ORANG-ORANG DI KERUMUNAN DAN PUISI LAINNYA

Orang-Orang di Kerumunan
Kerumunan itu datang layaknya poyan
yang tersesat dari selebaran musim hujan
yang kita tahu:
ㅤㅤㅤini kali kesekian dunia ‘tak tahu waktu
ㅤㅤㅤdan dalam hidup kita:
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤhanya ada seonggok saja
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤorang-orang yang melihatnya.
Orang-orang itu berzirah napas
yang terus merongrong dalam suar
dalam asap dan dalam luka yang
perlahan semakin terkelupas
tanya mereka:
ㅤㅤㅤ“akankah ini waktu kita bisa berdoa?”
ㅤㅤㅤsebab tubuh mereka terbakar
ㅤㅤㅤoleh dosa kesewenang-wenangan.
Pada suatu pertemuan, 2026
Secarik Surat yang Ditinggal Seorang Pemimpi sebelum Terlelap Selamanya
1: Surga
(dalam doa) Telah kuputuskan
untuk menjemput impian-impian
yang takkan sesuai inginmu
bagi seorang pelamun sepertiku.
Tapi (surga)
biarkanlah satu cahaya menderap
karena impianku disembunyikan: dalam gelap.
Kau adalah segala yang menjadikanku
ㅤㅤㅤ: anak
aku pernah dan akan selalu menjadikanmu:
ㅤㅤㅤ: ibu
2: Dunia
(dalam doa) Telah kuputuskan
Untuk meninggalkan pijakan-piajkan
kakiku yang mencumbu tanahmu.
Maka (dunia)
jadikanlah lantaimu dingin
agar jejakku abadi di tanganmu
sebagai penyambut
ㅤ: tamu
Impianku pergi—jauh
3: Neraka
Maka takkan kau jadikan aku
lebih jauh dari
ㅤㅤㅤ: orang asing
Sebab engkaulah yang lebih suka
menyimpan orang-orang
yang menurutmu
ㅤㅤㅤ: pendosa
Di atas ketinggian, 2026
Urup
Semai-semai itu terasa seperti
kumpulan ladang rumput yang
harum baunya semerbak.
Seperti pertama kali tapi kau
Sangat mengenal segala yang
kau rasakan.
Kau berjalan ke tengahnya
kau dapati orang lalu lalang
terasa kau semakin membenci
keriuhan yang terjadi.
Sebetulnya bukan yang pertama
seperti telah ribuan hari kau
merasakannya.
Tatapanmu semakin menyentak
tanganmu mengepal—amarah—meledak
segala semerbak, segala yang kau kenal
tersentak dalam dua-tiga lamat-lamat kata.
Tapi kau terjatuh menatap langit
yang membuatmu meninggalkan
segalanya.
Pada suatu mimpi, 2026
Sebatang Rokok untuk Penjaga Lapas
Kau menutup pintu
seakan ajal yang menjemputmu
karena menurutmu:
hidup yang kau simpan
lebih berharga daripada
hidup orang mati
yang terbaring di kolong jembatan
di kamar infus dan di pelataran.
Kau makan hidangan
seolah perutmu belum pernah kenyang
seolah sarapanmu bukan hasil rampasan
atau anggurmu bukan buah curian.
Tapi kau terus merambas
(kami) orang-orang yang mati kelaparan.
Kau bangun di bawah sinaran lampu
yang penuh kemewahan dan kesunyian
saat tanah dan bumi manusia
disiksa api, debu dan jeritan.
Kami mati dalam doa: dalam napas
yang terus kau hirup
ketika kau makan
: agar kau tersedak
hingga tertidur
: dan melihat dirimu
terbangun di antara orang mati.
Jumat Pon, 2026
Penulis: Johannes C. Marbun (kontribusi pembaca)
