PERJALANAN SETENGAH MATA DAN PUISI LAINNYA

0
“Closed” karya Tatyana Mikhailik

Perjalanan Setengah Mata

waktu itu di perbatasan kota lama,
aku mulai mengenalmu
ada bola mata yang mengering
dan hinggap di atas jantung kota,
semuanya menyatu

Seperi lembayung, yang hinggap di alis
semesta
kemudian dengan pelan, kau mulai
membasuh waktu dengan air yang kau
ambil dari kefanaan

“pada dasarnya waktu adalah rindu, yang
diperam oleh jarak separuh windu”
katamu, kata kata berpaling
tertinggal pada sepasang mata yang kelabu

ia berkejaran,
layaknya kumbang yang saling
menangkap,
memohon agar Kamboja memberinya
kesempatan
walau itu hanya sepercik debu

ada bait bait yang semuanya
kuukir di kelopak matamu
ia kemudian menjelma kutukan,
selagi kedua matamu belekan.

namun kamu mencoba menghapusnya,
seperti kata kata yang kehilangan arah
ia menolak berkencan,

sebelum tangan lancang mu menarikku
kembali ke perbatasan itu, ia lebih dulu
menancapkan kata yang turun menjadi
bulir air mata
menjelma menjadi mantra yang abunya
kau simpan di saku waktu

Dia Lebih Dekat dari Urat Nadiku

Genggamlah lumpur ini Tuhan
Yang remuk
Yang hancur
Yang hina
Seperti aku yang mencair di bawah payung
firman Mu
Menjadi bening dalam cahaya kasih-Mu,

Genggamlah kepingan jiwaku Tuhan
Yang tercecer di persimpangan
Kebrutalan iblis dan labirin tipu daya
nurani
Menjadi debu yang tak lagi mengenal
angin.

Duh Gusti!
Kami adalah sekumpulan lalat yang
kehilangan sayap
Hilang arah tapi arogan
Mungkinkah engkau sudi Tuhan
Mengembalikan sayap kami dan menuntun
kembali jalan pulang?

Demi jiwaku yang ada di dalam
genggaman Nya
Dan noktah rindu yang menggebu
Dalam sujud di sepertiga waktu
Ku rasakan, duhai pemilik Cahaya fajar
Mata air cinta yang Kau curahkan
Mengaliri dahaga iman yang gersang oleh
kefanaan

Tuhan, pantas tak kutemukan Engkau
Pada kedangkalan akal ku, karena
sejatinya
Engkau lebih dekat dari urat nadiku

Sekolah Kami Adalah Kebun Sawit

Raut polos itu
Telah membenamkan duka
Pada busung laparmu
Pada langkah rakitismu

Berpuluh-puluh tahun
Kami diajak bermain
Oleh tikus-tikus tuanku
Yang berkeliaran
Di buku pelajaran, di angan-angan,
dan di Tanah kami

Cita cita dan mimpi
Yang kami perjuangkan
Adalah getir darah ibu Pertiwi
Diteteskannya ia
Pada nisan pendahulu kami

Soewardi menangis dalam liang
Menadah peluh yang diperas
Dari tangan anak bangsa
Yang baca dan tulis
Menjadi asing baginya

Sekolah kami
Adalah mata air ilmu
Yang mengairi perkebunan sawit

Sehingga sawah bapak meranggas
Dan ibu menjerit
Sebab harga minyak goreng
Semakin melejit

Tuhan, inikah hidup
Yang sarat makna?
Bintang-bintang telah kehilangan
astronomi
Pohon-pohon dan ular terenggut dari
biologi

Kami telah lama Tuan
Meneguk kebodohan
Dari sumur-sumur kering
Yang mengalirkan belati air mata
Dan menancapkannya
Pada dada yang merdeka

Penulis: Maulida Hilyaturahma (anggota magang)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *