BAYANG-BAYANG MASA LALU DI TENGAH HARAPAN BARU KOTA MALANG

Kota Malang kembali terjaga dari tidur panjangnya, hanya untuk dihadapkan pada bayang-bayang masa lalu yang tak kunjung selesai. Tiga nama yang muncul ke permukaan membawa sebuah tanda tanya besar, Wahyu Hidayat, Ganis Rumpoko, dan Abah Anton. Mereka bukan hanya kandidat yang bertarung untuk memperebutkan kursi nomor satu di Kota Malang, tetapi juga figur yang tak bisa lepas dari bayang-bayang masa lalu.
Ada cerita pahit yang membuntuti langkah Wahyu Hidayat, dugaan dosa yang berakar kala ia menduduki jabatan sekretaris daerah di Kabupaten Malang. Kasus tersebut konon telah diselidiki oleh kejaksaan, tetapi terhenti di tengah jalan bak matahari tenggelam yang hilang begitu saja. Wahyu sendiri pun mengaku bahwa ia tak bersalah, namun bukankah cerita dari bibir ke bibir itu membentuk jejak hitam sepanjang ia melangkah menuju puncak kekuasannya? Pun pada akhir Oktober kemarin, beradar kabar bahwa pasangan calon 01, Wali–Wahyu-Ali, menggelar dan menghadiri kegiatan kampanye pemberangkatan ribuan masyarakat untuk ziarah wali. Apakah ini sebuah bakti pada masyarakat atau hanya praktik politik uang yang terbungkus rapi seperti halnya pejabat-pejabat yang lain?
Sementara itu, pada tahun 2020 silam, Mochammad Anton ditahan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) setelah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan suap terkait proyek-proyek infrastruktur dan pengadaan barang di Pemerintah Kota Malang. Ia diduga menerima uang suap senilai lebih dari Rp 2 miliar dari kontraktor yang mengerjakan proyek tersebut. Namun tahun ini, Abah Anton kembali lagi mencalonkan diri menjadi Wali Kota Malang dan mengusung kembali jargon ‘Peduli Wong Cilik’ yang bisa dikatakan hanyalah kesia-siaan belaka. Bagaimana bisa seorang pemimpin yang pernah terjerat kasus korupsi berupaya kembali merangkak naik ke panggung politik? Entah itu adalah sebuah bentuk penebusan atau hanya ambisi pribadi yang dipegang erat selama ini. Korupsi bukan hanya sekadar kata, tetapi juga dosa moral yang merusak sendi-sendi kepercayaan rakyat. Tidak ada pengampunan dari masyarakat, hanya tersisa serpihan kekecewaan yang masih membekas hingga kini. Abah Anton dinyatakan telah kalah dengan moralitas dan tunduk pada godaan duniawi.
Sedangkan di sisi lain, Ganisa Pratiwi Rumpoko–anak dari mantan Wali Kota Batu, Edy Rumpoko dan Dewanty Rupain Dyah Rumpoko yang merupakan Anggota DPRD Jawa Timur, adalah satu-satunya kader PDI-P yang berani melakukan deklarasi untuk maju Pilkada Kota Malang. Apakah ini perwujudan dari kemampuan dan kapasitas, ataukah sekadar perpanjangan tangan dari sebuah sistem yang diwariskan? Meskipun secara hukum praktik politik dinasti tidak melanggarnya, namun hal tersebut dapat menimbulkan berbagai macam kekhawatiran, terutama dalam hal demokrasi dan kesetaraan politik. Demokrasi sendiri merupakan suatu hal yang sangat dijunjung tinggi di Indonesia di mana demokrasi adalah suatu hal yang berasal dari rakyat untuk rakyat itu sendiri. Seharusnya, demokrasi menjadikan setiap rakyat dapat memiliki kesempatan yang sama untuk berpartisipasi dalam pemerintahan.
Praktik politik dinasti yang dilakukan oleh Ganis rasa-rasanya hal yang ‘lumrah’ untuk dilakukan di zaman saat ini, zaman di mana mulai terjadinya degradasi demokrasi dalam praktik politik di Indonesia. Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa akhir-akhir ini banyak politisi yang memulai untuk mempraktikkan politik dinasti. Seperti yang dilakukan Jokowi dan anaknya, Gibran, yang saat ini menjabat sebagai Wakil Presiden Indonesia bersama dengan Prabowo Subianto. Hal serupa pun dilakukan oleh Ganis di mana ia memiliki latar belakang orang tua yang berasal dari dunia politik hingga dirinya sendiri pun juga terjun ke dalam dunia politik mengikuti jejak kedua orang tuanya. Namun dengan adanya politik dinasti, hal tersebut menciptakan ketidaksetaraan dalam kompetisi politik. Keluarga yang telah berkuasa dalam jangka waktu yang lama cenderung memiliki akses yang lebih baik terhadap sumber daya politik, jaringan, dan popularitas. Hal ini membuat calon-calon baru dari masyarakat umum sulit untuk bersaing. Ketika posisi kekuasaan hanya berputar di keluarga yang sama, potensi kepemimpinan baru dengan ide-ide yang cemerlang sering kali terabaikan. Padahal pembaruan politik dibutuhkan untuk membuka wawasan masyarakat tentang perspektif yang relevan dengan zaman saat ini serta mengikuti kebutuhan masyarakat. Apakah Ganis akan mampu mematahkan siklus yang telah mendarah daging, atau justru menjadi bagian dari permainan kekuasaan yang telah dijalankan oleh para pendahulunya?
Kota ini bukan hanya butuh pemimpin yang kompeten, tetapi juga seorang yang bisa membawa harapan baru tanpa dibayangi dosa masa lalu atau ambisi keluarga. Kita, sebagai penonton setia dalam drama ini, hanya bisa berharap bahwa bayang masa lalu ini tidak selamanya menggelapkan jalan ke depan. Dan di antara bayang-bayang itu, kita terus bertanya—mungkinkah ada cahaya yang mampu menerangi jalan kita, ataukah kita akan terus terjebak dalam bayang kelam yang menutupi masa depan?
Penulis: Fenita Salsabila (anggota magang) dan R. A. J. Afra (anggota magang)
Ilustrator: Gracia Cahyadi
