PROYEK HAPPY TO HOPE BOX BENTUK KEPEDULIAN TERHADAP KESEHATAN MENTAL

0

MALANG-KAV.10 Ramai diperbincangkan di media sosial, terdapat pengadaan aksi kepedulian terhadap kesehatan mental berupa kotak akrilik berisikan kertas-kertas penyemangat, yang utamanya ditujukan bagi orang-orang yang merasa putus asa, atau bahkan berniat untuk melakukan aksi bunuh diri. Gerakan ini muncul setelah beberapa kali terdengar kabar masyarakat Kota Malang yang terindikasi melakukan aksi bunuh diri di Jembatan Jl. Soekarno Hatta. 

Aksi kepedulian yang dinamakan Happy to Hope Box ini ternyata bermula dari inisiatif empat orang mahasiswa Sosiologi Universitas Brawijaya yang kemudian bekerjasama dengan Polres Kota Malang. “Kebetulan kita teringat sama salah satu jembatan yang ada di Korea Selatan, Jembatan Sungai Han, yang di situ ada himbauan untuk tidak bunuh diri, terus ada kata-kata motivasinya juga buat ayo jangan mati dulu, hidup itu masih indah dan sebagainya,” terang Tsana Khairunnisa, salah satu mahasiswa yang ikut merealisasikan Happy to Hope Box, Sabtu (24/6).

Bersama kawan sekelompoknya, Tsana juga tidak pernah menduga proyeknya akan viral setelah mereka mengirimkan kampanye Happy to Hope Box ke akun Menfess Twitter, @ubsansfess, yang selanjutnya dijadikan pemberitaan di Instagram @malangraya_info. Setelah viral, komentar-komentar pro-kontra dari netizen pun tidak luput mereka dapatkan sampai saat ini. “Kalau di Twitter kita dapat respon yang bagus banget, tapi ternyata begitu masuk Instagram beda banget respon orang-orang di sana yang cenderung negatif,” tambahnya.

Setelah ditelusuri lebih lanjut, mereka kemudian paham bila ada yang kurang tepat dari pemahaman netizen. Tujuan utama Happy to Hope Box adalah saling memberikan semangat kepedulian kepada yang membutuhkan dukungan serta harapan hidup, bukan untuk mencurahkan isi hati orang-orang yang sedang putus asa. “Lagipula kita bergerak selaras dengan teori hubungan aksi bunuh diri dan jaringan sosial-nya Emile Durkheim, jadi kotak itu hanya sebagai wadah yang menghubungkan antara orang-orang yang peduli kesehatan mental, sama orang-orang yang membutuhkan semangat,” jelas Andi Valencia, rekan kelompok lainnya.

Menanggapi hal tersebut, keempat mahasiswa Sosiologi ini pun telah mencoba untuk mengontrol arus informasi yang kurang tepat dari beberapa oknum netizen, terutama di Instagram. “Iya, sudah kami coba, tapi kami rasa juga tidak bisa diharapkan banyak dari sana. Kami juga dari awal belum menyiapkan penjelasan untuk netizen (di luar sivitas UB, red.) yang lebih beragam latar belakangnya, jadi ya ini kami jadikan evaluasi untuk kedepannya,” lanjut Fahry Rizaldi, anggota kelompok selanjutnya.

Terlepas dari pro-kontranya, kotak Happy to Hope Box rencananya akan terus ada di samping jembatan Jl. Soekarno Hatta. Tapi yang jelas, semenjak proyek buatan mereka mendapat perhatian cukup besar dari masyarakat Kota Malang, mereka senang untuk mengetahui aksi Happy to Hope Box bisa menginspirasi orang lain. “Kami harap sih kedepannya semoga akan ada lebih banyak kontribusi dari orang-orang yang masih peduli terhadap kesehatan mental lewat Happy to Hope Box, dengan kata-kata positif, cerita positif, dan pengalaman positif,” tutup Andi Valencia. 

Penulis: Alifiah Nurul Izzah
Editor: Adila Amanda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.