau semua ilustrator mahasiswa menolak untuk membuat ilustrasi. Tapi tidak bisa. Lagi-lagi ini adalah persoalan pejabat publik yang mana dia harus bekerja untuk mensejahterakan kita semua.

Jadi basisnya itu bukan basis kemanusiaan, itu hanya argumentasi hukum saja, argumentasi politically correct saja, tapi harus kita tampilkan di sini, sekali lagi, sebagai strategi.

Bagaimana seharusnya gerakan perlawanan terhadap perusahaan-perusahaan AI dilakukan?

AI itu sebenarnya memiliki ranah yang lebih global. Bukan AI-nya yang ditolak, tapi yang harus ditolak itu perusahaan yang mendapat profit dari AI. Itu yang kita harus clear.

Kalau kita bisa membuat visi terjauh yang utopia, maka mestinya perusahaan-perusahaan AI itu semuanya berada di kendali publik. Harusnya arahnya ke situ, karena tujuan teknologi itu untuk mempermudah kehidupan manusia. Yang harus kita lihat adalah, jangan sampai progres teknologi ini hilang.

Tapi pada saat tools [teknologi] ini justru malah memotong tangan [pekerjaan] kita—bisa menciptakan tangan-tangan bionik, tapi kita harus memotong tangan kita, atau tangan orang lain harus dipotong—nah, ini yang harus kita pilih.

Akan selalu ada science [pengetahuan] yang mau tidak mau mengorbankan aspek kehidupan kita. Pertanyaannya, sebenarnya untuk apa perkembangan pengetahuan itu? Ini harus dijawab oleh kita. Kalau kita tidak butuh, tidak usah research [diteliti]. Kalau kita tidak butuh, tidak usah ditemukan alat-alatnya. Tapi karena ini semua tunduk pada kalkulasi profit, dibikin saja seolah-olah kita butuh.

Jadi gerakan-gerakan menolak ini sebaiknya diarahkan ke perusahaan-perusahaan AI. Perlahan-lahan, bukan sekadar ditolak, tapi hancurkan kekuasaan profit terhadap arah riset dan pengembangan AI. Itu semua harus kembali ke masyarakat, dan model bisnisnya harus sepenuhnya publik.

Kenapa? Karena bahan materialnya [basis data AI] itu semuanya dari internet. Bahkan, perusahaan-perusahaan AI ini secara tidak tahu diri bilang bahwa Amerika akan kalah kalau mereka tidak menggunakan model AI dengan data-data yang memiliki hak cipta. Mereka selama ini sudah melakukan itu, seperti terlihat kalau kita tanya AI tentang pemikiran Chomsky, dia paham, berarti sudah memakan buku-buku di luar sana secara melanggar hak cipta [tidak membayar royalti kepada penulisnya].

Kalau saya jadi presidennya, saya akan bilang, “Oke, boleh kamu melanggar hak cipta, tapi struktur perusahaanmu harus menjadi koperasi. Harus dimiliki, bukan [hanya] koperasi pekerja, tapi koperasi umat manusia sedunia.” Kenapa? Karena sumber datanya itu dari semua orang yang berkontribusi di internet.

Apa yang Anda khawatirkan jika tidak ada perubahan dalam sistem kepemilikan AI?

Ketakutan saya hanya satu: “life itself.” Mereka dapat membuat artificial life dari big data. Di titik tertentu ia akan menyerap kehidupan. Giorgio Agamben pernah memisahkan antara Zoe dengan Bios. “Zoe” itu life sebagai fakta biologis, fakta sosial. Kita hidup, nyamuk juga hidup. Tapi ada “Bios”-nya, life yang political, yang sifatnya hidup yang unik, yang khusus.

Hari ini semua akan dibuat menjadi “Zoe” tapi bisa berpotensi menghasilkan efek “Bios” dan lain-lain. Jadi itu yang saya lihat ke depan jika kita tidak melakukan sesuatu terhadap bisnis kecerdasan ini. Pilihannya cuma dua: itu akan terjadi [ekstraksi total kehidupan] atau perang dunia. Dua minggu lalu China sudah bilang bahwa mereka siap untuk perang [dagang, teknologi, militer] dengan AS.

Entah apakah semua aspek kehidupan kita yang nanti akan diekstrak atau perang dunia. Mana yang lebih baik? Menurut saya, lebih baik perang dunia, karena dengan begitu kita tidak perlu mengalami penderitaan yang berkepanjangan.

Penulis: Mohammad Rafi Azzamy

Editor: Dimas Candra Pradana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.