PENGUNGSI PALESTINA BERSAKSI: POLISI INDONESIA DI KANJURUHAN TAK BEDA DENGAN PEMBANTAI GAZA

0
Pengungsi Palestina di distrik Al Ajloun, Kegubernuran Irbid, Yordania.
Sumber: Dokumentasi Narendra

Klaim polisi sebagai pengayom rakyat adalah kepalsuan. Nyatanya, mereka tak paham soal esensi kemanusiaan, kalah dengan para pengungsi yang termarginalkan. Namun satu yang pasti, baik di Gaza maupun di Kanjuruhan, pembantai tetaplah pembantai, tak peduli seragam apa yang mereka kenakan.

MALANG-KAV.10 Di kantor Yayasan Keadilan Tragedi Kanjuruhan (YKTK) pada Sabtu (22/2) dini hari, Narendra Wicaksono bercerita tentang perjalanan sepedanya. Ia mampir untuk bersilaturahmi dengan keluarga korban, tujuh bulan setelah menyelesaikan perjalanan bersejarahnya dari Indonesia hingga Makkah. Ketika berbicara tentang pengungsi Palestina di kamp-kamp pengungsian Yordania, matanya menyiratkan ironi yang menusuk: mereka menemukan “Israel baru” dalam sosok aparat keamanan Indonesia. “Tidak ada bedanya,” begitu kesaksian mereka setelah mendengar kisah 135+ nyawa yang dibantai di Stadion Kanjuruhan, Malang.

Narendra adalah seorang mantan driver ojek online asal Solo. Ia memulai perjalanan bersejarahnya dengan menghadiri pertemuan bulanan keluarga korban di kediaman Bu Kartini, tak jauh dari Bajul Mati pada awal Januari 2024. Di sana ia bertemu Bu Juariah, Bu Ifa, Pak Devi, Pak Nuri, dan para keluarga korban lainnya. Dari pantai Bajul Mati, ia mengambil sebutir batu karang putih yang kemudian menjadi saksi bisu tekadnya menuntut keadilan.

“Semua upaya sudah kita lakukan. Dari jalur litigasi hingga kampanye tingkat nasional. Tapi ada satu yang belum, kampanye tingkat internasional,” tegas Narendra yang memulai perjalanan sepedanya pada 6 Januari 2024 lalu. Batu karang putih dari Bajul Mati itu selalu ada dalam setiap kayuhan, menjadi pengingat akan tangis keluarga korban yang masih menanti keadilan.

Di Malaysia, masyarakat memiliki istilah khusus untuk menggambarkan kekejaman aparat Indonesia terhadap korban Kanjuruhan: “mati katak”. “Mereka menyematkan korban tragedi Kanjuruhan ini dengan sebutan mati katak, bahasa Melayu untuk menggambarkan keadaan seseorang yang mati tanpa pembelaan, seperti katak yang terlindas di jalan dan berlalu begitu saja,” jelas Narendra tentang solidaritas warga Malaysia, saat ia singgah di Pondok Pesantren Katong, Perlis Indera Kayangan, Malaysia.

Narendra bersama ulama dan para santri Pondok Pesantren Katong, Perlis Indra Kayangan, Malaysia.
Sumber: Dokumentasi Narendra

Perjalanan Narendra menembus berbagai rintangan. Dari Malaysia dan Thailand, ia harus terbang ke New Delhi karena situasi kudeta di Myanmar. Di India, tubuhnya tumbang oleh heat stroke akibat suhu ekstrem 45 derajat celsius di distrik Hariana. Di Istanbul, ia harus bekerja sebagai broker produk Indonesia untuk membiayai sisa perjalanan, sebelum akhirnya terbang ke Yordania karena situasi perang di Suriah.

Di Yordania, Narendra tidak sekadar bercerita. Ia bergabung dengan Tim Peduli, komunitas relawan Indonesia yang membantu pengungsi Palestina dan Suriah. “Untuk pertama kalinya saya berkomunikasi dengan warga Arab tentang apa yang terjadi di Indonesia,” kenangnya saat turut mendistribusikan bantuan kemanusiaan.

Di kamp-kamp pengungsi itu, Narendra menemukan ironi yang menusuk. “Kekerasan yang dilakukan polisi Indonesia di Kanjuruhan tidak berbeda jauh dengan kekerasan yang dialami warga Gaza oleh Israel,” ungkapnya menggambarkan pemahaman para pengungsi Palestina tentang tragedi Kanjuruhan setelah melihat berita-berita Al-Jazeera. Begitu memahami apa yang terjadi, para pengungsi di distrik Al Ajloun Kegubernuran Irbid Yordania langsung mendoakan korban Kanjuruhan sebagai syuhada.

Para pengungsi ini, meski telah kehilangan tanah air, justru memberi pelajaran berharga tentang perlawanan. “Hari ini dipukul satu kali, besok kita pukul dua kali. Kemanusiaan akan menang di atas segala-galanya,” begitu pesan yang ditangkap Narendra dari pengungsi Palestina untuk pejuang keadilan Kanjuruhan. 

Narendra mencapai Makkah pada 17 Juli 2024, bertepatan 10 Muharram—hari bersejarah dalam Islam yang menandai berbagai peristiwa pembebasan. “Don’t stop talking about Kanjuruhan. Justice for Kanjuruhan, Freedom for Palestine. It’s all about humanity” adalah kalimat yang tertulis di poster yang dibawa Narendra selama perjalanan, menjadi pengingat bahwa perlawanan terhadap ketidakadilan tak mengenal batas negara. Dan batu karang putih dari Bajul Mati itu akan terus bersaksi, hingga keadilan benar-benar ditegakkan.

Penulis: Mohammad Rafi Azzamy
Editor: Dimas Candra Pradana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.