WAKIL REKTOR IV TEGASKAN UB TIDAK BERENCANA MEMBUKA SPPG
Sumber: kanal24.co.id
MALANG-KAV.10 Wakil Rektor IV Bidang Perencanaan, Kerjasama, dan Internasionalisasi—Andi Kurniawan, membantah bahwa Universitas Brawijaya (UB) akan mendirikan unit Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di dalam kampus. “Tidak ada planning sama sekali UB itu buka SPPG. Universitas dalam arahan Pak Rektor juga disampaikan memang tidak boleh membuka SPPG,” tegasnya pada Senin (24/8).
Meskipun menyangkal rencana pembukaan SPPG, ia menjelaskan bahwa UB sebagai lembaga pendidikan tinggi tetap berkewajiban melakukan kajian-kajian ilmiah terhadap semua fenomena yang ada di masyarakat, tak terkecuali MBG. “Dalam artian, UB berkewajiban untuk melakukan kajian-kajian terhadap semua fenomena yang ada di masyarakat dan berkewajiban juga memberikan memberikan telaah dan pendapatnya,” terangnya.
Andi menambahkan bahwa keterlibatan kampus sejauh ini hanya sampai pada pengkajian dan diskusi tentang Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan beberapa pihak, tanpa menetapkan tenggat waktu tertentu. “UB sudah memulai berdiskusi dengan beberapa pihak. Salah satunya Pemerintah Kabupaten Malang (Pemkab Malang), kemudian juga perwakilan dari Badan Gizi Nasional (BGN) yang secara informal juga datang,” jelas Andi.
Ia menekankan bahwa kontribusi kampus difokuskan pada penerapan ilmu pengetahuan dan inovasi teknologi yang dimiliki sivitas akademika untuk mengoptimalkan program nasional tersebut. “Program ini dilakukan, punya budget, dan programnya akan berjalan. Kampus punya apa [inovasi dan teknologi] yang bisa diaplikasikan. Misalnya, teman-teman riset punya aplikasi yang bisa menghitung kandungan gizi makanan dari foto. Kampus harus berkontribusi, begitu jadi wilayahnya [peran perguruan tinggi],” tutur Andi.
Sebab itu, Andi menekankan agar program MBG tidak dipandang secara sempit. “Sehingga MBG itu diskusikan tidak boleh hanya dipandang sebagai satu program memberi makan siang saja. Tapi harus sebagai satu konsep pembangunan yang membantu menggerakkan kan perekonomian terutama UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah),” terang Andi.
Menanggapi adanya gelombang pro-kontra mahasiswa terhadap pengelolaan MBG, ia menilainya sebagai bentuk iklim akademik yang sehat di lingkungan kampus. “Saya mengapresiasi mahasiswa tidak hanya sibuk dengan perkuliahannya, tapi juga membedah fenomena masyarakat. Mahasiswa harus kritis, bagian dari agent of change,” pungkas Andi.
Penulis: Na’ilatul Najmi Alifsya
Editor: Fenita Salsabila
