Hanya karena cinta, lantas mematikan logika?

0
Ilustrator: Haekal Basofi

Bagi sebagian orang, cinta tak akan pernah bisa bersanding dengan logika, “jangan pake kepala kalo urusan cinta! tapi pake hati”. Saya sepakat jika cinta harusnya tidak menggunakan kepala sebagai pisau bedah-nya, akan tetapi kita juga tidak bisa begitu saja meninggalkan kecanggihan akal rasio kita. Kita perlu menggunakannya secara setara, tanpa mengunggulkan diantaranya. Padahal ada beberapa kasus dalam sebuah hubungan antara seorang pria dan wanita yang tidak melulu menggunakan hati sebagai alat prosesnya, tapi kepala juga berperan penting disana, logika namanya.

Pernah dengar bahwa menjadi budak cinta akan membuat seseorang menjadi bodoh? Itu memang benar adanya, jika seseorang hanya menggunakan hatinya, hanya menggunakan perasaanya sebagai metode untuk menyelesaikan segala permasalahan dalam urusan asmaranya. Karena pada dasarnya kita adalah bukan pembuat kebijakan yang rasional, selalu ada pengaruh emosi yang membuat pilihan-kebijakan yang kita buat tidak murni rasional. Lalu apa yang terjadi jika kita mematikan logika dalam urusan asmara? Kita akan meluncur bebas, terperosok dalam jurang kesesatan bernama cinta yang sudah saya sebutkan diawal.

Akan kuberi contoh jika kamu memilih meninggalkan logika dan hanya menggunakan hati dalam urusan asmara. Seperti kamu berhubungan dengan seseorang selama 7 tahun, lalu kehilangan ketertarikan atau perasaan dengan pasanganmu, tapi kamu enggan berpisah karena telah bersama cukup lama dan ingin mempertahankannya, atau kita andaikan kamu sedang mendekati seseorang, setelah sekian lama kamu PDKT , kamu merasa bimbang apakah perasaanmu akan diterima oleh gebetanmu?, apakah dia juga memiliki perasaan yang serupa?, apakah ia mau menjadi pasangamu? Lantas kamu dihadapkan pada pilihan untuk tetap diam dan memendam perasaanmu lantas dia tidak menjadi pasanganmu atau kemungkinan terburuknya ia akan menjadi pasangan orang lain, atau kamu memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaanmu tapi dengan resiko dia menolak perasaanmu lalu menjauh karena dia berpikir hubungan kalian canggung (baca : awkward). Jika kamu pernah merasakan kebimbangan ini maka kamu masuk pada sunk cost Fallacy.

Apa itu Sunk Cost Fallacy?

Sunk Cost Fallacy adalah sebuah kecenderungan dimana kita seringkali melanjutkan usaha dan waktu yang telah kita keluarkan, meskipun seluruh usaha dan waktu yang kita keluarkan itu lebih besar daripada manfaat yang akan kita peroleh. Konsep Sunk Cost Fallacy sendiri adalah sebuah konsep dalam ilmu ekonomi dimana biaya/usaha/waktu yang telah dikeluarkan tidak dapat ditarik kembali/refund. Namun konsep ini tidak hanya berlaku dalam aspek ekonomi atau hal-hal receh lainnya, ia juga dapat diaplikasikan dalam aspek kehidupan lainnya yang menuntut komitmen kita didalamnya, sedari itu Sunk Cost Fallacy seringkali dikaitkan dengan bias kognitif. Sunk Cost Fallacy terjadi karena emosi kita sering menyebabkan kita menyimpang dari keputusan rasional. Meninggalkan usaha setelah berkomitmen untuk seseorang akan menyebabkan perasaan negatif. Karena kita ingin menghindari perasaan negatif, kita cenderung menindaklanjuti keputusan yang telah kita keluarkan bahkan jika itu bukan demi kepentingan terbaik kita.

Mengapa kita mengalaminya?

Ada 3 faktor utama yang membuat kita mengalami Sunk Cost Fallacy, yakni :

  1. Loss Aversion

Loss Aversion adalah perasaan takut akan kehilangan, perasaan ini menjelaskan mengapa kita merasakan rasa sakit dan kecewa atas kehilangan dua kali lebih kuat daripada kesenangan atas keuntungan yang setara. Akibatnya, kita cenderung mencoba menghindari kerugian dengan cara apa pun, termasuk cara-cara yang diluar batas logika. Perasaan takut akan kehilangan adalah bias kognitif alami manusia yang dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti susunan neurologis seseorang, status sosial ekonomi, dan latar belakang budayanya. Hal ini menjelaskan mengapa semakin besar rasa cinta kita pada seseorang, kita rela melakukan apapun untuk mempertahankannya dan mencegahnya pergi, hal tersebut adalah bentuk ketakutan kita akan kehilangan sesuatu. Perasaan ini diperparah oleh bias-bias lain yang turut serta mengacaukan rasionalitas kita, ada bias pesimisme yang membuat kita mendramatisir segala kemungkinan terburuk dan membuat kita menampik kemungkinan yang bersifat optimis. Terkadang kita juga cenderung menginginkan absolute zero risk, sebuah kondisi dimana kita menginginkan tidak ada resiko sama sekali, terdengar logis bagi mereka yang memiliki perasaan takut akan kehilangan. lalu yang terakhir adalah regret aversion, sebuah kondisi dimana kita melakukan serangkain pemilihan keputusan untuk menghindari penyesalan dimasa depan, kita mencari keputusan yang menimbulkan potensi penyesalan paling kecil.

  • Commitment Bias

Commitment Bias menggambarkan ketakutan kita untuk membuat keputusan yang bertentangan dengan hal-hal yang kita katakan atau kita lakukan sebelumnya dan terjadi di depan umum. Ketika apa yang telah kita putuskan dimasa lalu mengarah pada hasil yang tidak menguntungkan, kita merasa perlu untuk membenarkannya kepada diri kita sendiri, serta orang lain. Hal ini mengakibatkan kita mengembangkan argumen untuk mendukung perilaku ini, yang dapat menyebabkan kita mengubah sikap kita terhadapnya. Salah satu bias yang masih berhubungan dengan Commitment bias adalah disonansi kognitif, sebuah teori yang mengusulkan agar kita menghindari keyakinan dan sikap yang bertentangan karena itu membuat kita tidak nyaman. Disonansi kognitif  yang terjadi biasanya ditangani dengan menolak, membongkar, atau menghindari informasi baru. Disonansi kognitif terjadi ketika ada ketegangan yang membuat kita merasa tidak nyaman, antara dua atau lebih keyakinan yang datang secara bersamaan. Hal ini sering terjadi ketika sikap dan perilaku kita tidak selaras dengan apa yang kita percaya, kita bertindak melawan keyakinan tersebut. Ketidaknyamanan yang dihasilkan memotivasi kita untuk memilih antara keyakinan dengan merasionalisasi satu dan menolak atau mendelegitimasi yang lain.Namun kita cenderung memilih keyakinan yang paling diyakini. Wajar bagi kita untuk mencari konsistensi psikologis internal, karena hal itu membentuk identitas kita.Karena kita juga memiliki batasan, Bounded Rationality namanya, menggambarkan cara manusia membuat keputusan yang berasal dari rasionalitas ekonomi yang sempurna, karena rasionalitas kita dibatasi oleh kapasitas berpikir, informasi yang tersedia dan waktu yang terbatas pula. Alih-alih membuat pilihan ‘terbaik’, kita sering membuat pilihan yang memuaskan.Bertindak sesuai dengan rasionalitas yang sempurna, mengharuskan kita untuk tidak dipengaruhi oleh bias kognitif, mengakses semua informasi dan memiliki cukup waktu untuk menghitung dan memproyeksikan manfaat serta kerugian dari setiap pilihan yang ada. Karena hampir tidak mungkin untuk membuat keputusan yang memenuhi semua faktor, pada akhirnya kita mengambil jalan pintas dan membuat keputusan yang paling memuaskan kita, bahkan jika itu bukan yang paling optimal. Dalam keterbatasan temporal dan kognitif kita, kita membuat pilihan yang terbaik dari pemahaman dan kemampuan kita, yang berarti bahwa kita masih rasional, tetapi tidak sesempurna itu.

  • Decoy Effect

Bias ini menggambarkan bagaimana preferensi orang ketika memilih antara dua opsi dengan penambahan opsi “umpan” ketiga yang relatif tidak menarik. Umpan ini didominasi secara asimetris, yang berarti itu benar-benar lebih rendah dari satu opsi dan agak lebih rendah dari yang lain. Decoy effect adalah jenis intervensi yang secara tidak sadar dapat mengubah cara kita membuat keputusan.Decoy Effect memanfaatkan sejumlah kelemahan dari proses pengambilan keputusan kita: mereka membuatnya lebih mudah untuk merasionalisasi pilihan intuitif kita, mereka membuat kita merasa kurang kewalahan oleh kelebihan pilihan, dan mereka memangsa ketidaksukaan kita untuk kalah.

Jadi, masih ragu untuk memutuskan pasanganmu?

Referensi

sunk cost | economics | Britannica

Sunk-cost fallacy and cognitive ability in individual decision-making – ScienceDirect

Loss Aversion as a Potential Factor in the Sunk-Cost Fallacy (scielo.org.co)

The Sunk Cost Fallacy Is Ruining Your Decisions. Here’s How | TIME

Kahneman, D., & Tversky, A. (1977). Prospect Theory. An Analysis of Decision Making Under Risk. doi:10.21236/ada045771

Penulis : Nurkholis Fahroni

Editor : Priska Salsabila

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.