PASIEN KE-27

“Kapitalisme mengubah cinta kasih orang tua kepada anaknya menjadi sebongkah investasi. Jika, dirasanya tidak menguntungkan, banyak hal yang harus dibayar untuk itu”
Setelah berdesak-desakan di dalam transportasi umum, akhirnya aku sampai di tempat kerja. Segera aku mengecek email dan daftar pasien hari ini. Ah, sepertinya bisa pulang lebih cepat dan pergi berkencan, pikirku.
30 menit kemudian pintu ruanganku diketuk pelan.
“Silakan masuk,” jawabku.
Identifikasi dimulai. Berjalan ke arahku seorang perempuan, wajahnya teduh, tetapi aku tau pikirannya sibuk. Tangannya sibuk digosok-gosok, mungkin dia cemas dan grogi. Atau mungkin berpikir apakah sebaiknya tidak usah melakukan ini.
“Silakan duduk di sini ya, anggap aja kaya di rumah sendiri,” aku mempersilakan dia untuk duduk.
Dia mengeluarkan sebuah buku catatan.
“Saya enggak terlalu pandai berbicara, jadi kalau di tengah cerita saya tidak bisa melanjutkan. Tolong baca bukunya.”
Suara itu yang akan kudengarkan hari ini.
Sebelum memulai sesi aku menggenggam tangannya, berusaha membangun kepercayaan dan menyalurkan keberanian.
Cerita dimulai.
“Aku kayaknya terancam ga bisa lanjut kuliah. Dengan kondisi seperti ini. Udahlah masuknya telat, terus ga bisa selesai. Rasa-rasanya sia-sia.
Banyak hal yang harus aku selesaikan dan dahulukan selain duduk, diam, kuliah, dan menunggu uang saku.
Aku harus membayar hutang keluargaku. Yang kutahu itu akan semakin membengkak karena ambil dari pinjaman online.
Masalah seperti itu ternyata kualami sendiri. Masalah yang ku lihat di media sosial, tidak jarang aku merapal doa agar jangan sampai aku mengalaminya. Ternyata.. aku alami sendiri.
Hari ini, kemarin minggu, malam-malam sialan itu . Aku terbangun, bermimpi buruk dan kembali banyak menangis.
Tidak ada lagi rumah. Tidak ada lagi mobil, tidak ada lagi sepeda motor. Tersisa rapuh dan Ibu satu-satunya pondasi penopang.
Empat adikku harus tetap sekolah
Dengan itu kuputuskan aku akan berhenti berkuliah.
Jawaban ibu juga seperti itu. Katanya, sudah seharusnya aku bekerja.
Benar-benar menyakitkan sekaligus menamparku akan posisiku yang sebenarnya.
Orang biasa kayak aku mau mimpi pun harus tau diri.
Aku akan jadi budak kapitalisme. Bekerja, digaji bekerja, digaji, lalu uangnya untuk membayar tagihan.
Semoga hidupku tetap lama.
Aku masih ingin pergi ke Australia, Korea Selatan,dan Thailand. Melihat dunia dan bahagia.
Aku berbagi karena aku tidak tahu, kesempatan apa lagi yang akan membawaku untuk bisa berbagi secara sejujur. Ke mana lagi dunia membawaku pergi. Takut dan kalut. Rasanya saat ini, aku menjadi orang yang tidak punya apa-apa, selain tagihan keluarga yang kian hari katanya makin berbunga.
Menangis pun sudah lelah. Berharap doaku sampai di telinga tuhan, sakitnya tak tertahan. Ibu yang makin diam, aku pun tau beban yang menghimpit dadanya.
Kalau keadilan adalah serpihan cermin dari tuhan, maka beling yang ku genggam itu tajam. Melukai kehidupanku, mimpiku, dan keluargaku.
Di mana peran laki-laki di keluarga ini?
Entahlah, aku juga tak sempat mencarinya. Terlambat untuk menyudahi yang menyakiti. Di mana pertolongan tuhan itu?
Entahlah aku merasa ini adalah hukuman.
Untuk yang kesekian kalinya, dunia menempatkanku pada titik yang sama. Dan aku tidak terbiasa, aku tidak sadar, dan aku tidak belajar.
Kasihani saja
Aku pun Kasihan menatap wajahku.”
***
Suaranya bergetar, tangannya semakin erat menggenggamku. Detik selanjutnya bahunya terguncang, dilepasnya tangannya, menangis.
Menangis dengan tangan menutupi wajahnya.
Mematuhi permintaannya di awal. Aku meminta persetujuan terakhir kali untuk membaca buku catatannya.
Dia mengangguk sembari menangis.
***
Halaman pertama.
Jakarta, kemarin sore. 15 Januari 2023
Meletakkan batang rokokmu yang entah sudah keberapa.
Lalui malam Ini dengan damai.
Kemudian, Kamu melesakkan tubuhmu, ke dalamku.
Gelap terang mataku.
Aku dosa
Kamu dosa
Kita pendosa
Halaman kedua.
Cloud Senopati, 14 Februari 2023
Malam, sudah saatnya.
Cahaya tak sempat masuk ke tempat ini.
Hanya kelap-kelip lampu berwarna kuning dan merah.
Wajahku merah, katanya.
Jari-jari ditautkan, kemudian dilepaskan.
Jari-jarinya berjalan dan menetap di satu tempat
Tepat saat cahaya kuning di atas wajahnya
Ia melesakkan tubuhnya ke arahku
Suaranya mengisi telingaku
Matanya menembus jiwaku
Neraka mana lagi yang akan kita sembah, sayang? Ucapmu
***
Berlembar-lembar berikutnya juga neraka, untukku. Membaca buku catatannya seperti menguliti hidup. Bagaimana menjadi perempuan di tengah dunia yang gila ini?
Di mana letak belas kasih tuhan? Jika roda manusia itu berputar, lantas hidup seperti ini apakah masih layak untuk dijalani?
Gadis ini tak hanya kehilangan marwahnya, ia kehilangan sosok yang memberikan neraka itu, dan sekarang harus menanggung masalah ekonomi ini.
Ia pasti tak pernah mampu bercerita ini kepada teman ataupun keluarga. Sebab di negeri ini pengalaman korban dianggap sebagai aib. Sebab masyarakat di sini akan berpikir kejadian itu suka sama suka, apalagi berkali-kali berarti itu bentuk menikmati kenikmatan. Keberanian pasien untuk tetap hidup sangatlah patut diapresiasi.
Hening sesaat, menyisakan suara jam yang berdenting.
Jakarta tiba-tiba hujan deras selama klienku bercerita. Entah daerah mana yang kali ini kebanjiran. Menjalani profesi sebagai psikiater dan mendengar berbagai macam cerita tidak lantas membuatku terbiasa. Aku masih sering terikat emosional yang kuat dengan klien. Hal yang seharusnya ditanggapi dengan rasional. Dan kali ini, kemanusiaanku sangat diuji.
Negara yang tidak peduli, negara yang tidak peka akan melangenggkan kemiskinan struktural, pendidikan yang mahal, dan hidup menjadi perempuan di sana akan terasa sangat menyiksa.
Akhir dari sesi ini adalah aku ikut menangis dan memeluknya. Tidak lagi peduli akan harus pulang cepat dan rencana berkencan.
Penulis: Rizka Farah Sabila* (kontribusi pembaca)
*Rizka Farah Sabila adalah mahasiswa berzodiak Aquarius. Sekarang ia berkuliah di jurusan Ilmu Politik angkatan 2025
