KEBEBASAN ITU BERNAMA PRAMOEDYA ANANTA TOER

MALANG-KAV.10 Peringatan seratus tahun kelahiran Pramoedya Ananta Toer di Kota Malang telah usai digelar. Diprakarsai oleh Paguyuban Literasi Malang (Palma) dan Sabtu Membaca, acara ini telah terlaksana pada hari Sabtu (1/2) dan Minggu (2/2) lalu. Bermodalkan semangat kolektif, sembilan orang panitia penggagas sukses menarik animo anak muda di Kota Malang.
Acara ini merupakan respons atas rendahnya angka literasi anak muda Indonesia dan anggapan bahwa karya sastra seperti karya-karya milik Pram merupakan bacaan yang berat. “Tujuan umumnya ya menguji. Benar enggak, sih, anak hari ini tuh enggak ngerti sejarah, misalnya. Benar enggak, sih, anak muda hari ini enggak baca novel-novel Pram yang konon menurut beberapa orang berat, gitu,” ujar Ajmal selaku ketua pelaksana. Melihat anak muda saat ini lebih menggemari membaca penggalan informasi melalui media sosial, Palma dan Sabtu Membaca bergerak untuk mengenalkan karya-karya Pram kepada khalayak.
Hari pertama dibuka dengan pemutaran film Jalan Raya Daendels yang disutradarai Bernie Ijdis. Film ini menceritakan tentang sejarah pembangunan Jalan Raya Pos yang membentang dari Anyer hingga Panarukan. Selain itu, dalam film ini juga diulas mengenai kesenjangan sosial antara rakyat miskin menjadi korban pembangunan jalan dan “si kaya” yang menikmati hasilnya. Film ini juga menjadi memoar Pram saat berada di kota-kota yang dilalui jalan tersebut.
Berlanjut pada hari kedua, orasi kebudayaan Djoko Saryono yang membandingkan era Orde Baru yang melarang peredaran karya Pram dengan kondisi hari ini yang dianggapnya bebas untuk membaca karya Pram tanpa ancaman pidana. “Zaman-zaman setelah tahun 2000 itu zaman yang menurut hemat saya los dol (bebas lepas,red.). Ada kebebasan berpendapat, ada kebebasan berserikat, ada kebebasan mengakses sumber-sumber yang dulu terlarang, sekarang boleh (diakses, red.),” seru Djoko Saryono.
Lebih lanjut, Djoko mengajak kita melihat bagaimana perubahan zaman menggeser tantangan yang harus dihadapi. Bukan lagi ancaman bui, Djoko menilai tantangan ekonomilah yang menjadi rintangan yang rumit di hari ini. “Mari kita ingat Isti Nugroho, penjual buku Pram tahun 80-an, 90-an itu harus mendekam dua tahun di penjara. Sementara kita (saat ini, red.) menenteng ke sana kemari, bahkan kemudian namanya kita jadikan cover buku, logo kaos, tidak (red, ditangkap). Tetapi, persoalan kita zamannya sudah berubah, zaman Anda ingin membeli tapi tidak punya duit,” sambung Djoko.
Menjelang malam hari, Soesilo Toer, adik dari mendiang Pramoedya Ananta Toer tiba di Caffe Local. Kedatangan Soesilo disambut tepuk tangan meriah dari peserta yang hadir. Membuka diskusi, Soesilo berkelakar. Kata “rektor”, ujarnya, merupakan akronim dari “mengorek yang kotor-kotor”.
Sementara itu, Onie Herdysta, pembicara dua dalam diskusi kali ini, mengungkapkan rasa kagumnya kepada Soesilo. Bagi Onie, semangat Soesilo tak lekang oleh usia. “Kesan pertama dengan Pak Sus, ya, saya mendapat spirit yang tersentil begitu karena beliau kan secara usia jauh (lebih tua, red.), tapi daya hidup dan daya juangnya luar biasa. Cara bicaranya ada semangat yang berapi-api, ada kebanggaan yang berapi-api,” ungkap Onie.
Lebih jauh, Soesilo bercerita mengenai perjuangan Pram dalam dunia kepenulisan. Kata Soesilo, Pram mulai menulis ketika berada di Pulau Seribu saat bekerja sebagai penyeduh air. “Suatu malam itu ada sweeping oleh tentara Belanda. Kan orang-orang itu enggak boleh nulis, kan enggak boleh pakai kertas. Nah, itu pensilnya Pram itu nggeletak di tempat tidurnya. Melihat orang-orang sweeping itu masuk, sebelum ketahuan, pensil itu ditubruk oleh Pram,” ujar Soesilo.
Perlu diketahui, kediaman Pram pernah menjadi sasaran amuk massa pasca meletusnya tragedi 1965. Kejadian ini bermula tatkala Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) dan Kesatuan Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI) mengepung rumah sang maestro untuk kemudian membakar setidaknya 50.000 buku milik Pram. Peristiwa ini lalu dilawan dengan prinsip, “Bacalah Bukan Bakarlah”.
Dalam kacamata sang adik, Pram digambarkan sebagai sosok yang keras dan selalu mendamba kebebasan. Meski berulang kali mendapat tuduhan miring mengenai sosok kakaknya, Soesilo menggambarkannya sebagai tokoh yang bebas sebagaimana kalimat yang berbunyi, “Duniaku bukan pangkat dan jabatan, duniaku bumi manusia dan persoalannya” dalam buku Bumi Manusia. “Pram dituduh segala macam, Lekra, PKI, Ateis. Bukan, Pram Itu kebebasan,” tegas Soesilo.
Di akhir sesi, Soesilo mengingatkan generasi muda untuk tetap menghidupkan semangat membaca. Penggambaran tokoh seperti Einstein yang menganjurkan setiap manusia setidaknya telah menyelesaikan 3000 judul ketika berusia 65 tahun menjadi tamparan bagi generasi muda Indonesia yang malas membaca. Diketahui setelah kegiatan ini Soesilo melanjutkan perjalanannya menuju Blitar dan Pasuruan untuk mendatangi acara serupa.
Penulis: Dhito Priambodo
Editor: Dimas Candra Pradana
Kontributor: Muhammad Zaki
