AKSI KAMISAN: PENYUBURAN KEMBALI SUARA-SUARA KERAGUAN ATAS NEGARA

0
Fotografer: Byllal Fajar (Kontribusi Pembaca) 

MALANG-KAV.10 Kamis (13/2) itu, trotoar depan gedung Balai Kota Malang kembali diisi oleh pemudi-pemuda berpakaian serba hitam. Mereka berdiri dan membelakangi bangunan penguasa Kota Malang. Membentangkan baliho berlambangkan Aksi Kamisan Malang kemudian orasi dimulai. Berlarik-larik suara hati demonstran keluar dengan tangan kiri mengepal ke atas. Beserta teriakan dan otot leher yang sama-sama mengeras. Di depan gedung Balai Kota Malang, mereka sepakat sedang hidup di negara yang tidak jelas.

Menengok 100 hari pemerintahan Presiden Prabowo, massa aksi sudah sangat muak dengan banyaknya kebijakan menjengkelkan. Makan Bergizi Gratis (MBG) kemudian menjadi bulan-bulanan warga Indonesia. 

“Mereka bilang kenapa MBG yang dimasukkan ke dalam prioritas utama adalah karena kekuasaan pangan. Sementara pendidikan masuk di dalam prioritas pendukung itu perlu kita pertanyakan,” teriak lantang salah satu demonstran.

Rentetan orasi selanjutnya ditujukan atas terbitnya Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2025. Kebijakan ini berdampak pada pemotongan anggaran beberapa kementerian termasuk Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (kemendikdasmen) serta Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (kemendiktisaintek). 

Pemotongan anggaran pendidikan inilah yang dinilai akan merugikan banyak pihak. Dari terancamnya guru honorer, fasilitas pendidikan yang kurang, hilangnya tunjangan dosen non-PNS, pemotongan beasiswa, hingga memicu kenaikan UKT hanyalah sebagian dari dampaknya.

“Beasiswa yang tadi pagi baru dikabarkan bahwasanya akan ada pemotongan anggaran pendidikan. Tidak hanya untuk keluarga saya, tidak hanya untuk saya, tetapi untuk rekan-rekan saya di luar sana yang tidak bisa mengenyam kelas-kelas hebat. Dosen-dosen hebat, keluarga-keluarga lain universitas yang mampu mengubah masa depan mereka,” tegas demonstran yang lain. Matanya merelap serupa tetes marah berbinar harap.

Menjelang akhir, beberapa puisi telah dirapalkan. Orasi terus dipekikkan. Jargon tinggi dijunjungkan. Langit cerah di atas Aksi Kamisan Malang sore itu, berpadu dengan merah petang kemudian. Tak berarti pemudi-pemuda di depan gedung Balai Kota Malang turut menjelang petang harapnya. Lampu taman dinyalakan dan lampu kendaraan kentara bersinar. Mata para demonstran terlihat semburat tajam.

Fotografer: Byllal Fajar (Kontribusi Pembaca)

“Kita adalah objek kontrol di mana-mana. Kita digunakan untuk memuaskan keinginan kekuasaan dan modal dari yang berkuasa dalam skala besar dan kecil. Namun sebagai kaum muda, saatnya untuk mengatakan cukup!” teriak lantang demonstran berikutnya.

Adalah Kamis itu, Aksi Kamisan Malang dihadiri paling banyak orang-orang berseragam coklat, polisi. Kira-kira demikianlah ucapan salah seorang massa aksi. Jumlahnya lebih dari lima personel polisi. Belum lagi sekitar dua puluh aparat berseragam hijau tanpa loreng, yang tampak seperti setengah-setengah memantau para demonstran. Jumlah itulah yang, menurut pemuda itu, terbanyak selama sepuluh tahun terakhir. Dan barangkali aparatur-aparatur itu tak pernah benar-benar mendengarkan deret orasi yang ada. 

Penulis: Badra D. Ahmad
Editor: Mohammad Rafi Azzamy

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.