ALIANSI MAHASISWA PAPUA DAN PEMBEBASAN KOLEKTIF MALANG NYALAKAN SOLIDARITAS DI DEMO “GEMPAR MEMANGGIL”

0
Fotografer:  Khairul Ihwan

MALANG-KAV.10 Seorang pemuda berbandana merah berorasi sambil menginjak teman-temannya yang melakukan aksi tiarap. Aksi tiarap dan teatrikal ini adalah bentuk satir terhadap institusi polisi yang selalu hadir untuk merepresi suara-suara rakyat. Massa aksi yang mengatasnamakan diri mereka sebagai “Aliansi Gempar” menyuarakan solidaritas untuk masyarakat Indonesia Timur dalam salah satu tuntutan mereka. Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) dan Pusat Perjuangan Mahasiswa untuk Pembebasan Nasional (PEMBEBASAN)  Kolektif Malang yang turut dalam massa aksi tersebut adalah pemantik ajakan solidaritas ini. Mereka melakukan aksi ini di depan gedung DPRD Kota Malang pada Jumat (7/2) sore.

Cici dan Abdul Ghani–pemuda berbandana merah–ialah beberapa dari anggota PEMBEBASAN Kolektif Malang. Mereka membumbungkan kenyataan bahwa Indonesia Timur sedang tidak baik-baik saja. Dengan demikian, Cici dan Ghani mengajak bersama-sama untuk menggalang solidaritas kepada masyarakat Indonesia Timur. Dalam aksi itu, Ghani kecewa terhadap pemerintah yang melakukan perampasan tanah adat dan hutan adat tanpa pelibatan masyarakat setempat. “Jadi investasi-investasi asing yang masuk secara ilegal ini bertentangan dengan aktivitas daripada masyarakat-masyarakat adat yang ada di Indonesia Timur,” jelas Ghani.

Bukan tanpa sebab Ghani bersolidaritas dengan saudara-saudara di Timur yang tanahnya dirampas. Biaya pendidikan Ghani dan kawan-kawannya yang notabene berasal dari uang tabungan hasil mengolah tanah adalah alasannya. Kondisi demikian yang membuat mereka muak. “Ah, makanya jangan heran sampai dengan hari ini, teman-teman yang ada di Papua menyuarakan hal yang lebih lebih penting lagi yaitu hak menentukan nasib sendiri,” tegasnya.

Cici yang meskipun sedari SD telah berdomisili di Malang pun tak lantas menjadi kacang lupa kulit. Ia turut mengekspresikan kekesalannya dengan orasi teatrikalnya bersama Ghani. “Ketika kawan saya berteater, itu salah satu dari Polwan itu dia seperti senyum. Senyum kayak meremehkan gitu. Dari situ kan saya sebagai perempuan kayak, loh, ini kita berbicara soal tanah,” Cici bercerita.

Fotografer: Dhito Priambodo

Ia menegaskan ketidaksepakatannya dengan program makan bergizi gratis. Program ini, menurut Cici, adalah wujud sistem negara yang membuat rakyat semakin bergantung kepada pemerintah. Masyarakat di Timur telah bisa memenuhi makanan pokok mereka sendiri dari hasil ladang mereka. “Kami tidak butuh makan gratis, kami makan dari tanah kami. Yang harus ditambah itu pendidikan sama kesehatan gratis,” terangnya.

Sedikit mengenai PEMBEBASAN, mereka adalah organisasi mahasiswa yang kini memiliki fokus utama untuk mengawal isu-isu Indonesia Timur. Mereka tersebar di Indonesia, kecuali di Papua. “Karena kami percaya bahwa Papua itu negara sendiri. Dia sudah negara sama dengan Indonesia tapi dibatasi,” pungkas Ghani.


Penulis: Badra D. Ahmad
Editor: Dimas Candra Pradana
Kontributor: Khairul Ihwan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.