SALAM KELAM SILAM DAN PUISI LAINNYA

Salam Kelam Silam
Petang menjelma
Lukisan di jalan-jalan
Yang tersorot lampu kota
Debu menyelinap di kalbu
Usang dan berlumur tinta
Masa lalu yang pilu.
Pecahkan malam
Bulan terkam daksa
Berpijak dan beranjak
Dari yang silam menuju
Kelam; tergantung di jarum jam
Mematung suram.
Sedang nadi berdetak-detik
Berlari hari sampai letih
Merangkak di dahi
Bernapas api lekas mati
Mawar rekah dalam tidur
Yang gigil.
Jakarta, 2026
El Diablo
Darah menetes
Dari gadis telanjang
Yang lirih di atas altar
Nadinya bernada
Nyanyian tak bersuara
Hening mencekam
Tertawa waktu malam
Tanduk dan taring
Terbit dari rahimnya
Menjerit dan menjelma
Babi, gagak atau domba
Berupa-rupa dia berubah.
Rambut hitam kusut
Mengering dan telapak tangan
Kejang menahan guntur meniti
Detak jantung yang mulai letih
Biar mati di depan awan
Yang merintih.
Hujan menari deras
Angin melambai tak waras
Basuh keringat dan darah
Dari daksa yang rengat!
El Diablo! Gantung jiwa
Di pundakmu yang jemawa!
Beri gadis itu mahkota
Terbuat dari api dan permata!
Jakarta, 2026
Melati, Bulan, dan Api
Menciuminya dalam
Seperti melati yang rekah
Dan embun menimbun
Dengan dingin yang gagah
Lembut dan padat
Bangkit segenap api
Membakar mata dan hati
Berkeliaran dan jeli
Menangkap setiap desah
Yang memantik geli.
Kembali
Tak mau pergi
Selalu lepas kendali
Ingin lagi menikmati
Malam menyelimuti
Bulan tercecer di dada
Kehangatan sempurna
Sinar lampu genit
Menyenggol badan
Sampai rayuan
Merangkum tiap kedipan
Kembali
Tak mau pergi
Selalu lepas kendali
Ingin lagi menikmati.
Jakarta, 2026
Hati di Pinggir Jalan
Kutemukan hati di pinggir jalan
Berdarah dan terkapar tanpa
Ada yang memberi arti
Kehujanan kekeringan kematian
Silih berganti menyapa.
Sudah merenungi langkah kaki
Orang-orang sibuk sendiri meratapi
Diri yang tak kunjung menjadi
Gedung-gedung tinggi
Tak menjelma kepak sayap merpati
Yang bebas terbang sana-sini.
Lebih sering pandang ampas kopi
Dan sampah yang dikunyah sudah seringkali
Memenuhi bibirnya yang ucap janji-janji.
Nestapa datang dari langit mendung
Dan terus mendang kepala yang tak lagi kuasa
Untuk membendung segala asa; teronggok
Menjadi bangkai terinjak-injak masa.
Jarang memandang gubuk-gubuk dan alas
Kardus untuk tidur di tengah udara jalan
Yang kejam.
Jarang melihat luka dari senyum manusia
Terlunta-lunta menapaki tanah
Berlumur keringat dan nanah.
Jakarta, 2026
Punk Rock dalam Puisi
Bernyanyi dan menjerit kikis batu-batu
Yang satu per satu mengerdil dalam diri
Seorang pecundang; dalam napasnya mengandung
Api kebebasan berkelana dari mata ke mata
Mencari gairah yang membara.
Melepas rantai yang mencekik leher
Mengekang kaki untuk bertualang dalam
Rimba penuh ular dan merpati
Tanpa cemas hidup atau mati
Merasa detak jantung berpuisi.
Ketika lelah tiba dan berdentang
Dalam dahaga yang tandus.
Biar air mata dari suka duka
Menjadi pemuas
Menjadi oase dalam gersangnya
Padang pasir.
Selepas malam hadir membawa mimpi
Sejenak angan menjadi angin yang berbisik
Sejuk merasuk di kepala menjejaki pikiran
Dengan lembut dan khusuk.
Jakarta, 2026
Penulis: Ardhi Ridwansyah (kontribusi pembaca)
