SALAM KELAM SILAM DAN PUISI LAINNYA

0
“Gloomy Day. Muranovo in The Summer” karya Igoshev V. A.

Salam Kelam Silam

Petang menjelma  
Lukisan di jalan-jalan 
Yang tersorot lampu kota 
Debu menyelinap di kalbu 
Usang dan berlumur tinta 
Masa lalu yang pilu. 

Pecahkan malam
Bulan terkam daksa
Berpijak dan beranjak 
Dari yang silam menuju 
Kelam; tergantung di jarum jam 
Mematung suram. 

Sedang nadi berdetak-detik
Berlari hari sampai letih
Merangkak di dahi 
Bernapas api lekas mati
Mawar rekah dalam tidur
Yang gigil. 
Jakarta, 2026

El Diablo

Darah menetes 
Dari gadis telanjang 
Yang lirih di atas altar 
Nadinya bernada 
Nyanyian tak bersuara 

Hening mencekam 
Tertawa waktu malam 
Tanduk dan taring 
Terbit dari rahimnya
Menjerit dan menjelma
Babi, gagak atau domba 
Berupa-rupa dia berubah. 

Rambut hitam kusut 
Mengering dan telapak tangan 
Kejang menahan guntur meniti
Detak jantung yang mulai letih 
Biar mati di depan awan 
Yang merintih. 

Hujan menari deras 
Angin melambai tak waras 
Basuh keringat dan darah 
Dari daksa yang rengat! 

El Diablo! Gantung jiwa
Di pundakmu yang jemawa! 
Beri gadis itu mahkota 
Terbuat dari api dan permata! 
Jakarta,  2026

Melati, Bulan, dan Api

Menciuminya dalam 
Seperti melati yang rekah 
Dan embun menimbun 
Dengan dingin yang gagah

Lembut dan padat 
Bangkit segenap api 
Membakar mata dan hati 
Berkeliaran dan jeli 
Menangkap setiap desah 
Yang memantik geli. 

Kembali 
Tak mau pergi 
Selalu lepas kendali 
Ingin lagi menikmati 

Malam menyelimuti 
Bulan tercecer di dada 
Kehangatan sempurna 
Sinar lampu genit 
Menyenggol badan 
Sampai rayuan 
Merangkum tiap kedipan

Kembali 
Tak mau pergi 
Selalu lepas kendali 
Ingin lagi menikmati. 
Jakarta, 2026

Hati di Pinggir Jalan

Kutemukan hati di pinggir jalan 
Berdarah dan terkapar tanpa 
Ada yang memberi arti
Kehujanan kekeringan kematian 
Silih berganti menyapa. 

Sudah merenungi langkah kaki 
Orang-orang sibuk sendiri meratapi 
Diri yang tak kunjung menjadi 
Gedung-gedung tinggi 
Tak menjelma kepak sayap merpati 
Yang bebas terbang sana-sini. 

Lebih sering pandang ampas kopi 
Dan sampah yang dikunyah sudah seringkali 
Memenuhi bibirnya yang ucap janji-janji. 

Nestapa datang dari langit mendung 
Dan terus mendang kepala yang tak lagi kuasa 
Untuk membendung segala asa; teronggok 
Menjadi bangkai terinjak-injak masa. 

Jarang memandang gubuk-gubuk dan alas 
Kardus untuk tidur di tengah udara jalan 
Yang kejam. 

Jarang melihat luka dari senyum manusia 
Terlunta-lunta menapaki tanah 
Berlumur keringat dan nanah. 
Jakarta, 2026

Punk Rock dalam Puisi

Bernyanyi dan menjerit kikis batu-batu 
Yang satu per satu mengerdil dalam diri 
Seorang pecundang; dalam napasnya mengandung 
Api kebebasan berkelana dari mata ke mata 
Mencari gairah yang membara. 

Melepas rantai yang mencekik leher 
Mengekang kaki untuk bertualang dalam 
Rimba penuh ular dan merpati
Tanpa cemas hidup atau mati 
Merasa detak jantung berpuisi. 

Ketika lelah tiba dan berdentang 
Dalam dahaga yang tandus. 
Biar air mata dari suka duka 
Menjadi pemuas
Menjadi oase dalam gersangnya 
Padang pasir. 

Selepas malam hadir membawa mimpi 
Sejenak angan menjadi angin yang berbisik 
Sejuk merasuk di kepala menjejaki pikiran 
Dengan lembut dan khusuk. 
Jakarta, 2026

Penulis: Ardhi Ridwansyah (kontribusi pembaca)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *