Aroma biji kopi dan denting cangkir porselen menyambut siapa saja yang melangkahkan kaki mereka ke UB Coffee sore itu. Meja dan kursinya tertata begitu presisi, membentuk barisan anggun dalam naungan desain modern. Susunan itu dapat begitu mudah memanjakan mata sesiapa yang melihatnya. 

Sinar matahari sore memantul pada permukaan mejanya, membiaskan cahaya keemasan, menggambarkan kemewahan. Tak ada sampah tersisa yang cukup lancang untuk merusak estetikanya. Sekalipun terlihat jejak keberadaan manusia di sana, yang tertinggal ialah piring-piring kaca dan gelas bernoda kopi dari sisa-sisa sajian lezat yang meninggalkan kesan kelas atas.

Pendar hangat lampu gantung pada tiap sudut kian menyempurnakan suasana, menggantikan senja yang mulai redup. Pada salah satu sudutnya, dua mahasiswa tampak menikmati seruputan kopi, sembari memetik senar gitar dengan begitu santai. UB Coffee berdiri bak etalase sempurna milik Brawijaya Multi Usaha, memesona pengunjungnya dengan fasilitas yang tak bercela. 

Sementara di sudut kampus lainnya, Kantin Creative Land—atau yang akrab disapa CL, memamerkan suasana yang bertolak belakang. Meja kayu yang berdiri di sana nampak begitu merana, kehilangan pasangan kursinya yang telah beredar entah ke mana. Barisannya tak pula presisi, barangkali tergerus ribuan langkah mahasiswa yang datang dan pergi tanpa henti. 

Matahari sore menyoroti tempat ini dengan cara yang sama dengan tempat sebelumnya. Namun, pancaran hangat sinar itu tak mampu menyulap barisan kursi menjadi mewah, justru memperjelas bungkusan plastik bekas makanan dan gelas sekali pakai yang tertinggal di atas meja. Sampah-sampah itu menumpuk, mengantre untuk dibersihkan layaknya mahasiswa mengantre untuk makanan. 

Meski begitu, tempat ini tetap menjadi detak kehidupan kampus yang berdenyut paling kencang. Ratusan mahasiswa berkumpul saban hari, bersaing dengan sesamanya—atau mungkin dengan sampah yang menumpuk di antara mereka, demi menyuap makanan di sela-sela perkuliahan. 

Kedua tempat ini, baik UB Coffee maupun Creative Land, sejatinya lahir dari rumah yang sama, Brawijaya Multi Usaha. Pun bergerak di ranah kuliner yang serupa pula. Tetapi Creative Land—yang justru menjadi tumpuan utama riuh mahasiswa, tampak luput dari perhatian fasilitas yang setara. Sebuah gambaran kecil tentang bagaimana dua ruang milik kampus dapat diperlakukan dengan skala prioritas yang begitu berbeda. 

Fotografer: Aulia Hasti Zalika R.
Penulis: Aulia Hasti Zalika R.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *