CEPT Diwajibkan di Prodi Sastra Inggris, Kaprodi Beri Tanggapan
Desas-desus diwajibkannya Cambridge English Placement Test (CEPT) menuai kontra dari mahasiswa Program Studi Sastra Inggris FIB UB. Hal itu dipicu oleh pelaksanaan CEPT yang mengharuskan mahasiswa untuk merogoh kocek tiap semesternya. Kurangnya informasi yang jelas dan simpang siurnya informasi mengenai CEPT memunculkan kebingungan di antara mahasiswa. Seperti yang diketahui, CEPT merupakan uji kompetensi berbahasa Inggris yang dilaksanakan oleh Program Studi Sastra Inggris FIB UB untuk mengukur kemampuan berbahasa Inggris mahasiswa secara pasif maupun aktif.
Pernyataan tersebut juga turut dibenarkan oleh Isti Purwaningtyas atau Tyas, selaku Ketua Program Studi (Kaprodi) Sastra Inggris. “Jadi begini, kami di Prodi Sastra Inggris ini tahun kemarin mengikuti akreditasi internasional. Kemudian salah satu poin dari akreditasi itu adalah seberapa besar kompetensi berbahasa Inggris itu diukur,” jelas Tyas pada Senin lalu (11/9). Melalui pernyataan tersebut, disimpulkan perlu adanya pengukuran yang jelas dan terstandar, yaitu segala halnya dihitung secara kuantitatif guna mengukur kemampuan mahasiswa dari semester ke semester.
Dalam mekanismenya, mahasiswa diwajibkan untuk mengisi Google Form yang telah disediakan dan membayar sebesar Rp150.000. Hal ini perlu dilakukan oleh mahasiswa tiap semesternya hingga lulus, di mana biaya tes tersebut ditanggung secara pribadi karena belum termasuk dalam tanggungan biaya UKT. Tes yang ditanggung oleh kampus hanyalah tes ITP TOEFL yang dilaksanakan sebanyak satu kali selama menjadi mahasiswa.
Alasan CEPT dipilih sebagai tes kompetensi ialah karena CEPT dibawahi langsung oleh Lembaga Internasional Cambridge dan dinilai sesuai dengan standar pengukuran yang telah mengikuti level Common European Framework of Reference (CEFR). Tyas juga memaparkan perbandingan antara CEPT dan ITP TOEFL. “Itu (ITP TOEFL, red.) kalau diuangkan sekitar Rp500.000. Jauh, kan? Tiga kalinya CEPT,” tambah Tyas.
Tes ini juga dilaksanakan dalam 3 gelombang sehingga bagi mahasiswa yang tidak bisa mengikuti di gelombang pertama, dapat mengikuti di gelombang berikutnya, baik itu karena masalah ekonomi ataupun masalah pribadi lainnya. Ketidakikutsertaan mahasiswa dalam tes ini juga dikatakan tidak menimbulkan sanksi, tetapi pihak Prodi menekankan bahwa seharusnya mahasiswa menyadari bahwa hal tersebut berguna untuk mengetahui kemampuan berbahasa inggris mahasiswa itu sendiri.
Adapun target-target yang perlu diraih mahasiswa ialah, mahasiswa semester 1-2 harus mencapai level A2, mahasiswa semester 3-4 harus mencapai level B1, mahasiswa semester 5-6 harus mencapai level B2, dan mahasiswa semester 7-8 mencapai level B2/C1.
Bagi mahasiswa yang tidak mampu mengikuti target level yang telah ditetapkan, mereka diwajibkan mengikuti tes hingga mencapai target sambil mengikuti rencana lanjutan yang telah disiapkan pihak Prodi. “Follow-up-nya seperti ikut mentoring, sampai harus beli software untuk belajar bahasa secara mandiri,” papar Tyas.
Secara lebih rinci, bagi mahasiswa semester 3 yang telah mendapatkan nilai B1, perlu mengikuti tes kembali pada semester 5 karena mahasiswa semester 5 perlu mencapai nilai B2. Akan tetapi, bagi mahasiswa yang telah mendapatkan nilai tertinggi, yaitu C1, tidak perlu mengikuti tes kembali karena telah memenuhi syarat.
Penulis : Gracia Cahyadi
Kontributor : Muhammad Zaki
Editor : Laras Ciptaning Kinasih
Revisi: Judul semula dari pemberitaan ini adalah “CEPT DIWAJIBKAN UNTUK MAHASISWA PROGRAM STUDI SASTRA INGGRIS, KETUA PROGRAM STUDI BERI TANGGAPAN”
