Penyalin Cahaya: Kekerasan Seksual Tidak Selalu Berbentuk Pemerkosaan

Cuplikan Film Penyalin Cahaya. Sumber: Instagram @penyalincahaya
Genre: Misteri
Sutradara: Wregas Bhatureja
Pemain: Shenina Cinnamon, Lutesha, Chicco Kurniawan
Tahun: 2021
Durasi: 130 Menit
Penulis: Mahesa Fadhalika Ninganti
MALANG-KAV.10 Penyalin Cahaya merupakan salah satu film Indonesia yang tayang di Netflix pada pertengahan bulan Januari 2022. Film ini mengangkat isu kekerasan seksual yang terjadi di kalangan mahasiswa. Penyalin cahaya berkisah tentang seorang mahasiswa bernama Suryani atau yang kerap kali disapa Sur yang kehilangan beasiswa akibat foto dirinya yang tengah mabuk tersebar di media sosial. Selain, itu nama baik Sur juga tercoreng akibat perbuatannya yang dinilai mencemarkan nama baik fakultasnya dan melanggar beberapa aturan yang ditetapkan oleh fakultasnya untuk memeroleh beasiswa.
Kejadian ini berawal saat Sur menghadiri pesta kemenangan Teater Mata Hari (salah satu komunitas teater di kampusnya) yang diadakan di rumah salah satu temannya bernama Rama. Sur bisa dikatakan mahasiswa baru yang bergabung dalam Teater Mata Hari yang bertugas mengolah dan membuat konten di website, berkat kepiawaiannya mengolah website, Sur berhasil menghidupkan serta memikat para penonton dengan website olahannya tersebut.
Di pesta tersebut Sur meminum beberapa gelas alkohol akibat permainan yang dimainkan oleh teman-temannya. Jadi bisa dikatakan Sur meminum alkohol bukan atas keinginan dirinya, melainkan karena Sur ikut serta dalam permainan tersebut. Lalu Sur hanyut oleh suasana dan tak sadar sudah bergelas-gelas alkohol yang diteguk hingga tak sadarkan diri. Karena Sur sudah tidak sadarkan diri, akhirnya Amin memutuskan pulang terlebih dahulu meninggalkan sahabatnya tersebut dalam keadaan mabuk.
Keesokan harinya Sur terlambat menghadiri tes beasiswa di fakultasnya. Sesampainya di kampus, Sur kaget mengetahui foto dirinya yang tengah mabuk sudah tersebar luas di media sosial hingga hal tersebut sudah diketahui juga oleh dosen pembina beasiswa. Dengan berat hati beasiswa Sur harus dicabut.
Sepulangnya Sur ke rumah, orang tuanya mengetahui jika beasiswa Sur dicabut. Selain itu, akibat perlakuan tidak baik Sur setelah pulang dari pesta membuat Ayah Sur sangat marah sehingga Sur diusir oleh ayahnya karena dianggap mencermarkan nama baik keluarga dan beban untuk keluarganya.
Perjuangan Sur untuk mencari kebenaran pun dimulai. Namun, perjalanannya tidak semulus yang dibayangkan. Banyak orang-orang di sekitarnya, mulai dari teman-teman, dosen, bahkan keluarganya yang menentang dan tidak memercayainya. Sur hanya dianggap orang mabuk yang masih berada di bawah pengaruh alkohol.
Seperti yang sudah disebutkan di awal bahwa film “Penyalin Cahaya” ini mengangkat isu kekerasan seksual, namun pesan yang disampaikan dalam film tersebut tidak secara eksplisit. Melainkan, disampaikan secara tersirat oleh sutradaranya. Penonton akan diajak untuk berpikir sejak dimulainya konflik untuk dapat menarik kesimpulan dan pesan moral yang disampaikan.
Perkembangan alur cerita membuat film ini memiliki berbagai macam sudut fokus sehingga sulit menentukan fokus utamanya. Beberapa adegan dalam film tersebut juga digambarkan secara metafora. Jika penonton tidak fokus saat menyaksikan film tersebut, maka penonton kerap merasa bosan dan bingung dengan alur cerita filmnya. Bahkan sampai di akhir cerita pun, tidak ada jawaban yang pasti tentang banyaknya tanda tanya itu yang ada di dalam cerita. Penyalin Cahaya seolah membiarkan penonton menyimpulkan sendiri apa yang sebenarnya terjadi. Namun, karena film ini mengangkat isu kekerasan seksual yang terus terjadi, sangat disayangkan bila pesan tidak bisa dijelaskan secara utuh dan tepat kepada penonton.
Sosok maskulinitas laki-laki sangat ditonjolkan dalam film ini, di mana karakter laki-lakinya demikian dominan dalam setiap tindakan yang dilakukan. Selain itu, karakter laki-lakinya juga digambarkan sebagai sosok yang jahat dan manipulatif. Baik dari teman, dosen, bahkan ayah dari korban kekerasan seksual tidak ada yang mendukung penyintas secara utuh.
Seperti halnya kejadian di dunia nyata jika ada kasus pelecehan seksual di lingkungan kampus, pihak kampus tidak mendukung penyintas yang seharusnya kampus adalah lingkungan yang aman dan nyaman untuk mahasiswanya, khususnya perempuan. Hal ini justru seolah mendiskreditkan gender tertentu, meskipun pesan bahwa pelecehan seksual bisa terjadi tanpa memandang gender benar ditampilkan.
Film ini menyadarkan sekaligus mengingatkan kita bahwa kekerasan seksual tidak selalu berbentuk eksploitasi seksual atau pemerkosaan. Penyalin Cahaya menampilkan bentuk kekerasan seksual lainnya yang terjadi karena dorongan hasrat seni sehingga seseorang merasa punya hak untuk mengintervensi tubuh orang lain tanpa konsen.
Kasus yang dialami oleh Sur dan teman-temannya yang juga menjadi korban menggambarkan pentingnya konsensual dalam interaksi, khususnya jika interaksi tersebut berkaitan dengan seksual karena hal tersebut sangat sensitif. Penyalin Cahaya menjelaskan soal akar dari kekerasan seksual oleh pelaku kepada korban adalah kekuasaan, ketimpangan kekuasaan, dan dominasi.
Penyalin Cahaya juga menggambarkan kesulitan yang dialami korban kekerasan seksual dalam mencari keadilan. Korban kerap kali dianggap berbohong karena tak memiliki bukti yang akuat dan hanya bermodalkan cerita. Justru korban dianggap mencemarkan nama baik pelaku kekerasan seksual.
Film ini juga memperlihatkan sering kali cara berpakaian korban disalahkan karena dinilai mengundang hasrat seksual untuk dilecehkan. Korban bahkan disalahkan oleh keluarganya sendiri yang seharusnya menjadi garda terdepan.
